Monday, 15 Zulqaidah 1441 / 06 July 2020

Monday, 15 Zulqaidah 1441 / 06 July 2020

Aturan New Normal KRL: Balita Dilarang Naik, Lansia Dibatasi

Selasa 02 Jun 2020 18:38 WIB

Red: Andri Saubani

Petugas keamanan memberi himbauan untuk mengatur jarak antar penumpang di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (2/6/2020). PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) akan  menyiapkan protokol kesehatan menghadapi tatanan normal baru untuk diterapkan ke pengguna dan petugas Kereta Rel Listrik (KRL)

Petugas keamanan memberi himbauan untuk mengatur jarak antar penumpang di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (2/6/2020). PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) akan menyiapkan protokol kesehatan menghadapi tatanan normal baru untuk diterapkan ke pengguna dan petugas Kereta Rel Listrik (KRL)

Foto: ANTARA/Fakhri Hermansyah
PT KCI menyiapkan tiga tahapan operasional KRL pada masa new normal.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Antara, Haura Hafizhah

Baca Juga

Kereta commuter atau yang biasa dikenal dengan kereta rel listrik (KRL) yang melayani perjalanan lintas Jabodetabek selama ini dikenal sebagai moda transportasi terpadat. PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) pun menyiapkan tahapan operasional hingga aturan demi menyambut tatanan normal baru (new normal) saat pandemi Covid-19.

Direktur Utama PT KCI Wiwik Widayanti menyatakan, pihaknya menyiapkan tiga tahapan pola operasional KRL, meskipun masa berlaku kebijakan belum ditetapkan. Wiwik menyatakan, masa berlaku pola operasional KRL belum ditetapkan karena pihaknya masih menunggu evaluasi penerapan PSBB serta pembahasan bersama pemerintah pusat maupun daerah.

“Kami sudah mengusulkan tahapan operasi new normal, namun masa berlakunya belum ditetapkan, karena masih menunggu evaluasi PSBB selama ini dan ada pembahasan dengan pemerintah pusat maupun daerah,” katanya dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (2/6).

Wiwik mengatakan, untuk tahap pertama skema pola operasinya adalah jumlah KRL yang jalan sebanyak 770 sampai 783 kereta dengan loop 88, jumlah penumpang 80 orang per kereta, serta jam operasional mulai pukul 04.00 hingga 18.00 WIB.

“Tahap pertama adalah tahap adaptasi karena ada PSBB yang selesai pada 4 Juni, ada yang masih melaksanakan PSBB sampai 14 Juni kalau tidak salah Tangerang,” ujarnya.

Skema pola operasi tahap kedua adalah jumlah KRL yang jalan sebanyak 885 hingga 900 kereta dengan loop 88, jumlah penumpang 102 orang per kereta, dan jam operasional mulai pukul 04.00 sampai 20.00 WIB.

“Di tahap kedua kami rencanakan menambah kereta yang jalan karena kemungkinan jumlah penumpang semakin meningkat seiring dibukanya beberapa kegiatan bisnis di DKI Jakarta,” kata Wiwik.

Skema pola operasi tahap ketiga adalah jumlah KRL yang jalan sebanyak 991 sampai 1.001 kereta dengan loop 88-90, jumlah penumpang 140 orang per kereta. Dan jam operasional mulai pukul 04.00 hingga 24.00 WIB.

VP Communication PT KCI Anne Purba dalam keterangan tertulisnya, Selasa, menyatakan, aturan terhadap penumpang KRL akan diterapkan mulai 8 Juni 2020 sebagai masa transisi menuju fase normal baru. Pada aturan baru itu, anak berusia di bawah lima tahun (balita) untuk sementara dilarang naik KRL hingga lanjut usia (lansia), termasuk para pedagang dengan barang bawaan pada jam sibuk layanan.

"Mengingat adanya potensi kepadatan pengguna KRL pada jam sibuk, maka bagi lansia hanya diizinkan untuk naik KRL pada pukul 10:00 hingga 14:00 WIB,” kata Anne.

Anne mengatakan, pembatasan layanan bagi pedagang dengan barang bawaan juga diterapkan di jam yang sama dengan aturan yang diterapkan bagi penumpang lansia yaitu pukul 10.00-14.00 WIB.

"Aturan ini di buat karena barang dagangan yang dibawa dapat menggunakan ruang yang seharusnya dapat diisi oleh pengguna KRL lainnya dan dapat mempersulit kondisi jaga jarak fisik di dalam KRL," kata Anne.

Sedangkan, aturan larangan sementara bagi anak-anak balita dikeluarkan oleh KCI mengingat kondisi fisiknya yang rentan terpapar virus. Anak-anak juga dinilai tidak memiliki kepentingan mendesak untuk keluar dari rumah dengan menggunakan transportasi publik seperti KRL di tengah situasi pandemi Covid-19.

Meskipun demikian, katanya, bila ada kepentingan yang sangat mendesak bagi balita maupun lansia untuk naik KRL antara lain untuk mendapat perawatan medis rutin ke rumah sakit, maka penumpang dapat berkomunikasi dan menjelaskan keperluan tersebut kepada petugas di stasiun. Anne berpesan meski kenormalan baru secara bertahap akan dilakukan, maka kepada masyarakat jika memungkinkan bekerja dari rumah lebih disarankan.

Pada pekan lalu, Anne sempat menyatakan bahwa, selama PSBB, PT KCI telah mengeluarkan imbauan kepada penumpang agar tidak berbicara langsung maupun lewat telepon selama melakukan perjalanan dalam kereta.

“Saat ini yang sudah disampaikan adalah imbauan kepada seluruh pengguna untuk tidak berbicara secara langsung maupun melalui telepon seluler karena salah satu penularan virus corona tipe baru melalui droplet atau cairan yang keluar dari saluran mulut dan hidung saat batuk, bersin, maupun berbicara,” kata Anne dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (28/5).

KCI menurut Anne, akan tetap menjalankan protokol kesehatan. Semua orang wajib menggunakan masker selama berada di area stasiun dan di dalam KRL. Selain itu, terdapat pemeriksaan suhu tubuh penumpang dan penerapan jaga jarak sesuai dengan marka-marka yang ada di area stasiun ataupun kereta.

Untuk makin memungkinkan kondisi jaga jarak ini, menurut Anne, pada waktu-waktu tertentu, saat padat pengguna, akan ada penyekatan di sejumlah titik stasiun sehingga jumlah orang yang berada di peron dan di dalam kereta dapat terkendali. Bila diperlukan, petugas juga melakukan buka tutup pintu masuk stasiun.

Berdasarkan pengakuan beberapa penumpang kepada Republika, kondisi KRL saat ini beragam. Ada jalur di mana penumpang padat, ada juga yang masih sepi lantaran masih berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Pengguna KRL sekaligus karyawan di salah satu perusahaan Bank di Jakarta bernama Septi Sahara (24) mengatakan saat ia naik kereta dari stasiun Sudimara pada hari ini pukul 06.00 WIB dan sampai ke stasiun Palmerah pada pukul 06.40 WIB, gerbong dan stasiun terlihat sepi dan semua penumpang mentaati protokol kesehatan Covid-19 seperti menggunakan masker.

"Kirain hari ini bakal ramai di kereta. Tahunya masih sepi sih. Pada pakai masker juga dan saya kan di gerbong wanita itu pasti duduknya berjarak. Ya mereka pada diam saja. Wajahnya seperti ingin cepat sampai ke tujuan," katanya kepada Republika, Selasa (2/6).

Kemudian, ia melanjutkan saat sampai di stasiun Palmerah pun situasi stasiun tetap aman dan terdapat saran untuk mencuci tangan dan hand sanitizer. "Aman saja sih tidak terlalu ramai dan disediain juga untuk cuci tangan," kata dia.

Berbeda dengan Septi, menurut salah satu penumpang KRL dari stasiun Depok ke Bogor bernama Ratih Melly (25) mengatakan, ia tetap berdiri dan berdesakan sesama antarpenumpang, pada Selasa.

"Pas berangkat tadi dari Depok ke Bogor area stasiun padat banget dan di dalam keretanya juga. Kalau pulang juga sama nih sekitar 17.00 WIB. Apalagi pas keluar dari gerbong kereta mau enggak mau berdesekan," kata Ratih, Selasa (2/6).

Menurutnya, paling ramai itu saat di stasiun Bogor. Para penumpang, kata dia, menumpuk karena kereta yang berangkat bergantian.

"Ya adanya peraturan physical distancing enggak ngaruh banget sih. Kesadaran diri saja," kata dia.

Ia menambahkan di gerbong umum kereta api, penumpang pria mau pun wanita berdesakan karena padatnya penumpang tidak ada ruang lagi buat mereka untuk berjarak. "Kalau gerbong yang umum tuh lebih padat penumpangnya berdesakan semua bahkan dekat sekali jaraknya," kata dia.

photo
Infografis Daftar Daerah yang akan Terapkan New Normal - (Infografis Republika.co.id)

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA