Resolusi Idul Fitri: Tumaninah, Covid-19, dan Ramadhan

Rep: Fergi Nadira/ Red: Muhammad Fakhruddin

 Sabtu 23 May 2020 15:50 WIB

Resolusi Idul Fitri: Tumaninah, Covid-19, dan Ramadhan (Ilustrasi). Foto: Edwin Dwi Putranto/Republika Resolusi Idul Fitri: Tumaninah, Covid-19, dan Ramadhan (Ilustrasi).

Momen Ramadhan saatnya menjadi terkendali bagi pikiran, perkataan, dan perbuatan.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Manusia di bumi kini tengah dihadapkan oleh krisis virus corona tipe baru atau Covid-19. Virus corona yang muncul sejak Desember di Wuhan, Provinsi Hubei, Cina kini telah mengubah banyak hidup orang-orang di seluruh dunia dalam perjalanannya selama hampir lima bulan.

Pemerhati Sosial, Jhody Arya Prabawa mengatakan, krisis virus corona adalah momentum bagi diri untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk luar untuk kembali ke dalam. Bagi Muslim yang menjalankan Ramadhan di mana pun, krisis Covid-19 bisa menjadi ranah kontemplasi diri untuk berhadapan dengan konsekuensi yang tidak terhindarkan lagi, yaitu evaluasi diri dan resolusi Idul Fitri.

Menurutnya, momen Ramadhan adalah saatnya manusia menjadi terkendali bagi pikiran, perkataan, dan perbuatannya. Seperti hal-nya definisi iman yaitu dibenarkan dengan qalbu, diucapkan lisan dan ditunjukkan oleh perbuatan.

Dia mengelidkan krisis Covid-19 dan Ramadhan seperti kisah Nabi Yunus. Dikisahkan bahwa Nabi Yunus berdoa di perut ikan hiu agar keluar dari kesengsaraan berada di dalam perut ikan hiu.

 لَاإِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Laa ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadz dzolimin

Artinya: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim." (QS. Al‐Anbiya': 87).

"Sebelum meminta kepada Tuhannya, dia (Nabi Yunus) intropeksi dulu. Dia mengakui berada dalam kezaliman, dia mengakui telah berbuat salah. Pengakuan yang jujur, dan ia mendapatkan hidayah ketika beliau melakukan intropeksi," ujarnya dalam sarasehan virtual yang diselenggarakan oleh Abhanuraga Nusantara dalam programnya Spiritual Education and Empowerment (SEE), Jumat (22/5).

Intropeksi diri dengan melihat sejujurnya ke dalam diri ini merupakan esensi ramadhan sekaligus esensi dari krisis Covid-19 yang tengah mengintai. Dari situ, manusia mulai menyadari keterbatasan dirinya sebagai bagian dari pendewasaan. "Dan itu sebetulnya salah satu dampak dari berhasilnya upaya kita dalam bulan ramadhan terkait dengan pikiran, perkataan, dan perbuataan," ujar Jhody yang juga mendalami tentang spiritual science.

Tumaninah

Jhody mengatakan, bulan Ramadhan ini pun adalah waktu kunci dalam menyikapi krisis Covid-19 yang telah merenggut lebih dari 330 ribu nyawa di seluruh dunia. Covid-19 maupun Ramadhan itu merupakan momen tumaninah dalam sholat. Untuk itu, penting bagi individu mengetahui makna tumaninah.

Tumaninah adalah diam sejenak setelah gerakan sebelumnya, khususnya ruku dan sujud. Tumaninah banyak dianggap tidak penting, namun juga banyak hadist yang mengatakan bahwa tumaninah sangat penting yang bahkan mengatakan, tanpa tumaninah, sholat seseorang tidak sempurna.

"Ini menarik, Allah sendiri memberi isyarat kepada Rasul adanya momen untuk berhenti sejenak. Sebab, cepat tidak berarti tepat. Ada banyak sekali hal-hal penting yang hanya bisa terlihat ketika kita tengah melambat," ujar Jhody.

Menurutnya, tumaninah di masa Covid-19 bukan hanya dilakukan Muslim, namun juga dunia. Covid-19 memaksa dunia untuk melakukan rehat sejenak, terlepas dia berpuasa atau tidak. Covid-19, kata dia, adalah sebuah guncangan yang tujuannya justru membangunkan. "Covid-19 ini adalah momen kapan kita bertindak, dan juga momen kapan kita berhenti bergerak," ujarnya.

Masa-masa krisis Covid-19 ini pun dapat dianalogikan dengan roda kehidupan, yang kadang di atas, dan kadang di bawah. Terkecuali saat bannya kempes. Covid-19 juga dapat dianalogikan sebuah ketapel yang ditarik mundur dulu untuk mencapai lepas yang lebih jauh dan kuat.

"Dalam Covid-19 dan ramadhan kali ini kita mengalami kemunduran, justru kita manfaatkan, jika memang diperlukan mundur sejauh mungkin untuk maju lebih jauh lagi, lakukan. Itulah kesempurnaan," kata Jhody. Kesempurnaan bukan berarti tidak ada cacat celah, kesempurnaan itu adalah seimbang, dan pas.

"Ketika kita diam, kita jadi menemukan hal-hal yang hanya bisa dilihat ketika kita melambat. Nah itu kita manfaatkan," ujarnya menambahkan.

Jhody pun memberikan tips dan langkah bagi pembangunan jiwa pascapandemi untuk bergerak menuju kehidupan normal yang baru. Dia menjabarkan lima cara yang ia singkat menjadi 5S, Situasi, Sebab-sebab, Selanjutnya, Sumber daya, dan Sekarang juga.

Dalam mengahapi kehidupan pascapandemi, pertama-tama manusia harus melihat dan menyadari Situasi. Manusia harus jujur bahwa dirinya ada di situasi mana, secara finansial, mental, spiritual, dan sosial. "Misalnya, oke di masa Covid-19 aku dipotong gajinya, tidak bisa keluar, di rumah saja, dan sebagainya, letakkan sejujur mungkin," katanya.

Setelah menyadari situasi, yang kedua manusia menyadari sebab-sebab ada di situasi seperti ini. Sebab-sebab ini penting, karena dari situ, manusia mengetahui kemana harus bergerak. Setelah mengetahui sebab-sebab berada di situasi kini, langkah ketiga yang dilakukan adalah menentukan tujuan hidup apa yang harus dilakukan setelah pandemi ini. Oleh karenanya, setelah itu, langkah keempat manusia perlu menyadari sumber dayanya, atau apa pun yang ada di dirinya dan sekitarnya.

"Kita masih punya apa yang ada di diri kita, di sekitar kita, gadget, koneksi internet, kita sadari bahwa kita punya apalagi dan apa yang kita ngga punya di tangan kemudian kita punya apalagi yang sebetulnya kita butuh tapi belum kita kuasai tapi kita tahu kemana harus mencari kalo kita bisa mengasuai. Itu dipetakan dulu," jelasnya.

Setelah itu, langkah terakhir adalah dilakukan sekarang juga yang artinya empat langkah sebelumnya dilakukan sekarang agar terencana. Kemudian setelah melakukan lima cara itu, manusia berserah kepada Allah SWT. Sebab, wilayah manusia adalah merencanakan, Allah lah menentukan. 

Sebagaimana ayat Allah di QS Al-Insyirah: 6 yang berbunyi "Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan," yang diulang dua kali. Kemudian dua ayat selanjutnya menjelaskan, tentang ketika telah selesai satu urusan, manusia diminta melakukan untuk urusan yang lain. Lalu, ayat terakhir dilanjutkan tentang hak preogratif Allah dalam memberikan hidayah bagi siapa yang jujur berusaha dengan sabar, benar, dan ikhlas.

"Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap," (QS Al-Insyirah: 7-8).

"Maka apabila kamu telah selesai dari segala urusan termasuk Covid-19, kerjakan lah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, atau urusan yang lain urusan berikutnya, capaian berikutnya, visi berikutnya, misi berikutnya. Kemudian, di ayat ke-8, hanya kepada Tuhanmulah kamu berharap, sebab, urusan Covid-19 juga urusan Tuhan, mau ada konspirasi atau apapun, bahwa sesungguhnya hidup mati di tangan Tuhan," jelasnya.

"Jangan lupa tumaninah, karena tumaninah itu adalah hal yang menyelamatkan kita dan yang membedakan kita, agar bermakna dalam perjalanan kita, dan Covid-19 maupun Ramadhan itu lah momen tumaninah yang akan menyempurnakan meluruskan apapun yang kita lakukan baik sekarang maupun nanti," tutupnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X