Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Spike Lee Dedikasikan Film Pendek untuk George Floyd

Selasa 02 Jun 2020 12:03 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Aktor sekaligus sutradara Spike Lee ikut menyuarakan protesnya tekait kasus kematian George Floyd (Foto: Spike Lee)

Aktor sekaligus sutradara Spike Lee ikut menyuarakan protesnya tekait kasus kematian George Floyd (Foto: Spike Lee)

Foto: EPA
Film pendek tersebut sebagai suara protes Spike Lee terhadap kasus George Floyd.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Aktor sekaligus sutradara Spike Lee ikut menyuarakan protesnya tekait kasus kematian George Floyd. Floyd adalah warga Afrika-Amerika yang meninggal dunia di tangan polisi berkulit putih di Minneapolis, Amerika Serikat, pada 25 Mei 2020.

Film pendek Lee berjudul "3 Brothers", dibuka dengan kalimat "Apakah sejarah akan berhenti dengan sendirinya?" Tayangan itu memuat adegan dari sinema Do the Right Thing rilisan 1989. Dalam film itu, Lee berperan sebagai Radio Raheem.

Dalam film lawas tersebut, tokoh Radio Raheem tewas setelah ditangkap dan ditahan oleh petugas kepolisian dengan tindak kekerasan. Hal itu serupa dengan apa yang terjadi pada Floyd dan kini memicu protes di AS bahkan dunia.

Lee menambahkan insiden Eric Garner dalam videonya, sebagai "saudara" ketiga yang mengalami kejadian serupa. Garner yang juga merupakan warga Afrika-Amerika tewas saat petugas departemen kepolisian New York menangkapnya pada 2012 silam.

Garner ditangkap dengan tuduhan penjualan rokok tak resmi tanpa izin, yang pada akhirnya tidak terbukti. Sementara itu, Floyd ditangkap dengan tuduhan melakukan transaksi menggunakan uang palsu sebesar 20 dolar AS (Rp 292 ribu).

Saat menangkap Floyd, polisi menindih lehernya dengan lutut selama sembilan menit hingga Floyd meregang nyawa. Petugas kepolisian yang melakukan itu kini didakwa dengan pembunuhan tingkat tiga dan pembantaian.

Lee mengaku geram dengan sejumlah insiden tersebut. Dia merutuk aksi pelaku yang tidak berperikemanusiaan. Pria 63 tahun itu menyebutnya bukan hal baru. Mulai dari kerusuhan pada tahun 1960-an, menurut dia, warga Afrika-Amerika kerap tidak mendapatkan keadilan.

"Kami melihat ini lagi dan lagi dan lagi. Ini masalahnya: pembunuhan warga kulit hitam. Itulah yang menjadi dasar dibangunnya negara ini," kata Lee sarkastis, dikutip dari laman the Guardian, Selasa (2/6).

Dia mengenang pula tahun penting 1619, awal kedatangan pekerja Afrika di Jamestown, Virginia, yang menandai awal dari perbudakan di AS. Dengan emosional, Lee mengatakan bahwa kesetaraan hak belum sepenuhnya ada di AS.

"Fondasi Amerika Serikat didasarkan atas pencurian tanah dari penduduk asli dan genosida, ditambah dengan perbudakan. Saya tidak memaafkan hal-hal ini," ucapnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA