'Jaga Semangat Puasa dan Idul Fitri Saat Jalani New Normal'

Red: Fernan Rahadi

 Selasa 02 Jun 2020 11:05 WIB

Presiden Joko Widodo dan New Normal (Ilustrasi) Foto: republika/mgrol100 Presiden Joko Widodo dan New Normal (Ilustrasi)

Pelonggaran lockdown terjadi hampir di seluruh negara yang masih mengalami pandemi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semangat puasa dan Idul Fitri yaitu sabar, menahan hawa nafsu, solidaritas, kepedulian, kebersamaan serta menaati imbauan pemerintah, harus terus dijaga saat diberlakukan new normal atau hidup baru saat pandemi virus Covid-19 masih belum berakhir. Dengan semangat itulah, bangsa Indonesia diyakini akan mampu melewati cobaan pandemi ini, terutama untuk kembali menjadi bangsa yang bersatu, kuat, dan maju.

“Dengan hablum minannas, sesama manusia kita saling bermaaf-maafan, solidaritas dan kesalehan sosial tentu harus ditingkatkan lagi untuk menghadapi pandemi yang masih terjadi saat ini. Lalu secara hablum minnallah kita juga secara bersama-sama satu bulan sebelumnya telah bermunajat, beristighfar serta memaksimalkan ibadah ritual kita untuk menyambut hari kemenangan. Ini harus terus dijaga dalam menjalani kehidupan new normal,” ujar anggota Komisi IX DPR RI Anggia Ermarini beberapa waktu lalu.

Ia meyakini umat Islam dapat mengelola kesalehan dan solidaritas sosialnya dengan baik. Sehingga setelah Ramadan dan Idul Fitri bisa kembali menjadi insan yang lebih baik lagi.

La’alakum tattakun ibadahnya bisa lebih maksimal lagi,” imbuh Ketua Umum Fatayat NU ini.

Anggia menilai, sejauh ini pemerintah telah memberikan arahan dan anjuran yan tepat untuk mencegah penyebaran Covid-19. Tinggal di rumah, bekerja di rumah, dan bekerja di rumah.

“Kalau kita bicara makna Idul Fitri adalah untuk menjaga jiwa. Nah, dengan melakukan ibadah di rumah, salat id di rumah dan tidak melakukan halal bihalal ke rumah sanak saudara seperti tahun-tahun sebelumnya, itu merupakan salah satu cara menjaga jiwa kita sendiri,” tuturnya.

Anggia menyampaikan, kalau masyarakat tidak mematuhi aturan tersebut dan keluar rumah, potensi tertular ataupun menularkan kepada orang lain dan keluarga sangat besar.

“Jadi lebih kepada kita kembali kepada tujuan syariah, kita menjaga jiwa, Jiwa kita sendiri, keluarga dan masyarakat secara menyeluruh.  Karena itu lebih baik tetap di rumah saja. Lalu kemudian memaksimalkan apa yang bisa kita lakukan dalam ibadah baik itu hablum minallah maupun hablum minannas,”  ucap politisi Partai PKB tersebut.

Terkait rencana penerapan new normal, Anggia menilai rencana semacam pelonggaran lockdown di luar negeri dan PSBB di Indonesia. Dan itu terjadi hampir di seluruh negara-negara yang kini masih mengalami pandemi Covid-19.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X