Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Sunday, 14 Zulqaidah 1441 / 05 July 2020

Benarkah Ada Kaitan Antara Sepak Bola dan Demensia?

Selasa 02 Jun 2020 10:00 WIB

Rep: Eko Supriyadi/ Red: Agung Sasongko

 Pemain Bayern Munich Benjamin Pavard mencetak gol kedua timnya selama pertandingan sepak bola Bundesliga Jerman antara Union Berlin dan Bayern Munich di Berlin, Jerman, Ahad (17/5). Dalam pertandingan tersebut Bayern Munich menang 2-0. Bundesliga Jerman menjadi liga sepak bola utama pertama di dunia yang melanjutkan setelah suspensi dua bulan karena pandemi Covid-19.

Pemain Bayern Munich Benjamin Pavard mencetak gol kedua timnya selama pertandingan sepak bola Bundesliga Jerman antara Union Berlin dan Bayern Munich di Berlin, Jerman, Ahad (17/5). Dalam pertandingan tersebut Bayern Munich menang 2-0. Bundesliga Jerman menjadi liga sepak bola utama pertama di dunia yang melanjutkan setelah suspensi dua bulan karena pandemi Covid-19.

Foto: EPA-EFE/HANNIBAL HANSCHKE
Masih belum ada bukti yang cukup menyundul bola bisa menyebabkan demensia.

REPUBLIKA.CO.ID, MOLD -- Kematian mantan pemain tim nasional Wales, Alan Jarvis, dikaitkan dengan "penyakit" dalam industri sepak bola. Jarvis pernah membela Everton dan Hull City pada 1960 dan 1970, serta tiga kali membela tim nasional.

Pria berusia 76 tahun itu, yang diduga memiliki penyakit demensia, meninggalkan di rumah perawatan di Mold, Filnshire, Wales Desember lalu. Coroner John Gittins jadi orang pertama yang membuka pemeriksaan resmi di salah satu kota di Wales, Ruthin. Ia mengatakan, kematian Jarvis kemungkinan sangat erat kaitannya antara sepak bola dan demensia yang dideritanya.

Jarvis, yang main di posisi gelandang, membawa Wales mengalahkan Inggris pada Piala Dunia 1966, lalu tampil lawan Skotlandia dan Irlandia Utara. Adiknya, Sarah Jarvis, mengatakan keluarganya berniat mendonasikan otaknya ke peneliti di University of Glasgow tak lama setelah Jarvis meninggal.

Dr Willie Stewart, yang mempelajari kemungkinan adanya kaitan anata sepak bola dan kerusakan otak, melakukan pemeriksaan pada Januari lalu dan memberikan hasilnya kepada Joh Gittin. Sarah yakin, ada yang disalahkan dari kesulitan yang dihadapi ayahnya sepanjang hidup, termasuk kehilangan kemampuan bicara. Ia mengatakan, keluarganya berharap pemeriksaan itu bisa meninggkatkan pengetahuan.

''Keluarga saya menyaksikan sepak bola, jadi itu bukan sesuatu yang saya ingin ubah. Itu lebih kepada kewaspadaan. Satu-satunya yang saya inginkan adalah melihat apa yang terjadi setelahnya pada pemain ini,'' kata Sarah, dikutip dari BBC, Selasa (2/6).

Penelitian Dr Stewart pernah masuk dalam film dokumenter Alan Shearer :Dementia, Football and Me. Pada 2019, penelitian yang dia pimpin menemukan mantan pesepak bola profesional memiliki peluang tiga setengah kali menderita demensia, dibandingkan orang yang hidup di rentang umur yang sama dalam populasi secara umum. Penelitian itu dilakukan setelah klaim mantan striker West Bromwich Albion Jeff Astle, meninggalkan karena trauma di kepala.

Walaupun, masih belum ada bukti yang cukup menyundul bola bisa menyebabkan demensia. Otoritas sepak bola mengatakan masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan hipotesis tersebut. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA