Saturday, 20 Zulqaidah 1441 / 11 July 2020

Saturday, 20 Zulqaidah 1441 / 11 July 2020

Belajar Bersyukur

Selasa 26 May 2020 05:01 WIB

Red: A.Syalaby Ichsan

Ustaz Wahyudi

Ustaz Wahyudi

Foto: Dokumentasi Pribadi
Ilmu syukur tidak hanya harus diajarkan tetapi dicontohkan

Oleh Ustaz Wahyudi (S2 Syariah Institut Ilmu Alquran Jakarta, pengajar tahsin dan tahfiz Alqur’an)

 

REPUBLIKA.CO.ID,Suatu bangsa akan menjadi besar dan maju manakala pemimpin dan rakyatnya pandai bersyukur kepada Allah. Sebaliknya, sebuah bangsa itu akan rusak dan binasa manakala pemimpin dan rakyatnya kufur akan nkmat yang Allah berikan.

Dimulai dari pemimpinnya yang malas bersyukur, kemudian masyarakatnya yang ikut-ikutan melupakan Allah Azza wa jalla. Hal ini merupakan sunatullah yang tetap berlaku, sedangkan sunatullah (ketentuan hukum) Allah tidak pernah berubah, berganti, atau selalu berlaku sepanjang waktu. Inilah firman Allah Ta’ala tentang pentingnya bersyukur bagi suatu bangsa.

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا قَرۡيَةٗ كَانَتۡ ءَامِنَةٗ مُّطۡمَئِنَّةٗ يَأۡتِيهَا رِزۡقُهَا رَغَدٗا مِّن كُلِّ مَكَانٖ فَكَفَرَتۡ بِأَنۡعُمِ ٱللَّهِ فَأَذَٰقَهَا ٱللَّهُ لِبَاسَ ٱلۡجُوعِ وَٱلۡخَوۡفِ بِمَا كَانُواْ يَصۡنَعُونَ ١١٢

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat” (QS.Anahl: 112).

Jika suatu bangsa mengalami kerusakan moral akibat kelemahan masyarakatnya dalam bersyukur, maka tidak ada solusi yang paling tepat selain mengajarkan kepada masyarakatnya untuk bersyukur. Syukur adalah sumber akhlak mulia, menjadi dasar dari semua sifat baik yang dimiliki manusia.

photo
Bersyukur. - (republika)

Jika kita ingin membentuk karakter yang baik pada seorang hamba Allah, maka mengajarinya bersyukur merupakan prioritas utama, namun yang lebih utama lagi adalah para pendidik (murobbi) atau guru yang mendidik generasi muda itu harus lebih pandai bersyukur pada Allah. Ilmu syukur tidak hanya harus diajarkan tetapi diteladankan dan dicontohkan dalam mendidik generasi muda. Dalam Qur’an Surat Luqman difirmankan oleh Allah bahwa Luqman memiliki modal sebagai pendidik yaitu pandai mensyukuri nikmat Allah.

وَلَقَدۡ ءَاتَيۡنَا لُقۡمَٰنَ ٱلۡحِكۡمَةَ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِلَّهِۚ وَمَن يَشۡكُرۡ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٞ ١٢

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS.Luqman:12).

 

Bersyukur dalam ayat ini disebut “hikmah” (pengetahuan yang mendalam sebagai hasil pengalaman yang sangat teruji kebenarannya). Hikmah bukan ilmu biasa, hikmah adalah pengetahuan tentang hakikat kebaikan yang hanya diberikan Allah kepada hamba-Nya yang terpilih seperti nabi dan orang-orang yang shalih.

 

Luqman sebagai pendidik adalah hikmah dalam arti seseorang yang hati dan akhlaqnya selalu berhubungan dengan Allah melalui syukur. Jika para guru tidak pandai bersyukur kepada Allah, maka bagaimana mereka bisa mengajarkan rasa syukur kepada anak didik mereka. Para orang tua pun berperan besar dalam menanamkan rasa syukur kepada Allah ini sehingga dalam menjelaskan kisah Luqman digambarkan bahwa Luqman sedang mendidik anaknya, namun Luqman sendiri orang yang pandai bersyukur.

 

Sesungguhnya bersyukur berarti mengenal keagungan dan kebesaran Allah dengan segala hak-Nya, di mana hak yang paling mendasar adalah pujian kepada-Nya. Mengenal Allah untuk dapat bersyukur kepadanya merupakan ilmu yang paling utama dalam ajaran Islam. Generasi remaja dan anak-anak yang tidak pandai bersyukur akan mudah melawan orang tuanya, tidak suka kemapanan (anti kemapanan), sehingga mudah terjangkit penyakit seperti pergaulan bebas, asusila, narkoba dll.

 

Bersyukur sejak dini

 

Pada dasarnya manusia harus terus menerus belajar bersyukur, sejak kanak-kanak, remaja, dewasa dan sampai tua pun tidak boleh berhenti bersyukur. Dalam dunia pendidikan, para orang tua dan guru hendaknya mempersiapkan segala bentuk sarana agar anak-anak mereka menjadi hamba-hamba Allah yang mengenal Allah sejak dini.

 

Kurikulum pendidikan yang utama hendaknya “ma’rifatullah” (mengenal Allah) dan “AS Syukru ala ni’matillah” (bersyukur atas semua nikmat Allah) dalam keadaan apa pun dan bagaimanapun. Bila bersyukur kepada Allah ini yang diutamakan maka kebaikan akan menyebar dan produktif, maka jika seorang anak belajar bahasa hendaknya dia belajar bahasa orang-orang yang bersyukur, belajar ilmu matematika maka ilmu matematikanya membuatnya pandai bersyukur, apalagi ketika ia belajar IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) fenomena alam hendaknya menjadi jembatan untuk bersyukur kepada Allah karena seluruh alam semesta merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah dan memperkenalkan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

 

Allah berfirman:

وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُواْ وَمَا يُلَقَّىٰهَآ إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٖ ٣٥

“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar” ( Fussilat: 35).

 

Bersyukur bukan hanya ucapan Alhamdulillah, tetapi dengan segala amal ibadah dan amal shalih yang niatnya ditunjukkan untuk mencari keridhaan Allah. bersyukur artinya meningkatkan seluruh potensi yang diberikan oleh Allah baik secara fisik, mental, maupun spritual.

 

Adapun bentuknya yaitu: Pertama, dengan mengucapkan Alhamdulillah. Kedua, dengan merasakan dan menikmati anugerah dari Allah dengan segenap jiwa dan raga. Ketiga, menjadikannya sebagai pemicu untuk meningkatkan kualitas hidup, ibadah, amal shalih dan prestasi. Imam Ibnul Qayyim merangkum makna syukur dengan pernyataan beliau “syukur adalah terlihatnya tanda-tanda nikmat Allah pada lidah hamba-Nya dalam bentuk pujian, dihatinya dalam bentuk cinta kepada-Nya, dan pada organ tubuh dalam bentuk taat pada Allah”.

 

Lidah orang-orang yang bersyukur tidak akan pernah menyanjung dan memuji selain kepada Allah, sedangkan hati orang yang bersyukur dipenuhi dengan cinta pada Allah. jika dia mencintai yang lain, maka cintanya karena Allah semata. Cinta ini dibuktikan dengan amal perbuatan yang dilakukan oleh seluruh organ tubuhnya. Mata dan telinganya taat dan taat kepada Allah, lidahnya digunakan untuk mengucapkan kata-kata yang benar dan bermanfaat sedangkan tangan dan kakinya digunakan untuk melakukan amal kebaikan. Aktifitasnya diniatkan semata-mata untuk mengharap ridha Allah. Wallahu a’lam.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA