Monday, 15 Zulqaidah 1441 / 06 July 2020

Monday, 15 Zulqaidah 1441 / 06 July 2020

China Kembali Tolak Sistem Pertahanan Antirudal AS di Korsel

Jumat 29 May 2020 16:32 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Militer Amerika Serikat (AS) mulai memindahkan sebagian sistem pertahanan antirudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) yang kontroversial ke lokasi penempatannya di Korea Selatan, Rabu (26/4).

Militer Amerika Serikat (AS) mulai memindahkan sebagian sistem pertahanan antirudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) yang kontroversial ke lokasi penempatannya di Korea Selatan, Rabu (26/4).

Foto: Reuters/Missile Defense Agency
China khawatir dengan keberadaan sistem pertahanan AS di Korsel

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Menteri Luar Negeri China menegaskan menentang sistem pertahanan Amerika Serikat (AS) Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) di Korea Selatan (Korsel). China meminta AS tidak merusak hubungan bilateral Beijing dan Seoul.

Baca Juga

Pada Jumat (29/5), kantor berita Korsel Yonhap melaporkan pasukan Amerika dan Korsel membawa rudal pengganti THAAD ke pangkalan di Korsel kemarin malam. Salah satu perwira yang tidak disebutkan namanya mengatakan kegiatan itu operasi rutin.

Dalam laporannya, Yonhap mengatakan rudal baru menggantikan yang lama. Jumlah senjata yang berada di pangkalan tersebut tidak bertambah.

Dalam konferensi pers juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan dalam isu THAAD Beijing dan Seoul sudah meraih konsensus yang jelas. Ia mengatakan China berharap Seoul akan mematuhi perjanjian kesepakatan tersebut.

THAAD adalah sistem pertahanan rudal AS yang dapat menjatuhkan rudal balistik jarak pendek, medium, dan menengah di tahap terminal atau dekat. Pencegat atau interceptor THAAD tidak memiliki hulu ledak tapi lebih mengandalkan energi kinetik yang dapat menghancurkan rudal yang datang.

Pada 2013 lalu, militer Korsel meminta Pentagon menyediakan informasi mengenai THAAD. Korsel ingin memperkuat pertahanan mereka dari serangan rudal Korut.

Tiga tahun kemudian yakni pada Februari 2016, China mengungkapkan kekhawatiran mereka tentang keberadaan THAAD di Korsel. Mereka mengatakan walaupun THAAD Korsel diarahkan ke Korut tapi tetap membahayakan 'kepentingan keamanan nasional China yang sah'.

Pada 2017, Wakil Dewan Komisi Militer Pusat China menegaskan kepada Ketua Dewan Kepala Staf Gabungan AS, pengerahan THAAD di sekitar China akan berdampak negatif terhadap 'hubungan bilateral militer dan sikap saling percaya. Salah satu hal yang paling kontroversial bagi pejabat China, sistem THAAD 'yang dapat mendeteksi dan mencegat rudal yang terbang tinggi, melacak rudal dari China' bukan dari Korea Utara. 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA