Tips Tetap Sehat Saat Idul Fitri

Rep: Eric Iskandarsjah/ Red: Muhammad Hafil

 Ahad 24 May 2020 05:55 WIB

Tips Tetap Sehat Saat Idul Fitri. Foto: Ilustrasi Ketupat Lebaran Foto: Republika/musiron Tips Tetap Sehat Saat Idul Fitri. Foto: Ilustrasi Ketupat Lebaran

Idul Fitri tidak lepas dari tradisi makanan khas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hari ini, Ahad (24/5) umat Islam di seluruh dunia dan Indonesia, merayakan Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H. Dan, berbagai sajian makanan pun biasanya terhidang di setiap rumah umat Islam.

Baca Juga

Lebaran memang tidak lepas dari tradisi makan makanan khas, seperti ketupat, kue-kuean, rendang, hingga opor ayam. Namun ingat, jangan sampai kebablasan. Jika ingin tetap sehat, ada caranya agar nikmatnya lebaran tak berujung masalah.

Akademisi dan Praktisi Klinis, Prof Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH MMB mengatakan, ada sejumlah hal yang harus tetap dikendalikan saat lebaran. Terutama terkait makanan. Mengingat, lebaran identik dengan ragam jenis sajian yang bikin orang bisa kalap.

“Batasi makanan yang terlalu asin atau terlalu manis,” kata Ari kepada Republika beberapa waktu lalu. Hal ini perlu ditekankan karena biasanya sajian lebaran dihiasi dengan ragam makanan dan minuman tinggi lemak, manis dan asin.

Apalagi, lanjut Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia(UI) Jakarta itu, berbagai penyakit kronis umumnya cenderung akan mengalami kekambuhan setelah lebaran. Sehingga, pengendalian diri jadi kunci.

Berdasar pengamatanya, pada pekan-pekan pertama setelah lebaran, pasien-pasien yang datang ke unit gawat darurat rumah sakit adalah pasien diare serta berbagai penyakit kronis yang mengalami kekambuhan seperti hipertensi yang tidak terkontrol, stroke, atau serangan jantung serta gula darah yang tidak terkontrol.

“Antisipasi berbagai penyakit setelah lebaran merupakan hal yang penting. Kita harus selalu ingat bahwa rangkaian lebaran dengan berbagai aktifitas akan membawa dampak yang kurang baik bagi kesehatan jika tidak disikapi dengan bijak,” ujarnya.

Ia menekankan, kue manis perlu dibatasi mengingat kue itu merupakan sajian dengan kalori tinggi, terutama kue cake. Karena, kue cake biasanya dibuat dengan kuning telur yang banyak dan otomatis membuatnya mengandung kolesterol yang tinggi.

Kemudian, ia menghimbau agar masyarakar dapat pandai-pandai mengatur porsi saat makan besar. Pasalnya, hidangan utama juga banyak yang mengandung santan yang kaya akan lemak.

“Apalagi, jika makanan tersebut dipanaskan berulang-ulang sehingga membuat kandungan lemak jenuhnya semakin tinggi dan ini tidak baik untuk kesehatan,” kata dia. Belum cukup sampai disitu, akumulasi kenikmatan yang membahayakan pun ditambah dengan hadirnya minuman bersoda. Alhasil, kalau lupa diri, maka potensi beragam penyakit pun kian besar.

Jika tidak dikendalikan, lanjut dia, pasien dengan penyakit kencing manis akan membuat gula darahnya menjadi tidak terkontrol. Kemudian, pasien dengan penyakit darah tinggi, tekanan darahnya menjadi tidak terkontrol dan pasien dengan hiperkolesterol atau asam urat tinggi maka keadaan kolesterol dan asam urat tingginya menjadi bertambah parah.

Ia pun menekankan, demi mengimbangi beragam jenis asupan itu, masyarakat dihimbau untuk dapat lebih banyak meminum air putih. “Apalagi saat ini sedang musim kemarau. Usahakan konsumsi air putih lebih dari dua liter sehari,” ucapnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X