Wednesday, 17 Zulqaidah 1441 / 08 July 2020

Wednesday, 17 Zulqaidah 1441 / 08 July 2020

Kemenag Susun Protokol Kesehatan di Pesantren

Jumat 29 May 2020 17:37 WIB

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: A.Syalaby Ichsan

Santri Pondok Pesantren Nuu Waar, Setu, Bekasi, Jawa Barat berhasil mengkhatamkan Alqur’an sebanyak 3500 kali.

Santri Pondok Pesantren Nuu Waar, Setu, Bekasi, Jawa Barat berhasil mengkhatamkan Alqur’an sebanyak 3500 kali.

Foto: Dok AFKN
Penyusunan protokol untuk menyikapi tahun ajaran baru di pesantren.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) bersama Direktorat Promosi Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyusun protokol kesehatan yang bisa diterapkan di pondok pesantren. 

Penyusunan protokol kesehatan ini untuk menyikapi tahun ajaran baru di pondok pesantren pada Syawal.Plt. Direktur PD Pontren, Imam Safe’I, mengatakan, penyusunan protokol dilakukan agar semua keluarga besar pondok pesantren terhindar dari wabah Covid-19. Protokol kesehatan bagi pesantren sangat penting mengingat kondisi yang sangat rentan dengan persebaran virus ini. 

Dikatakan Imam, fasilitas pesantren yang kurang memadai dibanding jumlah santri yang tinggal di pesantren sangat rentan dengan persebaran virus.  “Sebelum terjadi, kita lebih baik melakukan tindakan preventif. Ini semata-mata untuk kebaikan pesantren dan kita semua,” ujar Imam dalam keterangan yang didapat Republika.co.id, Jumat (29/5).

Imam menyebut fasilitas MCK pesantren dan tempat tidur santri masih sangat kurang. Bagi santri, semua tempat di pesantren bisa digunakan sebagai tempat tidur karena memang ada kamar-kamar yang tidak memadai. Biasanya mereka memilih tidur di masjid, musholla, perpustakaan, atau tempat lainnya.

Menurut Imam, protokol kesehatan dibutuhkan untuk melindungi pesantren. Protokil ini tidak bisa dinilai anjuran atau larangan bagi pesantren dalam melangsungkan pembelajaran. "Tapi jika pesantren ingin melanjutkan proses pembelajaran, sementara vaksinnya juga belum ditemukan, maka pesantren sebaiknya mengikuti protokol kesehatan ini. Ini otoritatif karena standar ini dikeluarkan dari Kementerian Kesehatan" ujarnya.

Karena itu, Imam sangat senang dengan langkah Kementerian Kesehatan yang mengajak Kementerian Agama dalam menyiapkan protokol kesehatan di pesantren.

Direktur Promosi Kesehatan Masyarakat Kemenkes, dr. Riskiyana Sukandi Putra menyampaikan terima kasihnya atas respon cepat Kemenag dalam menyiapkan protokol kesehatan bagi pesantren ini. Menurut dia, ini adalah langkah tepat karena ketidakseimbangan antara jumlah santri dengan fasilitas pesantren sangat rentan dengan penularan virus.

Pesantren dinilai perlu melakukan pencegahan sejak dini karena sampai hari ini vaksinnya belum ditemukan. Paling cepat vaksin tersedia dalam kurun waktu delapan hingga 20 bulan ke depan.“Karena vaksinnya belum ditemukan, maka yang harus kita lakukan adalah membuat vaksin alamiah, yaitu dengan cara memperkuat imunitas tubuh,” kata dia.

Riski menuturkan, cara memperkuat imuntas tubuh salah satunya adalah dengan mengonsumsi makanan bergizi. Makanan bergizi akan memunculkan imunitas dalam tubuh yang berfungsi melawan virus.Protokol kesehatan ini dalam waktu dekat menurut Imam Safe’I akan segera disosialisasikan ke seluruh pesantren di Indonesia. “Inilah saatnya kita membantu pesantren,” jelas dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA