Kamis 28 May 2020 20:37 WIB

New Normal, Imam Turki: Jamaah Sangat Rindu Ramaikan Masjid

Imam di Turki mengungkapkan jamaah menantikan sholat Jumat di masjid di new normal.

Rep: Cihan Demirci/ Red: Elba Damhuri
Sejumlah qari membaca Al-Quran untuk menandai Lailatul Qadar, salah satu malam paling suci bagi Muslim, seraya menjaga jarak sosial pada hari keempat pembatasan 4-hari virus korona untuk membendung pandemi Covid-19 di Masjid Sakir Nuhoglu di Mardin, Turki pada 19 Mei 2020.
Foto: Anadolu/Muhammed Furkan Güne?
Sejumlah qari membaca Al-Quran untuk menandai Lailatul Qadar, salah satu malam paling suci bagi Muslim, seraya menjaga jarak sosial pada hari keempat pembatasan 4-hari virus korona untuk membendung pandemi Covid-19 di Masjid Sakir Nuhoglu di Mardin, Turki pada 19 Mei 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, EDIRNE -- Para imam di masjid Selimiye, Eski dan Uc Serefeli, yang menjadi simbol keislaman di kota Edirne, Turki sudah tak sabar menunggu jamaah di masjid mereka dengan penuh semangat.

Sebelum pandemi Covid-19, masjid-masjid bersejarah itu sangat menarik perhatian warga setempat maupun dari kota lain, namun masjid tersebut sunyi karena pembatasan salat berjamaah selama pandemi ini.

Setelah otoritas Turki mengurangi beberapa batasan dalam langkah-langkah penanganan Covid-19, jamaah kembali dapat melakukan salat pada waktu-waktu tertentu dengan mengambil tindakan antipasi di masjid-masjid.

Para petugas keagamaan masjid bersejarah pusaka Kekaisaran Ottoman menanti hari beribadah dengan para jamaah di masjid-masjid mereka.

Mufti Edirne Emrullah Uzum mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa dirinya akan berjumpa dengan para jemaah di masjid pada Jumat ini.

"Warga kami saat berpapasan dengan saya di jalan, mereka mengatakan sangat menantikan melakukan Salat Jumat di masjid. Oleh karena itu kami juga sangat bersemangat," seru Uzum.

Dia juga menekankan para warga juga harus mengambil tindakan antisipasi kesehatan saat mendatangi masjid.

Uzum mengungkapkan ada perasaan lain pada periode kenormalan baru mendatang ini seolah Salat Jumat akan digelar untuk pertama kalinya.

"Dapat berkumpul bersama pada hari Jumat membuat kita bahagia meskipun harus menjaga jarak,” ujar dia.

“Saya berharap ini akan meningkatkan motivasi dan moral spiritual kita semua. Kita juga akan lebih fokus pada pekerjaan dan menunjukkan sikap yang kuat untuk melawan berbagai penyakit dalam periode ini dengan semangat kerja yang tinggi," tukas Uzum.

Di sisi lain, Imam Masjid Selimiye Yusuf Serenli mengatakan bahwa dunia sedang mengalami peristiwa yang mungkin terjadi setiap 100 tahun.

Serenli mengatakan dirinya sudah sekitar 2,5 bulan tidak salat bersama jamaah di masjid tempat dia bertugas.

"Benar-benar kondisi yang tak nyaman. Situasi ini sebenarnya pahit bagi para pengurus masjid. Masjid biasanya penuh dengan jemaah pada Jumat dan tarawih,” ujar dia.

Serenli menceritakan dirinya hanya datang ke masjid untuk mengumandangkan azan, lalu salat sendiri, dan kemudian keluar dari masjid.

"Jemaat akan membawa sajadah dan tasbihnya dari rumah"

Serenli mengatakan bahwa salat Jumat pada 29 Mei ini akan dilalukan bersama jamaah di halaman masjid, sambil menjaga jarak sosial.

Dia menjelaskan bahwa salat Dzuhur dan Ashar selanjutnya akan dilakukan di dalam masjid dengan menjaga jarak sosial.

"Kami mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan mengenai hal ini. Jemaah akan salat dengan sajadah dan tasbih mereka sendiri. Sebisa mungkin tak berlama-lamaan di dalam, usai beribadah di dalam masjid kami akan sesegera keluar dari masjid," kata Serenli.

Serenli menekankan sebagai pengurus keagamaan di daerahnya dia merasakan kekosongan dan kesedihan selama virus korona mewabah.

"Awalnya, kami kesulitan membiasakan diri, tetapi semuanya adalah untuk kesehatan bersama. Ramadhan berlalu seperti ini. Kami menjangkau jemaah kami dengan siaran langsung di media sosial,” tutur Serenli.

Setelah sekian lama, kata Serenli, ibadah di masjid bersejarah kami akan dimulai kembali.

“Ini membuat kami sangat bahagia, itu perasaan yang sangat menyenangkan."

Imam Masjid Selimiye Fatih Bulbul menuturkan dirinya mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaan tak enaknya saat melihat masjidnya itu kosong.

"Semoga Allah tidak membuat kita berhadapan dengan situasi seperti itu lagi. Masjid-masjid kita ditutup untuk beribadah. Ini adalah peristiwa yang sangat besar. Semoga Allah tidak mempertemukan kita dengan pandemi seperti itu lagi," ucap dia seraya berdoa.

"Insya Allah kerinduan akan tercurahkan"

Bulbul melanjutkan kesehatan manusia adalah yang terpenting dan pihaknya telah melakukan antisipasi sesuai arahan pemerintah.

"Ketika kita dihadapkan dengan situasi seperti ini, Nabi Muhammad bersabda bahwa kita tidak boleh keluar dari tempat kita, dan yang di luar tidak boleh datang ke daerah kita. Kami telah melakukan perintah ini,” ungkap Bulbul.

“Sekarang kami bersemangat. Kami sering bertemu jemaah kami di pasar dan jalanan mereka rindu dengan masjid. Saya berharap kerinduan mereka akan segera berakhir," tukas dia.

 

https://www.aa.com.tr/id/turki/era-kenormalan-baru-imam-turki-tunggu-jamaah-kembali-ramaikan-masjid/1856284

sumber : Anadolu Agency
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement