Thursday, 18 Zulqaidah 1441 / 09 July 2020

Thursday, 18 Zulqaidah 1441 / 09 July 2020

Prof Koentjoro: Indonesia Terserah Bentuk Kekecewaan

Jumat 29 May 2020 16:36 WIB

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Teguh Firmansyah

Rapper Willy Winarko dalam video klip Terserah yang tayang di kanal Youtube The Rap Up Indonesia.

Rapper Willy Winarko dalam video klip Terserah yang tayang di kanal Youtube The Rap Up Indonesia.

Foto: Youtube The Rap Up Indonesia
Prof Koentjoro menilai ada kekecewaan tenaga medis terhadap pemerintah dan warga.

REPUBLIKA.CO.ID,  SLEMAN -- Belum lama ini tagar #IndonesiaTerserah ramai di media sosial. Ini diawali beredarnya foto-foto tenaga kesehatan berseragam APD yang tunjukkan kertas yang bertuliskan kata-kata itu sebagai bentuk penyampaian aspirasi.

Psikolog Sosial UGM, Prof Koentjoro menilai, kemunculan tagar itu sebagai bentuk ungkapan emosi kekecewaan tenaga kesehatan. Baik kepada pemerintah maupun masyarakat.

Pemerintah dinilai belum serius dalam menangulangi wabah Covid-19. Aturan atau kebijakan yang ditetapkan sering berubah-ubah, ditambah dengan belum adanya sanksi yang jelas bagi masyarakat yang melanggar aturan.

Sementara, masyarakat dipandang tidak mematuhi sejumlah imbauan pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Karenanya, ia menekankan, tagar itu bukan merupakan bentuk menyerah tapi sekadar kekecewaan.

"Ini salah satu bentuk luweh-luweh (terserah) para tenaga medis. Mereka sudah berbuat sesuatu dengan baik dan berjuang di garis depan, tapi masyarakat tidak bisa diatur," kata Koentjoro, Jumat (29/5).

Ia melihat, tenaga medis sebenarnya tidak menyerah. Mereka tidak mungkin menyerah karena sudah sudah terikat dengan sumpah profesi untuk tetap  menjalankan tugas-tugas dan fungsi-fungsinya dengan sangat baik. "Hal ini harusnya ditangkap oleh masyarakat untuk bersikap lebih empati pada tenaga kesehatan," ujar Guru Besar Fakultas Psikologi UGM tersebut.

Koentjoro berpendapat, yang jadi ketakutan tenaga kesehatan bila kebijakan seperti pelonggaran PSBB justru akan membuka peluang penyebaran virus. Belum lagi perilaku masyarakat yang tidak pedulikan imbauan pencegahan penularan.

Hal itu dikhawatirkan akan semakin menambah beban tenaga kesehatan. Padahal fasilitas kesehatan masih sangat terbatas. Harapan utama mereka tidak lain masyarakat dapat berlaku disiplin, mematuhi protokol kesehatan.

"Kalau masyarakat masih saja ngeyel, maka saat terinfeksi Covid-19 RS sudah tidak lagi bisa menampung pasien baru, harus siap risiko kalau ditolak rumah sakit karena sudah diingatkan tetap ngeyel, jadi tenaga kesehatan sangat berharap masyarakat patuh aturan," kata Koentjoro.

Menurut Koentjoro, tagar #IndonesiaTerserah yang digaungkan tenaga kesehatan ini merupakan langkah yang bagus. Untuk mengingatkan kembali masyarakat agar tidak mengabaikan imbauan pemerintah, tapi perlu ada narasi lebih lanjut.

"Pemilihan kata Indonesia Terserah ini sudah bagus bahasanya. Pada kelompok tertentu bisa memberikan sengatan, tapi masalahnya dengan perubahan di masyarakat saat ini menjadikan tidak semua bisa memahami," ujar Koentjoro.

Ia mengingatkan, bahasa-bahasa simbol hanya dapat dipahami oleh orang yang memiliki kepekaan naluriah. Karenanya, perlu penjelasan lebih komperehensif agar masyarakat dapat menangkap dan memahami pesan yang disampaikan.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA