Wednesday, 17 Zulqaidah 1441 / 08 July 2020

Wednesday, 17 Zulqaidah 1441 / 08 July 2020

Donald Trump Diungsikan ke Bunker Setelah Demo Meluas

Senin 01 Jun 2020 12:21 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nur Aini

Presiden Donald Trump

Presiden Donald Trump

Foto: AP / Patrick Semansky
Demo memprotes kematian George Floyd meluas ke Gedung Putih.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan sempat diungsikan ke bunker saat demonstrasi pengecaman kematian George Floyd berlangsung di Gedung Putih pada Jumat (29/5) malam. Massa sesekali terlibat bentrokan dengan aparat kepolisian.

Baca Juga

Kabar mengenai diungsikannya Trump ke bunker dilaporkan oleh New York Times. "Agen-agen Secret Service tiba-tiba membawa presiden ke bunker bawah tanah yang digunakan di masa lalu selama serangan teroris," tulis New York Times, dikutip laman the Guardian, Senin (1/6).

Tak diterangkan reaksi spesifik Trump saat agen Secret Service membawanya ke bunker. "Presiden (Trump) dan keluarganya bingung dengan pengalaman mereka pada Jumat malam, menurut beberapa penasihat," kata New York Times.

Pada Jumat pekan lalu, Trump sempat mengomentari aksi demonstrasi yang mengecam kematian George Floyd di luar Gedung Putih melalui akun Twitter pribadinya. Seperti sebelumnya, Trump melontarkan ancaman kepada massa.

"Jika mereka (menerabas pagar), mereka akan disambut dengan anjing-anjing paling ganas dan senjata paling tidak menyenangkan yang pernah saya lihat. Saat itulah orang-orang akan terluka parah," kata Trump.

Trump dilaporkan telah menjalin percakapan dengan keluarga George Floyd. Tapi menurut saudara laki-laki Floyd, Philonise Floyd, pembicaraan itu berlangsung sangat singkat. "Dia (Trump) tidak memberi saya kesempatan untuk berbicara," katanya kepada MSNBC.

George Floyd adalah pria Afrika-Amerika yang tewas pada Senin pekan lalu. Dia meninggal setelah dipiting dan dijepit lehernya dengan menggunakan lutut oleh petugas kepolisian Minneapolis. Floyd ditangkap karena dilaporkan menggunakan uang palsu pecahan 20 dolar AS.

Namun dalam video yang viral di media sosial, Floyd tampak mengerang kesakitan karena lehernya ditekan menggunakan lutut saat proses penangkapan berlangsung. Floyd meminta tolong kepada petugas agar mengangkat lututnya karena dia tidak bisa bernapas. "Saya tidak bisa bernapas, saya tidak bisa bernapas, tolong," kata Floyd.

Namun, petugas yang menindih leher Floyd menggunakan lututnya mengabaikannya. Dia terus memiting Floyd yang semakin tak berdaya. Tak lama setelah itu, Floyd terkulai lemas. Dia tewas saat dibawa ke rumah sakit.

Aksi polisi itu segera memantik kemarahan masyarakat Minneapolis, terutama komunitas Afrika-Amerika. Saat ini demonstrasi telah meluas ke sejumlah wilayah di AS. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA