Sunday, 19 Zulhijjah 1441 / 09 August 2020

Sunday, 19 Zulhijjah 1441 / 09 August 2020

Studi: Penduduk AS Banyak Depresi Akibat Pandemik

Selasa 02 Jun 2020 15:41 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Nora Azizah

Studi tunjukkan sepertiga orang AS alami tanda-tanda kecemasan klinis dan depresi (Foto: ilustrasi depresi)

Studi tunjukkan sepertiga orang AS alami tanda-tanda kecemasan klinis dan depresi (Foto: ilustrasi depresi)

Foto: Pxhere
Studi tunjukkan sepertiga orang AS alami tanda-tanda kecemasan klinis dan depresi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandemik Covid-19 menimbulkan banyak perubahan di dunia. Tidak hanya kesehatan fisik, kini juga ditemukan gangguan mental akibat wabah yang mulai merebak sejak akhir tahun lalu itu.

Kevin Gilliland, seorang psikolog klinis, melihat peningkatan kebutuhan bantuan dari pasien lama maupun baru. Ada lebih banyak orang yang membutuhkan nasihat dan bimbingan di tengah pandemi.

"Kamu memiliki perasaan terisolasi dan kesepian seperti yang belum pernah kamu miliki sebelumnya. Kesehatan psikologis semua orang telah terpukul," kata dia.

Beberapa faktornya, termasuk mereka yang ditinggalkan korban tertular virus, menjadi pengangguran, masalah keuangan, kecemasan tentang masa depan. Alasan yang mungkin tampak kecil, tetapi memiliki efek yang signifikan, termasuk peningkatan isolasi dan hilangnya rutinitas maupun acara yang diharapkan.

Dilansir laman People, Selasa (2/6), studi terbaru menunjukkan sepertiga orang Amerika mengalami tanda-tanda kecemasan klinis dan depresi. Hal ini berdasarkan data baru yang dikumpulkan oleh Pusat Statistik Kesehatan Nasional (NCHS) dalam kemitraan dengan Biro Sensus.

Pengumpulan data, yang dimulai pada 23 April tersebut dan akan berlanjut selama 90 hari ke depan itu dikumpulkan dalam bentuk survei online 20 menit yang disebut Survei Denyut Rumah Tangga. Eksperimen ini dilakukan untuk memberikan informasi yang relevan tentang dampak krisis kesehatan global di AS.

Peserta ditanya seberapa sering mereka merasa terganggu atau kurang berminat hingga senang melakukan sesuatu. Temuan antara 23 April dan 19 Mei melaporkan sekitar 30 persen orang Amerika mengalami gejala gangguan kecemasan dan hampir 24 persen mengalami gejala gangguan depresi akibat wabah Covid-19.

Pada peserta yang berusia antara 18 hingga 29 tahun, 42 persen dari mereka melaporkan gejala kecemasan dan 36 persen dari mereka mengalami gejala depresi. Sementara orang yang lebih tua lebih berisiko mengalami komplikasi dari virus, hanya 11 persen orang Amerika berusia 80 dan lebih tua melaporkan gejala kecemasan dan 9 persen melaporkan gejala depresi.

Data juga menunjukkan bahwa penduduk Mississippi mengalami jumlah gejala kecemasan dan depresi tertinggi di semua negara bagian di AS dengan lebih dari 40 persen. Survei ini juga mengukur dampak pandemi pada pekerjaan, keuangan rumah tangga, pendidikan dan kesehatan. Dalam rilis data terbaru, 1 juta rumah tangga dihubungi antara 7 dan 12 Mei, dan lebih dari 42.000 telah merespons.

"Yang mengkhawatirkan adalah efek dari situasi yang jelas dialami oleh orang dewasa muda," kata Maria A. Oquendo, seorang profesor psikiatri di University of Pennsylvania kepada Washington Post.

Pandemi telah meningkatkan stres atau kekhawatiran msyarakat, menurut sebuah jajak pendapat baru dari Kaiser Family Foundation. Mayoritas orang yang mengirim SMS ke Crisis Text Line (84 persen ) mengakui stress pada 20 April.

Depresi akibat Covid-19 ini masuk dalam proyeksi yang mengkhawatirkan dari kelompok kesehatan publik nasional. Well Being Trust memperkirakan bahwa 75.000 orang Amerika bisa mati dari penyalahgunaan narkoba atau alkohol dan bunuh diri terkait dengan Covid-19.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA