Friday, 19 Zulqaidah 1441 / 10 July 2020

Friday, 19 Zulqaidah 1441 / 10 July 2020

Penerapan New Normal Dinilai Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental

Senin 25 May 2020 18:23 WIB

Red: Qommarria Rostanti

Menjaga Kesehatan Mental

Menjaga Kesehatan Mental

Foto: mgit03
Kesehatan mental juga termasuk kemampuan berpikir rasional mengekspresikan emosi.

REPUBLIKA.CO.ID, DENPASAR -- Proses adaptasi seseorang dalam penerapan new normal dinilai dapat mempengaruhi kesehatan mental. Pasalnya, banyak tantangan yang harus dihadapi masyarakat ketika menghadapinya.

"Dalam proses penerimaan new normal itu memungkinkan seseorang untuk menolak beradaptasi, yang akhirnya akan jadi stres," kata psikolog klinis Dian Selaras Layanan Psikologi Bali, Ida Ayu Saraswati di Denpasar, Senin (25/5).

Dia menyebut, beradaptasi tidak mudah. Sebab, ada beberapa proses penolakan terhadap kebiasaan-kebiasaan baru yang harus dijalani. Salah satunya, muncul ketidaksenangan untuk menjalankan kebiasaan-kebiasaan baru itu, sampai akhirnya pada tahap menerima kondisi dan mau menjalankan kebiasaan baru tersebut.

Proses beradaptasi setiap orang berbeda-beda, bergantung dari persepsi dan kemampuan individu untuk menerima situasi. Dia menyebut, proses menjadikan perilaku baru sebagai kebiasaan, membutuhkan waktu. Ada yang mudah beradaptasi dan ada juga yang lebih lambat.

Saraswati yang juga psikolog di Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak, Kabupaten Badung, ini mengatakan kesehatan mental adalah kondisi yang baik tentang pikiran, perasaan, dan perilaku. Dengan begitu, seseorang mampu menjalani suatu situasi dan mengoptimalkan kapasitas diri yang dimiliki.

Dalam proses penerimaan new normal memungkinkan seseorang untuk menolak beradaptasi, yang akhirnya akan jadi stres. Kesehatan mental bukan sekadar kejiwaannya normal atau tidak. Tetapi juga tentang kemampuan berpikir rasional untuk mengekspresikan emosi yang dirasa dan berperilaku tepat dengan kondisi yang hadapi.

Menurut dia, tidak mudah melihat definisi kesehatan mental. Enggak kayak kesehatan fisik yang bisa terlihat langsung, tapi sama-sama butuh waktu untuk sembuh," ujarnya.

Sudah banyak pihak membahas penerapan new normal. Hanya saja penerapannya belum digambarkan secara jelas. New normal yang diterapkan saat ini masih berpusat untuk pencegahan penyebaran pandemi Covid-19.

Saraswati mengatakan new normal bisa menjadi gaya hidup. Misalnya, saat berada di kerumunan orang harus menggunakan masker.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA