Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Mengadon Nastar dan Harapan

Ahad 24 May 2020 05:20 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Mengoles nastar

Mengoles nastar

Foto: Yasin Habibi/Republika
Penjualan kue dan panganan tidak sebiru biasanya, seakan tertutup awan hitam pandemi.

REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO -- Wangi lelehan mentega bercampur sirup gula dan serbuk vanilla memenuhi udara saat jemari Kirana Pramathanawati (36) sibuk menguleni adonan. Di dekatnya ada semangkuk besar selai nanas buatan sendiri. Dia sering bercerita bahwa selainya diolah menggunakan nanas dari Jember yang sangat manis.

"Kemarin ini saya sibuk membuat kue kering pesanan pelanggan, sekarang saya akan membuat nastar untuk konsumsi sendiri," katanya sambil meratakan adonan menggunakan spatula warna marun.

Setelah adonan dicetak dan ditata di loyang, ia beranjak memanaskan oven lalu memanggang nastar menjadi setengah matang. Aroma khas membumbung dari mentega khusus yang digunakan.

"Setelah setengah matang seperti ini harus dikeluarkan dulu dari oven, oles dengan kuning telur bebek yang sudah dicampur minyak dan susu kental manis, setelah ini dipanggang lagi hingga matang sempurna," katanya sambil menunjuk bulatan nastar yang hampir matang.

Hari sudah hampir petang, sambil menunggu kue kering matang dia lalu melanjutkan obrolan. Langit senja terlihat dari sudut rumahnya di Jalan Suramenggala, Rejasari, Purwokerto Barat, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.

Selama bulan Ramadhan ini, kata dia, ada 60 pesanan kue kering dari para pelanggan dengan berbagai macam menu pilihan.

"Totalnya ada 60 toples pesanan kue kering karena disesuaikan juga dengan kondisi saya yang masih harus merawat kedua orang tua yang sedang sakit, kebetulan ibu sedang sakit stroke dan ayah saya sedang sakit gagal ginjal, saya harus merawat mereka," katanya.

Dia melanjutkan harga tiap toples kue yang ia jual sangat beragam, tergantung jenis dan ukuran. Rata-rata dibanderol dengan harga Rp 50.000 - Rp 75.000 yang berukuran 300 gram dan Rp 85.000 - Rp 125.000 untuk yang berukuran 500 gram.

Jenisnya banyak, ada kastengel, nastar, putri salju, sagu keju dan berbagai pilihan lainnya yang disusun dalam toples transparan berbahan mika.

"Saya memberi label produk kue dan makanan lain yang saya produksi dengan nama Sugatan, berasal dari bahasa Jawa kuno yang artinya hidangan atau sajian pesta," katanya.

Dia menyebutkan keuntungan dari berjualan kue kering sekitar 30 persen dari modal yang dikeluarkan. Sungguh berkat yang harus disyukuri di tengah situasi pandemi.

Bagi Kirana, awal pandemi langit tidak "sebiru" seperti biasanya, seakan-akan awan hitam menggantung seharian karena penjualan kue dan panganan yang selama ini ia lakoni menurun sangat tajam.

"Mungkin karena banyak orang bekerja dari rumah sehingga banyak waktu untuk memasak sendiri atau mungkin karena situasi pandemi membuat orang memutuskan untuk lebih mengatur pengeluaran atau karena alasan-alasan lainnya, karena itu saya memacu diri untuk lebih kreatif dalam menciptakan produk baru, misalkan frozen food dan kue kering," katanya.

Dengan berbekal media sosial dan aplikasi pesan instan, dia memasarkan kue keringnya ke para pelanggan, rekan-rekan, dan seluruh kenalan.

"Alhamdulillah, ada pesanan 60 toples kue kering dan pesanan hantaran Lebaran lainnya, cukup untuk menyambung kehidupan. Semoga pandemi ini cepat berakhir," katanya.

Senja yang makin memerah bersiap untuk menghantarkan malam, matanya terpejam sebentar, bibirnya merapal doa. Besok sudah Lebaran, ada kepingan harapan yang dia selipkan bersamaan dengan langit yang mulai temaram.

Harapan yang mungkin saat ini juga menjadi keinginan banyak orang agar pandemi cepat berlalu dan segera menghilang secepat angin sore di sisa-sisa musim hujan.

Tetap berkreasi
Dampak pandemi Covid-19 juga dirasakan oleh Eli Purwanti, warga Jalan Tipar, Kranji, Kabupaten Banyumas, yang selama ini sering menerima pesanan nasi kotak bila ada kegiatan seminar di salah satu fakultas di Universitas Jenderal Soedirman.

Namun sejak adanya pandemi pihak universitas menerapkan perkuliahan secara daring sehingga hampir tidak ada lagi kegiatan di kampus.

"Dengan demikian pesanan nasi kotak juga tidak ada sehingga pemasukan berkurang, namun karena harus tetap berkreasi maka saya menawarkan kue kering untuk Lebaran," katanya.

Hasilnya sungguh tidak mengecewakan. Sejak awal Ramadhan ada 150 toples pesanan kue kering yang ia kerjakan.

"Pesanan ada banyak mulai dari nastar, kastengel keju, kastengel pandan, putri salju pandan, kue kacang cokelat dan banyak pilihan lainnya," katanya.

Dia memang tidak menyebutkan berapa banyak keuntungan dari kue kering tersebut, namun raut wajahnya saat bercerita telah menunjukkan kegembiraan.

Dalam kondisi krisis, berapapun penghasilan yang didapatkan tentu menjadi sumber kebahagiaan, bagaikan harapan yang dikabulkan untuk tetap dapat bertahan di masa yang kurang membuat nyaman.

"Kalau keuntungan saya tidak ambil banyak karena prinsip bisnis saya adalah ambil sedikit yang penting lancar, pelanggan tidak kecewa dan nantinya akan tetap berdatangan pada intinya saya berjualan mengutamakan rasa dan Alhamdulillah masih bisa produksi dengan lancar pada masa seperti sekarang ini," katanya.

Dia berkeinginan untuk melebarkan sayap usahanya dalam menciptakan berbagai panganan yang memanjakan. Tentu saja bila wabah sudah menghilang.

Lalu diselipkannya sekeping harap dalam doa yang dipanjatkan di akhir bulan Ramadhan, agar dapat cepat berlalu segala hal yang ditakutkan.

Sehingga pada akhirnya nanti ia akan dapat menyambut musim kemarau dan melihat dengan bebas daun-daun yang mulai meranggas.


sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA