Pemberlakuan Lockdown Bawa Berkah Spiritual untuk Muslim

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

 Selasa 26 May 2020 12:15 WIB

Hikmah di balik lockdown adalah meningkatnya spritualitas Muslim. Ibadah di rumah. (Ilustrasi). Foto: Republika/Thoudy Badai Hikmah di balik lockdown adalah meningkatnya spritualitas Muslim. Ibadah di rumah. (Ilustrasi).

Hikmah di balik lockdown adalah meningkatnya spritualitas Muslim.

REPUBLIKA.CO.ID, CONNECTICUT – Pandemi virus corona atau Covid-19 dan lockdown telah membuat pembatasan aktivitas yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Terlebih lockdown terjadi pada bulan suci Ramadhan.

Baca Juga

"Ini bisa menjadi Ramadhan terburuk yang pernah ada, kan?" tanya seorang murid,” kata Direktur Kehidupan Muslim di Kantor Chaplain, Universitas Yale Amerika Serikat, Omer Bajwa.  

Omer mengakui, menjelang Ramadhan cemas, kecewa, dan merasa janggal dengan Ramadhan tahun ini saat terjadi pandemi Covid-19 dan lockdown. Karena sejak dulu telah memiliki pengalaman rutin melakukan buka puasa bersama di rumah teman dan sholat Tarawih berjamaah di masjid.

Dalam kehidupan profesionalnya sebagai ulama di universitas, sangat menyukai aktivitas melayani komunitas Muslim. Seperti aktivitas sahur, buka puasa, tarawih, dan halaqah di kampus.

"Tapi apa yang akan saya lakukan sekarang? Bagaimana saya akan tetap terhubung secara pribadi dan tumbuh secara spiritual dalam keterasingan (lockdown dan karantina)? Ini bukan pertanyaan yang aneh, banyak dari kita telah menanyakannya kepada diri kita sendiri, kepada teman-teman kita dan kepada para pemimpin komunitas kita," kata Omer, dilansir dari Religion News Service (RNS), Selasa (26/5).  

Menurutnya, tantangan saat pandemi Covid-19 adalah munculnya kecemasan. Banyak yang mencari jawaban mengapa Allah membiarkan pandemi ini terjadi? Bagaimana jika diri ini sakit? Bagaimana jika diri ini kehilangan pekerjaan?  

Kapan sekolah akan dibuka kembali dan apa yang akan terjadi dengan pendidikan anak-anak? Kapan diri ini dapat mengunjungi keluarga dan teman? Kapan semuanya akan kembali normal? Seperti apa 'new normal' itu?  

"Ketakutan-ketakutan ini terjalin dengan perasaan yang lebih dalam, sering tak terucapkan, perasaan tak menentu, kelelahan, kehilangan, kesengsaraan, dan kesedihan," ujar Omer.  

"Di saat seperti ini saya perlu mengingatkan diri sendiri dan orang-orang yang mencari nasihat kepada saya bahwa tradisi intelektual dan spiritual Islam telah mewariskan kebijaksanaan untuk membantu menjalani hidup dalam kondisi sesulit apapun," jelasnya.  

Ia menyampaikan, Syekh Abdul Qadir al-Jailani yang legendaris mengajarkan bahwa ada hadiah tersembunyi dalam semua kejadian yang tidak menyenangkan. 

Hadiah atau karunia itu mungkin adalah penyucian dari dosa, penerangan hati, penyempurnaan karakter, pematangan kebajikan atau kenaikan derajat spiritual.  

Secara praktis pandemi ini telah membatasi Muslim untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan Ramadhan. Pandemi ini memaksa Muslim untuk melakukan kegiatan di dalam rumah.  

Mempertimbangkan paradigma lahir dan batin dalam ajaran Islam, menurut Omer, lockdown dan karantina menawarkan peluang yang unik kepada Muslim. Tetap di dalam rumah justru membeli peluang untuk menumbuhkan spiritual yang lebih dalam melalui kesabaran, introspeksi dan penilaian diri.  

"Pergeseran perspektif ini mengharuskan kita untuk merangkul keheningan, dalam ajaran Islam, kesadaran welas asih ini terhubung dengan konsep muhasabah atau refleksi diri dan introspeksi diri yang mendalam," ujarnya.  

"Karena itu, saya mengundang diri saya dan orang lain untuk mempertimbangkan kembali betapa 'buruknya' Ramadhan ini, dengan menggali kembali peluang (hikmah) yang ditawarkannya kepada kita," jelasnya.  

Ia menjelaskan, saat pandemi bebas dari potensi berbuat riya saat harus buka puasa bersama dalam kehidupan sosial. Sekarang lebih bebas dan bisa fokus pada kesehatan spiritual sendiri. Serta bisa beribadah bersama keluarga atau beribadah dalam kesendirian.  

"Ini dapat membantu menyadarkan hati spiritual saya yang sakit dengan membiarkan saya berpikir secara mendalam dan intim tentang hubungan saya dengan Tuhan saya," ujarnya.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X