Thursday, 11 Zulqaidah 1441 / 02 July 2020

Thursday, 11 Zulqaidah 1441 / 02 July 2020

'Jadikan Idul Fitri Momen Kebangkitan Kalahkan Corona'

Senin 25 May 2020 17:16 WIB

Red: Fernan Rahadi

Covid-19 (ilustrasi).

Covid-19 (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com
Pandemi corona harus dihadapi dengan jiwa besar dan rasa sabar

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandemi virus corona atau Covid-19 telah meluluhlantakkan sendi kehidupan berbangsa, bernegara, dan beragama di Indonesia. Berbagai tradisi kebangsaan, tradisi bernegara, dan tradisi beragama pun harus diubah total untuk mencegah penyebaran Covid-19.

Kondisi ini membuat Indonesia dan seluruh negara di dunia yang terdampak corona ‘menangis’. Tidak hanya ribuan nyawa melayang, Covid-19 telah membawa dampak keterpurukan ekonomi yang sangat luar biasa.

Namun, kondisi tidak harus membuat bangsa Indonesia berkecil hati. Justru, pandemi corona harus dihadapi dengan jiwa besar dan rasa sabar menghadapi pandemi ini sebagai ujian dari Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi saat ini bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, tengah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan dan juga menyambut Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Apalagi sebentar lagi hari kemenangan, Hari Raya Idul Fitri pun akan segera tiba.

“Jadikan momentum puasa, Harkitnas dan Idul Fitri ini untuk bangkit dan bersatu meraih kemenangan melawan pandemi Corona. Ikuti anjuran pemerintah, Insya Allah kita segera akan melewati cobaan ini,” ujar Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi PKB, KH Maman Imanulhaq beberapa waktu lalu.

Maman mengungkapkan, secara keseluruhan pandemi corona ini memberi pelajaran penting bagi bangsa Indonesia. Pertama untuk menumbuhkan kembali karakter gotong royong dengan solidaritas kebangsaan yang kuat. Kedua, lanjut Maman, menguatkan pola keberagamaan yang subtansional penuh dengan kasih sayang, toleransi, dan semangat berbagi.

"Kebencian, radikalisme dan terorisme ternyata bisa kita lawan bersama dengan menyadari bahwa persoalan kemanusiaan kita bukan politik identitas yang menonjolkan perbedaan, tapi kemiskinan, kebodohan dan juga pandemi Covid-19,” jelas Maman.

Poin selanjutkan, kata dia, mendorong pemerintah untuk melayani masyarakat dengan profesional, berbasis data dan koordinatif.  Ketiga poin itulah dinilai menjadi momen bagi bangsa Indonesia di bulan Ramadan dan di Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada 20 Mei lalu.

Pimpinan Pesantren Al-Mizan Jatiwangi Majalengka ini menambahkan, bahwa pandemi Covid-19 mengharuskan masyarakat untuk menunda banyak kesenangan seperti berkumpul dan bepergian. Semua dianjurkan untuk stay at home atau tetap tinggal di rumah. Dan ini sesuai dengan hakikat puasa itu sendiri.

“Dalam bahasa Arab, puasa dikenal dengan istilah shaum atau shiyam. Keduanya memiliki makna “Al-Imsak” yaitu menahan diri atau menunda kesenangan,” kata Maman.

Hal tersebut, katanya, sangat relevan dengan tujuan berpuasa yaitu menunda kesenangan dan mengkhusyukkan diri di rumah dengan beribadah, bekerja dan meningkatkan kualitas komunikasi antar anggota keluarga demi terwujudnya ketahanan keluarga.

Terkait penanganan Covid-19, Maman menilai pemerintah telah optimal dalam memerangi pandemi ini. Namun, ia tetap memberikan catatan penting yang harus diperbaiki pemerintah yaitu soal validasi data dan koordinasi antar lembaga dan kementrian. Dua kelemahan sangat terlihat saat menghadapi Covid-19.

“Kita butuh kerja keras, kerja sama dan kerja cerdas. Ini hikmah penting, memerangi virus corona birokrasi pemerintah harus bergerak dengan sistematis, profesional dan sinergis, tidak boleh ada kebijakan yang tumpang tindih,” urainya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA