Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

AYPI: Jaga Jarak di Pesantren Sulit Dilakukan

Jumat 29 May 2020 17:42 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: A.Syalaby Ichsan

Pakar pendidikan Zulfikri Anas mengisi seminar tentang implementasi esensi Kurikulum 2013 di era industri 4.0.

Pakar pendidikan Zulfikri Anas mengisi seminar tentang implementasi esensi Kurikulum 2013 di era industri 4.0.

Foto: Dok IIB
Bahaya wabah ini karena sulitnya mendisiplinkan diri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dewan Pengawas Asosiasi Yayasan Pendidikan Islam (AYPI) Zulfikri Anas menuturkan, pengaturan jaga jarak di dalam lingkungan pesantren sulit dilakukan. Menurut dia, hal terpenting dalam penerapan skenario new normal di pesantren adalah memastikan santri sehat dan tidak ada yang terinfeksi Covid-19 di lingkungan pesantren.

"Kita tidak tahu orang ini terinfeksi atau tidak, maka harus dipisah dengan physical distancing, tetapi mampu enggak pesantren itu melakukannya. Jalan satu-satunya, pastikan anak-anak (santri) dalam kondisi sehat dan siapa saja yang terinfeksi," kata dia kepada Republika.co.id, Jumat (29/5).

AYPI, lanjut Zulfikri, mendukung jika pesantren dibuka lagi dalam rangka skenario new normal di tengah pandemi virus Covid-19. Namun dengan catatan protokol medis harus betul-betul dijalankan dan semua yang berada di lingkungan pesantren sehat.

"Iya, untuk pesantren tidak masalah sebetulnya. Tapi itu tadi, harus menjalani prosedur protokol medis. Sehingga begitu masuk, sehat semua, berarti bisa jalan seperti biasa, tetapi harus dijaga betul, tidak ada tamu yang keluar-masuk. Jadi enggak boleh ada tamu. Itu harus dijaga, karena yang jadi masalah ini kan keluar-masuknya, membuat tidak terkontrol," ujarnya.

Zulfikri menambahkan, secara konseptual, pendidikan Islam itu paling adaptif dan dapat beradaptasi dengan segala situasi karena keutamaan pendidikan Islam adalah penguatan adab dan akhlakul karimah. Ilmu pengetahuan merupakan bagian dari peradaban dan akhlakul karimah dengan senantiasa memelihara diri dari perilaku yang membawa kemudaratan.

"Jika seseorang dapat mendisiplinkan diri, menjaga kesehatan diri lahir dan batin, sehingga berdampak ke daya tahan tubuh, maka kita tidak perlu khawatir," katanya.

Menurut Zulfikri, bahaya wabah ini karena sulitnya mendisiplinkan diri, menjaga diri agar tidak tertular dan tidak menularkan. Kuncinya adalah mendisiplin diri, dan itu menjadi ciri utama pendidikan dan peradaban Islam. Kekuatan konsep pendidikan Islam melintasi segala zaman dan situasi.

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA