Thursday, 25 Zulqaidah 1441 / 16 July 2020

Thursday, 25 Zulqaidah 1441 / 16 July 2020

Superspreader, Pelonggaran PSBB, dan Ketegasan

Ahad 31 May 2020 07:23 WIB

Red: Joko Sadewo

Asma Nadia

Asma Nadia

Foto: Republika/Daan
Superspreader, berkeling seperti layaknya orang sehat, harus dicermati.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Asma Nadia

Hanya butuh satu orang superspreader untuk mengacaukan sebuah tatanan di saat PSBB dilonggarkan. Superspreader , sebutan ini muncul diperuntukkan bagi orang yang menularkan virus  ke banyak orang. Pada beberapa wilayah yang melonjak tajam, penyebaran virus dipicu oleh seorang superspreader yang secara sadar atau tidak sadar menularkan penyakit secara berantai.

Kasus SAR misalnya, penyebarannya menjadi mendunia diawali oleh seorang dokter yang menangani kasus SARS di provinsi Guangdong. Saat itu ia tidak sadar terpapar virus dan mengabaikan dan menganggap gejala ringan yang  menjangkitinya, biasa. Merasa sehat, maka Ia berangkat ke Hong Kong untuk menghadiri pesta pernikahan keluarga, dan menginap di lantai 9 Hotel Metropole di Kowloon. Di hotel  itu kemudian ia menulari 16 tamu di lantai yang sama. Semua tamu tersebut kemudian berpencar ke Kanada, Singapura, Taiwan, dan Vietnam, menjadi pembawa virus dan menularkan SARS di negara asal yang lalu mengakibatkan epidemik global. Akibatnya, tercatat; 346 meninggal di Taiwan, 251 meninggal di Kanada, 238 meninggal di Singapura, dan 63 kematian di Vietnam.

Serupa dengan kasus SARS, tidak sedikit kasus meningkatkan pasien covid-19 dimulai dari superspreader.

Di Korea Selatan, salah satu cluster terbesar bermula dari seorang wanita berusia 61 tahun yang menginfeksi setidaknya 37 orang. Meskipun mengalami demam, wanita ini dua kali menolak untuk ditest, bahkan menghadiri empat kebaktian gereja hingga akhirnya wabah terjadi.

Setelah peristiwa  tersebut, pemerintah Korea berbenah. Mengadakan random rapid test  dengan gencar dan memberlakukan pembatasan di banyak lokasi sehingga berhasil mengendalikan penyebaran Covid-19. Korea menjadi  contoh negara yang berhasil meredam penyebaran virus tanpa melakukan lockdown nasional.

Akan tetapi tak berselang lama, kini pembatasan sosial mulai kembali diberlakukan. Pemicunya? superspreader pria  berusia 20-an yang mengunjungi pub dan diduga menulari banyak orang. Akibatnya lebih dari 100 terkontaminasi virus dan sekitar 7.000 orang kini dalam pengawasan. Setelah kejadian itu 5.700 tempat hiburan langsung ditutup.

Kasus superspreader dalam wabah Korona juga terjadi di Eropa. Seorang pengidap virus Korona berkebangsaan Inggris diduga telah menginfeksi selusin orang setelah dia kembali dari Singapura dan kemudian bermain ski di Pegunungan Alpen.

Di India seorang pemuka agama berusia 70 tahun, sepulang dari Italia dan Jerman, meninggal akibat virus Korona. Sebelumnya ia menolak melakukan swa-karantina bahkan sempat menghadiri festival Hola Mohalla yang berlangsung selama enam hari dan dipadati sekitar 10.000 orang setiap harinya.

Seminggu setelah dia meninggal, sebanyak 19 orang kerabatnya dinyatakan positif terkena penyakit covid-19. Sementara 550 orang yang sempat melakukan kontak langsung dengan pemuka agama tersebut ditelusuri dan sebagai tindak lanjut pemerintah memutuskan untuk mengisolasi 40.000 orang dari 20 desa.

Menyadari potensi superspreader pemerintah harus memastikan tidak ada celah sosok ini   berkeliaran di kerumunan masyarakat. Sebenarnya tanpa superspreader pun penyebaran penyakit masih sangat rentan mengingat banyaknya Orang Tanpa Gejala di tengah masyarakat.

Karena itu tidak ada pilihan lain, pemerintah harus memberi protokol kesehatan yang jelas dan tegas dengan standar yang tinggi jika melakukan kelonggaran PSBB dengan dalih bagaimanapun denyut ekonomi harus berjalan.

Mengenakan masker di tempat publik jelas merupakan keharusan. Membawa hand sanitizer mungkin juga bisa menjadi kewajiban, apalagi sekarang hand sanitizer sudah mudah ditemukan. Tempat-tempat  umum wajib pula menyediakan hand satizer.  Pastikan menjaga jarak baik di kendaraan umum, keramaian, tempat ibadah, dll  juga harus menjadi  standar.

Jangan sampai kita melonggarkan PSBB namun berakibat mengalami kebobolan hingga harus memulai segalanya dari nol bahkan malah minus.

Memaksimalkan keterlibatan polisi dan TNI untuk penegakkan protokol kesehatan sudah merupakan keniscayaan karena pada kenyataannya, terlepas kasus corona di Indonesia sudah melesat dan mencapai angka puluhan ribu, serta menewaskan banyak orang, tetap saja masih banyak masyarakat yang abai dengan kehati-hatian.

Kesadaran bahwa banyak OTG juga superspreader berkeling seperti layaknya orang sehat, harus dicermati. Kita tidak bisa mendeteksi keberadaan mereka, namun setidaknya dengan protokol yang jelas, risiko dari keberadaan mereka bisa diminimalisir hingga  tidak membahayakan sekitar.

Jangan lupa, seyogyanya  setiap kita pun menyadari potensi diri yang sangat mungkin membahayakan atau dibahayakan orang lain, hingga terbangun kewaspadaan berlapis. Bila hal ini belum terbangun, tidak ada jalan lain kecuali peraturan harus ditegakkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA