Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

Konsumsi Teh di India Turun Selama Periode Lockdown

Selasa 02 Jun 2020 09:08 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Konsumsi teh masyarakat India secara keseluruhan dilaporkan turun sekitar 25 sampai 30 persen selama periode lockdown akibat pandemi Covid-19 (Foto: ilustrasi teh)

Konsumsi teh masyarakat India secara keseluruhan dilaporkan turun sekitar 25 sampai 30 persen selama periode lockdown akibat pandemi Covid-19 (Foto: ilustrasi teh)

Foto: Pixabay
Konsumsi teh masyarakat India turun sekitar 25 sampai 30 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, KOLKATA -- Konsumsi teh masyarakat India secara keseluruhan dilaporkan turun sekitar 25 sampai 30 persen selama periode lockdown akibat pandemi Covid-19. Penurunan tajam dijumpai pada konsumsi minuman teh di luar rumah.

"Meskipun konsumsi teh mungkin telah meningkat di rumah-rumah selama lockdown, itu tidak cukup untuk mengimbangi penurunan konsumsi di luar rumah," kata Ketua Federasi Asosiasi Pedagang Teh Seluruh India (FAITTA) Viren Shah.

Dia menjelaskan, konsumsi teh di luar rumah menyumbang hampir 40 persen dari total penjualan teh dalam negeri di India. Konsumsi teh di luar rumah antara lain di warung pinggir jalan, restoran, kafe, hotel, kantor, dan pabrik.

Shah memerinci, konsumsi teh domestik rata-rata selama satu bulan sekitar 90 juta kilogram. Dari jumlah tersebut, konsumsi di luar rumah sekitar 36 juta kilogram. Pada April dan Mei, konsumsi teh India turun sekitar 72 juta kilogram.

Selain karena aturan pembatasan fisik, penyebab penurunan konsumsi adalah kenaikan harga teh. Shah menyampaikan, pada tingkat petani, harga teh naik sekitar 60-70 rupee per kilogram (sekitar Rp 11.500-Rp 13.500) yang belum bisa dipastikan bertahan sampai kapan.

Faktor serius lain adalah kesulitan ekonomi yang dialami sebagian masyarakat. "Kenaikan harga eceran untuk mengimbangi kenaikan biaya teh dapat berdampak pada permintaan teh. Ini menempatkan pengepak dan pengecer dalam situasi yang sangat sulit," kata Shah.

Ketua Asosiasi Teh India Vivek Goenka menyampaikan, pada 2019, India telah menghasilkan 1.390 juta kilogram teh. Aturan //lockdown// pada musim baru memberikan pukulan besar untuk kesepakatan produksi teh.

Produksi teh di Assam dan Benggala Barat diperkirakan telah turun 65 persen pada Maret dan April 2020, serta diprediksi turun 50 persen selama Mei 2020. Total kerugian produksi di dua wilayah itu untuk Maret, April, dan Mei 2020 sekitar 140 juta kilogram.

Kondisi demikian turut mendampak jenama Wagh Bakri Tea, perusahaan penyedia dan eksportir teh terbesar di India. Sebanyak 13 lounge tempat pelanggan menikmati teh serta 100 kios yang dimiliki perusahaan tutup selama lockdown.

"Ini semua berdampak pada penjualan teh domestik kami. Bisnis kami hanya akan pulih saat Diwali (festival cahaya India yang berlangsung November 2020)," ujar Direktur Eksekutif Wagh Bakri Tea Parag Desai, dikutip dari laman Economic Times, Selasa (2/6).

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA