Selasa 02 Jun 2020 15:36 WIB

Ada Tiga Polisi Saat George Floyd Meregang Nyawa, Elon Musk Sayangkan Hanya Satu yang Ditangkap

Ada Tiga Polisi Saat George Floyd Meregang Nyawa, Elon Musk Sayangkan Hanya Satu yang Ditangkap

Rep: wartaekonomi.co.id/ Red: wartaekonomi.co.id
Ada Tiga Polisi Saat George Floyd Meregang Nyawa, Elon Musk Sayangkan Hanya Satu yang Ditangkap. (FOTO: Patrick T Fallon)
Ada Tiga Polisi Saat George Floyd Meregang Nyawa, Elon Musk Sayangkan Hanya Satu yang Ditangkap. (FOTO: Patrick T Fallon)

Warta Ekonomi.co.id, Jakarta

Meski tengah bergembira lantaran keberhasilan perusahaan SpaceX miliknya yang menerbangkan dua astronaut ke ISS (International Space Station), Elon Musk tetap prihatin dengan kematian George Floyd.

Sebagaimana diketahui, seorang polisi kulit putih telah membunuh seorang tahanan kulit hitam hingga unjuk rasa "Saya Tidak Bisa Bernapas" terjadi di berbagai negara bagian di Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Istri Bill Gates: Kematian George Floyd Bikin Hati Saya Hancur

Floyd meninggal akibat ditindih polisi di Minneapolis, Derek Chauvin. Chauvin pun telah dipecat dan ditangkap serta akan diproses di pengadilan. Namun, Elon Musk menyayangkan hanya Derek Chauvin yang ditangkap padahal saat kejadian ada tiga polisi yang diam saja saat Floyd meregang nyawa.

"Tentu tidaklah benar bahwa polisi yang lain tidak didakwa dengan apapun," tulis kekasih Grimes itu di Twitter.

"Pesan apa secara umum yang terkirim pada polisi yang diam saja ketika yang lain berbuat salah?" tambahnya dengan hashtag #JusticeForGeorge.

Tak hanya Musk, para bos besar teknologi juga turut memberikan dukungan melalui Black Lives Matter. Mulai dari CEO Alphabet dan Google, Sundar Pichai hingga istri Bill Gates, Melinda.

Lalu CEO Microsoft, Satya Nadella yang turut menyatakan kaum kulit hitam masih sering menderita.

"Rasisme tiap hari, bias dan kebencian di berita hari ini bukan hal baru dan adalah pengalaman yang sering dalam kehidupan sehari-hari, khususnya komunitas kulit hitam Amerika," katanya.

Selain itu juga ada dukungan dari bos besar perusahaan Farmasi, Merck yang juga seorang berkebangsaan Amerika-Afrika.

CEO Merk Kenneth Frazier mengatakan, apa yang terjadi pada George Floyd oleh komunitas Afrika-Amerika dilihat sebagai peristiwa di mana pria Afrika-Amerika ini diperlakukan sangat tidak manusiawi.

"Pria Afrika-Amerika itu, bisa jadi saya, atau pria Afrika-Amerika lainnya," ujar Frazier.

"Sesungguhnya kami masih memiliki kebiasaan, memiliki kepercayaan, dan kami masih memiliki kebijakan dan praktik yang mengarah pada ketidakadilan," tambah Frazier.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement