Saturday, 13 Zulqaidah 1441 / 04 July 2020

Saturday, 13 Zulqaidah 1441 / 04 July 2020

WHO Harus Transparan pada Negara dan Rakyat Indonesia

Selasa 02 Jun 2020 13:03 WIB

Red: Joko Sadewo

Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Marwan Jafar.

Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Marwan Jafar.

Foto: dok. Istimewa
Penjelasan WHO bisa dilakukan pusat maupun perwakilan WHO di Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Marwan Jafar*

Sejak Pandemi covid-19 melanda hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia awal Tahun 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (bahasa Inggris: World Health Organization atau  WHO) ini mulai  jadi objek  perbincangan masyarakat Internasional, terutama dalam konteks penanganan nasib kaum buruh migran yang secara organisasi ditangani oleh ILO yang sama - sama di bawah naungan PBB.

Organisasi yang bertindak sebagai koordinator kesehatan umum internasional PBB dan bermarkas di Jenewa, Swiss ini menuai kritik pedas. Hal ini terkait  penanganan kaum buruh migran yang terdampak pandemi  covid-19 di zona merah.

Oleh sebab itu, WHO perlu memberikan penjelasan kepada negara dan rakyat Indonesia secara terbuka, jujur dan penuh tanggung jawab dalam sebuah forum di parlemen Indonesia. WHO diharapkan bisa memberi penjelasan isu kontroversial dan krusial terkait isu pandemi covid-19 dan dampak yang ditimbulkan, baik sosial, ekonomi dan resistensi keamanan dan turbulansi politik. Sehingga keberadaan WHO kembali mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Internasional, khususnya dari negara-negara anggota PBB.

Beberapa isu kontroversial dan krusial  yang harus segera mendapatkan klarifikasi dari WHO adalah, antara lain, sebagai berikut:

Pertama, WHO perlu memberi penjelasan secara detail terkait penanganan nasib kaum buruh migran yang terdampak covid-19, maupun strategi penyelesaian dan solusi pasca pandemi agar mereka dapat bekerja kembali.   

Data ILO, sebagaimana dilansir Media menunjukkan, sepanjang Tahun 2928 sebanyak 3.8 s/d 4 Juta Buruh Migran Bekerja di Luar Negeri. Mereka kebanyakan berprofesi sebagai pekerja rumah tangga.

Tujuan mereka masih ke Negara-negara seperti: Malaysia, Taiwan, Hongkong, Singapura, dan Arab Saudi. Sebanyak 94.064 tenaga kerja Indonesia (TKI) bekerja di Malaysia, Taiwan ada 59.367 TKI, Hongkong sebanyak 36.135 TKI, Singapura mencapai 32.394 TKI, dan Saudi Arabia yakni 27.859 TKI. Kebanyakan dari mereka  adalah perempuan, sebagaimana  pernyataan A.Y Bonasahat, Koordinator Proyek Nasional ILO.

Kelompok rentan ini harus mendapat perhatian ekstra dari  negara. Karena, data dari
Data Kependudukan PBB (UNFPA) untuk Indonesia melalui UNFPA Representative, seperti pernyataan Jose Ferrari,  Indonesia menempati peringkat ke-2 sebagai negara yang paling banyak terjadi perdagangan manusia. Sekitar 70 persen korban perdagangan manusia berawal dari pengiriman TKI ilegal ke luar negeri. Data terakhir menunjukkan, sebanyak 90,3 persen dari korban trafficking adalah perempuan. Dari jumlah tersebut, 23,6 persennya adalah anak-anak yang merupakan kelompok rentan terhadap kekerasan.

Bahkan menurut Linda, sebagaimana dilansir media diperkirakan terdapat 6,5-9 juta TKI yang bekerja di luar negeri. Dari jumlah itu, sekitar 20 persennya menjadi korban perdagangan manusia.

Kedua, WHO segera memberi penjelasan secara transparan, detail dan berbasis sains tentang isu pandemi covid-19. Baik terkait isu penyebab kemunculan, isu asal muasal penemuan dan penyebarannya, hingga mewabah hampir seluruh negara, termasuk Indonesia. WHO juga memberi penjelasan terkait standard yang digunakan dalam penentuan kebijakan menjadi pandemi dan isu terkait lainnya.

Membedah isu ini menjadi sangat penting agar dapat meminimalisasi dan menepis spekulasi publik terkait  adanya isu konspirasi global yang justru dapat saling merugikan antar bangsa dan bangsa.

Adanya  rilis di media mengenai  pendapat dari Dr. Andrew Kaufman, ahli bidang Biologi, Kedokteran, Onkologi dan Psikiatri, jebolan Medical University of South Carolina serta Massachusetts Institute of Technology. Menurut ahli ini, Covid-19  bukanlah  penyakit dan virus yang mematikan, tapi  materi lain yang disebut sebagai exosome. Exosome ini dinilai tidak berbahaya, namun diekresikan (proses pembuangan sisa metabolisme yang tidak terpakai atau benda lainnya) oleh sel-sel tubuh ketika melawan racun dan materi biologi lainnya, ketika seseorang stress, mengalami infeksi, terkena radiasi berbahaya atau jenis cedera lainnya.

Sementara itu, dunia dihebohkan jutaan manusia meninggal dunia yang diakibatkan  virus yang belakangan disebut Pandemi covid-19.

Hanya ada satu orang yang paling didengar masyarakat di Amerika Serikat, meski bukan Presiden AS, Donald Trump, tapi sosok Dr Anthony Fauci yang lantang angkat suara terkait pandemi covid-19.

Dengan berbasis sains, komentar-komentar direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular AS tersebut, terdengar sebagai suara kebenaran. Sejak pandemi Covid-19 melanda AS, Fauci secara blak-blakan mengatakan, pandemi virus corona akan memburuk di AS dan mengkritik respons sejumlah pemerintah federal.

Masih ada lagi, Dr. Shiva Ayyadurai  pemegang empat gelar dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), termasuk Ph.D. dalam rekayasa biologi , dan  juga menarik dua laporan sekaligus,  Pertama, mempertanyakan kondisi kerja lembaga ilmiah terbesar India; Kedua, mempertanyakan keamanan kedelai yang dimodifikasi secara genetik. Selama pandemi COVID-19 , Ayyadurai menjadi terkenal karena kampanye informasi media sosial, yang salah tentang virus korona, yakni sejatinya ada dugaan kuat pihak yang menyebarkan teori konspirasi tentang penyebab covid-19.

Terlepas dari semua itu, WHO harus independen dalam menjelaskan isu-isu ini.  Covid-19, pertama kali mulai merebak pada akhir bulan Desember 2019 di Wuhan, Hubei, China. Dunia mulai was-was. Virus ini pun mulai menyebar ke negara lain. WHO kemudian mulai menyalakan sinyal berbahaya terkait virus ini.

Melihat virus Corona yang makin menggila, WHO kemudian merevisi penilaian risiko mereka terhadap virus Covid-19. Virus ini, ketika itu telah membunuh 170 orang di China dan konon bersumber dari hewan, lalu menular dan menyebar antar manusia seperti yang selama ini kita fahami. Bagaimana dengan semua ini? Juga Bagaimana  perkembangan penemuan vaksin versi WHO dan  hasil kerjasama  pakar-pakar  kesehatan WHO serta kerjasana dengan pihak  laboratorium dan hasil  penelitian WHO itu sendiri? Terlepas dari semua itu,  WHO harus transparan pada negara dan rakyat Indonesia terkait covid-19.

Kedua, Forum yang sangat relevan untuk menguak berbagai isu tersebut adalah forum rapat gabungan, yakni DPR bersama Kementerian Kesehatan, Gugus Tugas Covid-19 dan WHO. Disamping Rapat Dengar Pendapat atau RDP, yakni antara DPR dan WHO.

Dalam Rapat Dengar Pendapat atau bisa juga digelar Rapat Gabungan dengan  DPR, bisa dilangsungkan dengan pihak pimpinan WHO di Genewa  maupun perwakilan WHO di Jakarta, baik secara Virtual maupun secara  langsung  hadir di DPR, tentu dengan  standar protokol kesehatan.

Ketiga, perlunya WHO memiliki peta penanganan masalah pandemi covid-19 yang sesuai dengan karakteristik masing-masing negara. Baik negara maju, berkembang dan terbelakang.

Inilah pentingnya peta penanganan pandemi covid-19 yang perlu dirumuskan oleh WHO secara spesifik, sesuai kondisi dan karakteriatik masyarakat di masing-masing negara. Sehingga diharapkan dapat berjalan efektif. Indonesia, misalnya jelas memiliki karakteristik tersendiri, baik geografis, etnis, budaya dan lainnya.

Keempat, WHO perlu menghindarkan diri dari liberalisasi bidang kesehatan dan perang obat-obatan. Liberalisasi yang menjadi sifat  khas dari kapitalisme khususnya di bidang kesehatan atau medis di tengah pandemi covid-19 harus dihentikan karena tidak banyak segi positif yang diperoleh Indonesia.

Dari pemberitaan media, Bill Gates telah menyiapkan vaksinasi corona sebanyak 7 milliar penghuni dunia. Bahkan, konon sudah mulai akan dilakukan uji coba, termasuk kemungkinan  ke  Indonesia yang harusnya disikapi dengan hati-hati.

Untuk itu, sebaiknya masing-masing negara diberikan keleluasaan untuk mengembangkan dan  menggunakan kemampuan pengobatan covid-19 dengan obat-obatan dalam negeri. Termasuk penemuan vaksin oleh Indonesia sendir. Baik yang dikembangkan oleh kampus-kampus maupun perusahaan-perusahaan BUMN bidang Farmasi.

Kita yakin Indonesia bisa dan mampu. Jaganlah bangsa kita hanyut ke dalam arus  liberalisasi kesehatan  dan  perang obat-obatan yang justru akan menyengsarakan  rakyat sendiri. Obat-obatan, vitamin dan vaksin yang diciptakan di dalam negeri, dengan bahan baku dan SDM dalam negeri pula dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan, kondisi dan  karakteristik masyarakat, sehingga hasilnya jauh lebih efektif.

Diplomasi yang dibangun  Indonesia dengan  WHO akan terus membuahkan  kemajuan yang saling menguntungkan, yaitu membangun ekonomi yang kuat, industri kesehatan dengan keunggulan komparatif yang spesifik, merancang program untuk mengurangi penduduk miskin, dan struktur kelembagaan penanganan pandemi covid-19 maupun pandemi serupa secara lebih tangguh.

Indonesia harus proteksi rakyat yang masuk kategori fakir, miskin, tuna wisma, kaum papa, kelompok marginal, divabel dan kelompok rentan lainnya secara lebih baik. Sebagai catatan Badan Pusat Statistik (BPS), seperti yang dilansir Media, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2019 berjumlah 25,14 juta jiwa atau 9,41 persen. Angka tersebut lebih rendah 0,53 juta jiwa dibandingkan dengan penduduk berpengeluaran per kapita di bawah garis kemiskinan pada September 2018 lalu.

Selain itu, kelompok rentan lainnya adalah para pecandu narkoba. BNN mencatat, jumlah penyalahgunaan narkoba di Indonesia diperkirakan telah mencapai sekitar 3,5 juta orang pada 2017. Sekitar 1,4 juta di antaranya adalah pengguna biasa, sedangkan hampir 1 juta orang telah menjadi pecandu narkoba.  Mereka itu rentan terhadap penyebaran covid-19 yang harus mendapat perhatian dan proteksi dari Negara.
 
Kelima, Mendorong WHO untuk melakukan gerakan solidaritas antar negara dalam rangka memerangi pandemi covid-19 secara bersama-sama. Sebab, pandemi covid-19 merupakan pandemi global yang menyerang negara-negara di dunia. Penanganannya pun harus dilakukan secara solidaritas internasional, baik dari aspek pemenuhan kebutuhan peralatan medis, sarana prasarana kesehatan maupun SDM.

Keenam, mendorong WHO untuk memaksimalkan pengalaman penanganan berbagai pandemi di negara-negara di dunia, seperti Flu Spanyol, Flu Burung, SARS-Covid, Ebola dan sebagainya. Ini bisa dijadikan referensi berharga mempercepat penanganan pandemi covid-19. Tentunya, masing-masing negara  berkolaborasi dengan WHO untuk menyelesaikan masalah pandemi ini sebagai sesama anggota PBB.

Ketujuh, mendorong WHO memiliki pedoman pencegahan dan penanganan pandemi covid-19 versi WHO sendiri. Pedoman ini diadaptasikan sesuai kebutuhan, kondisi dan karakteristik masyarakat masing-masing negara anggota. Misalnya, panduan pencegahan dan penanganan pandemi covid-19 untuk negara maju, negara berkembang dan sebagainya secara komprehensif.

Panduan pencegahan dan penanganan pandemi covid-19 ini penting agar masyarakat semakin  memiliki tingkat percaya diri secara  lebih baik lagi dalam upaya bersama-sama Pemerintah dan WHO memerangi pandemi covid-19.

Delapan, mendorong WHO meningkatkan pola hubungan diplomatik antar negara-negara anggota yang lebih responsif, solutif dan efektif, terutama diplomasi bidang kesehatan. Termasuk keikutsertaan para dokter dan tenaga medis dalam berbagai organisasi profesi dan kegiatan internasional dalam rangka transformasi  ilmu pengetahuan dan pengalaman empirik dalam menangani pandemi covid-19 dan pandemi lainnya.

Kesembilan, perlu memberikan dukungan pada WHO agar tidak terjebak pada kepentingan "Block" pada negara atau beberapa negara tertentu dalam konteks penanganan pandemi covid-19.  WHO haruslah independen, sejalan dengan kedudukan  PBB, yakni menjadi wadah moderat  untuk mempererat persatuan dan kesatuan antar negara tanpa diskriminasi.

Sepuluh, perlunya standar kebijakan  WHO yang konsisten dan independen terkait adanya pandemi covid-19 melalui pertimbangan para pakar kesehatan maupun para ahli pandemiologi yang jernih dan akurat. Baik terkait kebijakan informasi awal munculnya pandemi, pencegahan maupun penanganan pandemi hingga kebijakan pasca pandemi covid-19. Ini sangat penting dilakukan agar  masing-masing negara dapat melaksanakan stanfard operasional prosedur penanganan pandemi covid-19 secara tepat, meskipun dengan mempertimbangkan kondisi internal masing-masing negara.

Sebagai contoh soal kebijakan mengenakan masker. Semula  WHO merekomendasikan pemakaian masker hanya untuk orang sakit dan tenaga medis. Namun, tidak lama kemudian, bulan Maret WHO menyatakan Corona sebagai pandemi global. Artinya, COVID-19 bisa menyerang siapa saja di seluruh dunia. Akhirnya WHO merekomendasikan pemakaian masker untuk semua orang.

Sebelas,  WHO mendorong  terwujudnya gagasan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan secara maksimal dan saling menguntungkan antar negara anggota,. Diharapkan lambat laun masing-masing negara anggota menjadi semakin qualivided dalam mengambil kebijakan antisipatif terhadap berbagai pandemi, khususnya covid-19 bilamana terjadi di luar prediksi di masa mendatang.

Duabelas, mendorong WHO untuk terus-menerus melakukan langkah-langkah kampanye pencegahan, penanganan dan kesiapan menyongsong Era New Normal pada masyarakat dunia. Kegiatan ini dengan melibatkan para aktor maupun aktris populer kelas dunia seperti:  Steven Seagel, Danial Craig, Angelina Jolie, Julia Robert, Penelope Cruz, Sarah Jessica Parker, Shailena Woodle,  Monica Belluci, Chaterine Zeta-Jones dan lain-lain. Termasuk juga aktor maupun artis berkelas dunia yang pernah positif terjangkit Covid-19, seperti, Tom Hanks dan istrinya Rita Wilson, Olga Korylenko maupun Idris Elba. Mereka bisa menceritakan pengalamannya terjangkit Covid-19, dan sekaligus sebagai penyebar energi positif bagi warga dunia, bahwa pandemi Covid-19 bisa disembuhkan atau ditaklukan.

Selain itu, bintang sepak bola, Daniele Rugani (Juventus) menjadi salah satu atlet yang sembuh dari wabah Covid-19. Dari sini terdapat berita positif dari dunia olahraga, terutama untuk olahragawan yang sebelumnya mengidap virus dari Wuhan, China tersebut.

Demikian pula dalam dunia basket,  nama  Rudy Gobert menjadi pebasket pertama yang terpapar wabah virus corona pada Maret 2020 silam, namun dia berangsur pulih, tak lama  kemudian disusul oleh rekan seprofesinya yakni Donovan Mitchell (Utah Jazz), Christian Wood (Detroit Pistons) dan Marcus Smart (Boston Celtics).

Atau juga semacam negarawan  mantan presiden AS, Barack Obama atau PM Vietnam,  Phu Trong, atau PM Selandia Baru, Jacinda Arden atau Kanselir Jerman Angela Markel juga sangat inspiratif dalam konteks  memerangi pandemi covid-19. Atau semacam pemain sepak bola yang sangat masyhur, seperti, antara lain, Crustiano Ronaldo, Lionel Messi, atau pelatih sepak bola kenamaan semisal Zenedine Zidane sebagai Duta untuk “perang” melawan pandemi Covid-19 dengan melalukan sosialisasi cara meredam penyebaran Covid-19 maupun mengedukasi masyarakat dunia dalam menghindari ganasnya Covid-19 tersebut.

Mereka ini layak jadi inspirator dan Duta yang memberikan inspirasi bagi masyarakat dunia dalam hal memerangi pandemi covid-19.  Penggemar mereka lintas negara, baik melalui akun media sosial, seperti Facebook, Twitter maupun Instagram yang dapat memengaruhi masyarakat internasional.

Kita percaya Indonesia dalam konteks pencegahan dan penanganan pandemi covid-19 sudah cukup bagus. Kata kuncinya adalah komitmen yang dibangun bersama antara Pemerintah dan seluruh komponen bangsa.  Selain itu, pendisiplinan diri pada protokol kesehatan pandemi covid-19, budaya pola hidup sehat dan bersih, jaga imunitas diri dan olah raga yang cukup menjadi kata kunci melawan pandemi covid-19.

Media massa mainstream, baik luar maupun dalam negeri, termasuk pengamat dan akademisi  jangan  ikut menggiring opini  untuk  kepentingan kelompok tertentu.   Saatnya kita perkuat rasa persaudaraan kita sebagai satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air Indonesia, dengan bergandengan tangan dengan  negara lain, termasuk WHO untuk memenangkan peperangan melawan pandemi covid-19.

*) Penulis adalah mantan menteri Desa Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, sekarang anggota Fraksi PKB DPR RI.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA