Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

Monday, 22 Zulqaidah 1441 / 13 July 2020

Catatan Kelam Penyimpangan Seks Oknum Umayyah-Abbasiyah

Selasa 26 May 2020 02:20 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Oknum elite Umayyah dan Abbasiyah melakukan praktik seks menyimpang. Tolak LGBT/Ilustrasi

Oknum elite Umayyah dan Abbasiyah melakukan praktik seks menyimpang. Tolak LGBT/Ilustrasi

Oknum elite Umayyah dan Abbasiyah melakukan praktik seks menyimpang.

REPUBLIKA.CO.ID, Kendati Islam melarang tegas homoseksual, namun sejarah juga mencatat praktik haram ini berabad-abad setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Pada masa ini, terjadi pertumbuhan yang cepat dari kerajaan Islam disertai dengan peningkatan kesejahteraan. Namun, beberapa Muslim menyesali moral yang ada di dua kota suci ini, yakni di Makkah dan Madinah. 

Baca Juga

As-Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa menyebutkan, banyak elite khalifah di lingkungan Dinasti Umayyah yang terjerumus praktik haram ini. Khalifah Yazid, menurut sejumlah riwayat, melakukan perilaku homoseksual. Namun, menurut as-Suyuthi, yang paling terkenal parah adalah khalifah al-Walid bin Yazid bin Abd al-Malik. 

As-Suyuthi menyebutnya dengan gelar fasik: "al-Khalifah al-Fasiq Abu al-Abbas. Fakta ini tak hanya diutarakan oleh pengarang kitab al-Itqan fi 'Ulum al-Quran tersebut. Imam ad-Dzahabi dalam Tarik al-Islam mengungkapkan penyimpangan seksual al-Walid. Ia menulis dengan kalimat yang sangat terang benderang: "Al-Walid terkenal pemabuk dan gay," tulis ad-Dzahabi. Al-Walid akhirnya dibunuh oleh saudaranya, Sulaiman bin Yazid.      

Pada abad ke-8, praktik homoseksual di Abbasiyah menyebar begitu cepat, bahkan lebih luas di bawah dinasti baru. Dalam kitab tarikhnya, at-Thabari menggambarkan praktik LGBT di kalangan khalifah Abbasiyah adalah fenomena yang nyaris umum.

Khalifah al-Amin misalnya, meminta remaja-remaja laki-laki, dan berani memberi mereka harga mahal untuk memenuhi hasratnya siang dan malam. Ia menolak perempuan merdeka atau budak. Ibunya pernah mencoba mengalihkan kebiasaan buruknya itu dengan menyuruh perempuan berpura-pura sebagai pria, namun usahanya gagal.

Fakta ini juga dinukil kembali oleh E Van Donzel dalam The Encyclopaedia of Islam, Leiden. Al-Amin (809-813), misalnya, dikatakan memiliki budak perempuan yang wajib mengenakan pakaian maskulin sehingga ia bisa dibujuk untuk melakukan hubungan seks dan memiliki keturunan.

Penyair penting dari awal Abbasiyah (periode 750-835), Abu Nawas (756-814), yang lahir di Kota Ahvaz, juga menjadi master dari semua genre kontemporer puisi Arab. Ia berbagi untuk pria dan membuat puisi untuk merayakan cinta tersebut.  

Ada banyak contoh lain dari abad-abad berikutnya. Khalifah al-Mutasim pada abad ke-9 dan beberapa penerusnya juga dituduh memiliki perilaku homoseksualitas.  

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA