Wasekjen MUI Imbau Masyarakat Saling Bantu Hadapi Covid-19

Red: Fernan Rahadi

 Senin 25 May 2020 17:09 WIB

Tokoh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU),  Abdul Moqsith Ghazali Foto: ROL/Fakhtar Khairon Lubis Tokoh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Abdul Moqsith Ghazali

Bulan puasa menjadi momen bagi umat manusia untuk melakukan refleksi diri.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pandemi Covid-19  ini memang bukan musibah bagi bangsa Indonesia saja melankan musibah dunia yang belum ditemukan vaksinnya. Karena kondisinya yang seperti sekarang, maka tidak ada  pilihan lain bagi seluruh rakyat Indonesia dan penduduk dunia untuk saling bergotong-royong dan bahu-membahu membantu satu sama lain.

Karenanya, Wakil Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama MUI Abdul Moqsith Ghazali menyampaikan dampak dari Covid-19 ini bukan hanya dari sudut kesehatan saja, tetapi juga dampak dari sudut ekonomi bagi semuanya.

“Oleh karena itu, saatnya yang mampu bisa membantu yang tidak mampu dengan berbagai cara. Karena kita diikat oleh satu ikatan kebangsaan sebagai bangsa Indonesia. orang-orang yang mampu secara ekonomi mengucurkan bantuan kepada kelompok-kelompok yang rentan mengalami dampak ekonomi akibat dari Covid-19 ini. Oleh karena itu sebaiknya kita bekerja sama satu dengan yang lain,” ujar Abdul Moqsith Ghazali beberapa waktu lalu.

Pria yang akrab dipanggil Kiai Moqsith ini juga menuturkan bahwa bulan puasa menjadi momen bagi umat manusia untuk melakukan refleksi diri terhadap apa yang sudah dilakukan baik itu untuk lingkungan, masyarakat dan juga untuk bangsa ini.

“Terlebih misalnya berpuasa di saat pandemi ini, zakat kita ini akan disalurkan kepada orang-orang yang betul-betul membutuhkan. Karena memang Covid-19 ini tidak cukup hanya ditangani oleh pemerintah saja. Maka dari itu masyarakat sipil harus menjadi bagian dari solusi, misalnya dengan tidak keluar rumah, dengan membantu menyebarkan masker, alat pelindung diri (APD) dan lain sebagainya yang itu sangat dibutuhkan,” kata pria yang pernah menimba ilmu di Universitas Leiden, Belanda itu.

Pria kelahiran Situbondo itu mencontohkan bahwa di dalam hadist dikatakan bahwa kesatuan umat, kesatuan bangsa itu adalah pondasi dari tercapainya sebuah cita-cita. Selain itu di Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 juga dikatakan untuk memajukan kesejahteraan dan bebas dari penindasan. Oleh karenanya kepedulian kepada satu sama lain memang  harus diberikan, tidak cukup hanya sekedar di khotbahkan.

“Tentu tugas dari tokoh-tokoh agama untuk menyadarkan masyarakat dari sudut agama. Demikian pula petugas kesehatan menyadarkan masyarakat dari sudut kesehatan. Begitu juga para ekonom misalnya menjelaskan hal-hal yang positif,” kata Dosen Tetap program studi Tafsir Hadits di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X