Saturday, 20 Zulqaidah 1441 / 11 July 2020

Saturday, 20 Zulqaidah 1441 / 11 July 2020

Risma Kecewa, Lapor ke Doni Lalu Tunjukkan Bukti ke Wartawan

Jumat 29 May 2020 16:50 WIB

Red: Andri Saubani

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kanan) menyampaikan pemaparan saat Rapat Analisa Dan Evaluasi Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Di Wilayah Kota Surabaya di Gedung Sawunggaling, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (22/5/2020). Rapat itu diikuti jajaran kepolisian,TNI dan Aparatur Sipil Negara (ASN)

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kanan) menyampaikan pemaparan saat Rapat Analisa Dan Evaluasi Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Di Wilayah Kota Surabaya di Gedung Sawunggaling, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (22/5/2020). Rapat itu diikuti jajaran kepolisian,TNI dan Aparatur Sipil Negara (ASN)

Foto: ANTARA/Didik Suhartono
Risma kecewa bantuan mobile lab PCR untuk Surabaya dialihkan ke daerah lain.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Dadang Kurnia, Fauziah Mursid

Baca Juga

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini terlihat kecewa saat berada di Balai Kota Surabaya, Jumat (29/5). Dua mobil mesin PCR atau mobile laboratorium bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang sedianya diperbantukan khusus untuk Kota Surabaya, dialihkan ke daerah lain oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur.

Risma bahkan langsung melaporkan kejadian tersebut kepada Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Doni Monardo. Risma kemudian menunjukkan bukti tangkapan layar percakapan Whatsapp antara dirinya dan Doni kepada wartawan di Balai Kota Surabaya.

Risma ingin menunjukan bahwa yang memohon bantuan alat fast lab tersebut adalah dirinya, untuk Kota Surabaya. Doni pun menyanggupinya dan berjanji akan mempercepat proses pengirimannya.

Kepada Doni, Risma mengadukan, mobil bantuan itu kemudian dialihkan ke daerah lain, sehingga Surabaya tidak bisa menggunakannya. Doni pun berjanji mengecek keberadaan mobil tersebut karena memang dua mobil bantuan itu diprioritaskan untuk Kota Surabaya.

“Teman-teman lihat sendiri kan, ini bukti permohonan saya dengan Pak Doni, jadi ini saya sendiri yang memohon kepada beliau. Kasihan pasien-pasien yang sudah menunggu,” kata Risma di Balai Kota Surabaya, Jumat (29/5).

Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, Febria Rachmanita menjelaskan, sebetulnya pada Kamis (28/5), Surabaya sudah akan dibantu mobil laboratorium itu. Awalnya, akan langsung dipergunakan untuk pasien yang menjalani karantina di Hotel Asrama Haji dan Dupak Masigit yang di situ ada warga dari Krembangan Selatan.

“Jadi, bantuan dari BNPB itu dua unit mobile laboratorium dan sudah kami tentukan titik-titiknya selama mobil itu berada lima hari di Kota Surabaya. Masing-masing titik itu kami siapkan 200 orang untuk dilakukan tes swab. Mereka itu yang belum dites swab dan waktunya swab ulang, supaya cepat selesai penanganannya,” kata Febria.

Namun, lanjut Febria, pengiriman mobile lab diundur karena dialihkan dulu ke Rumah Sakit Unair dan tidak langsung ke Hotel Asrama Haji. Karena dijadwalkan pukul 13.00 WIB, kemudian para pasien di Hotel Asrama Haji dipersiapkan mulai sekitar pukul 12.30 WIB dengan tetap mengikuti protokol kesehatan.

“Ternyata, mobil itu tidak datang-datang hingga kami menunggu sekitar 5 jam dan mobil itu baru datang sekitar pukul 18.30 WIB. Dan ternyata kemarin dua mobil itu dibawa ke Unair satu dan satu mobil lagi dibawa ke daerah lain,” ujar Febria.

Febria mengatakan, Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jatim, dr. Joni Wahyuadi sudah menjanjikan setelah dari daerah lain itu, mobil segera dikembalikan ke Surabaya. Sehingga, disiapkanlah warga di Kelurahan Tanah Kali Kedinding sebanyak 200 orang untuk dilakukan tes swab.

“Kami sudah siapkan sejak pukul 07.00 WIB dan warga sangat antusias untuk mengikuti tes tersebut. Tapi tak lama kemudian saya mendapatkan kabar bahwa dua mobil itu sama-sama dialihkan ke luar daerah. Akhirnya, kami dua kali membubarkan pasien untuk melakukan tes swab,” ujar Febria.

Gebria sangat menyesalkan sikap tersebut. Sebab, pihaknya sudah merayu pasien-pasien itu untuk melakukan pemeriksaan swab, tapi mereka harus dibubarkan karena mobilnya tidak datang.

“Kami sangat menyesalkan itu, bisa-bisa nanti kami tidak dipercaya lagi oleh para pasien ini. Apalagi ini harus bergerak cepat supaya segera tertangani dan pasien tidak menunggu,” kata Febria.



Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa mengatakan, kedua mobile lab PCR itu penting, sebagai salah satu langkah percepatan layanan laboratorium dalam melakukan tes swab di wilayah setempat. Khofifah mengatakan, dua unit mobil mesin PCR juga akan difungsikan sebagai mobile laboratorium untuk daerah-daerah yang membutuhkan di Jatim.

Jika hari sebelumnya kedua mobil tersebut dioperasikan di Surabaya dan Sidoarjo, pada hari ini melayani masyarakat di Kabupaten Lamongan dan Tulungagung.

"Bantuan ini penting, karena saat ini kebutuhan mesin PCR test untuk swab  memang yang paling dibutuhkan karena validitasnya paling tinggi," kata Khofifah

Khofifah menjelaskan, masing-masing mobil dilengkapi empat mesin PCR. Masing-masing mesin PCR memiliki kapasitas tes maksimal 200 sample per hari. Artinya, satu unit mobil dengan empat mesin PCR mempunyai kapasitas pelayanan sebanyak 200 kali empat mesin per hari. Sehingga, dua mobil ini, total kapasitas layanannya dapat mencapai 1.600 sample per hari.

"Dengan tambahan bantuan mobil mesin PCR ini maka kapasitas maksimal layanan swab test di Jatim jika dimaksimalkan mencapai 3.106 sample per hari," ujar Khofifah.

Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia masih bertambah signifikan pada Kamis (28/5) pukul 12.00 WIB, yakni sebanyak 687 kasus, sehingga total kasus positif kini 24.538 orang.

Pada Kamis (28/5), penambahan terbanyak kasus baru positif Covid-19 secara nasional disumbang oleh Provinsi Jawa Timur, dengan 171 orang dalam satu hari terakhir. Kemudian diikuti Kalimantan Selatan dengan 116 kasus, lalu DKI Jakarta dengan penambahan 105 kasus, Sulawesi Selatan bertambah 46 kemudian Sumatera Utara 30 kasus.

Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menerangkan, meski Jatim menyumbang terbanyak penambahan kasus, angka tersebut menurun dibandingkan sehari sebelumnya bertambah 199 kasus.

"Kalau kita lihat Jawa Timur memang saat ini paling tinggi (tambahan kasus) tetapi sebenarnya menururn kemarin itu 199, sekarang jadi 171 artinya ada penurunan dibanding dengan kemarin sore," ujar Yurianto dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (28/5).

photo
Infografis Daftar Daerah yang akan Terapkan New Normal - (Infografis Republika.co.id)



Selain itu, lanjut Khofifah, setiap unit mobil juga dilengkapi 2 unit mesin ekstraksi, 4.992 buah ekstra kit, dan 4.992 reagen PCR kit. Khofifah berharap, proses tes swab dengan PCR bisa dilakukan dengan cepat. Terlebih, kecepatan ini juga sangat memengaruhi penanganan wabah Covid-19 dan tentunya juga bisa memberikan ketenangan pada masyarakat.

“Kami ingin menyampaikan kepada masyarakat Jatim bahwa baik APD maupun reagen PCR kit yang kita miliki saat ini sudah mencukupi,” kata Khofifah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA