Netizen Masih Saling Hujat Selama Bulan Puasa

Rep: Andrian Saputra/ Red: A.Syalaby Ichsan

 Ahad 24 May 2020 09:46 WIB

Pendiri dan Analis Drone Emprit Akademik, Ismail Fahmi, dalam diskusi Foto: Republika/Dian Erika N Pendiri dan Analis Drone Emprit Akademik, Ismail Fahmi, dalam diskusi

Pertengkaran masih dilatarbelakangi pertarungan Pilpres 2019

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Fenomena saling hujat antar pengguna media sosial saat Ramadhan dan di tengah pandemi Covid-19 masih terus terjadi. Pengamat media sosial yang juga pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi menjelaskan, masih banyak netizen yang saling hujat di medsos. 

Pertengkaran tersebut masih karena dilatarbelakangi pertarungan politik saat Pemilu Presiden  2019 . Banyak buzzer dua kubu yang bertarung di pilpres tahun lalu masih saling hujat di media sosial terutama berkaitan dengan program dan kebijakan. 

"Tidak ada bedanya Ramadhan dengan sebelumnya, karena ini bawaan polarisasi yang engga akan pernah hilang. Dengan cara-cara masih ada buzer kan dari dua kubu, yang profesional dibayar. Dan dalam komunikasinya itu hanya mengkomunikasikan program, tapi menghujat-hujat juga," kata Ismail kepada Republika pada Senin (18/5). 

Meski demikian,  Fahmi menjelaskan, ada kecenderungan kesamaan sikap netizen terkait pencegahan untuk memutus penyebaran  Covid-19.  Netizen cenderung akan menghujat pihak-pihak yang tidak mendukung langkah-langkah pencegahan Covid-19 serta pihak-pihak yang tidak mendukung upaya tenaga kesehatan dalam memerangi Covid-19. 

"Semisal ada yang menstigma menolak tenaga kesehatan, itu mereka langsung hajar. Prinsipnya pada covid ini netizen mengikuti apa yang direkomendasikan, tidak ngumpul-ngumpul, begitu ada yang ngumpul siapa pun itu dihajar. Entah itu di masjid, di pasar , di depan Sarinah termasuk yang jamaah tabligh. Karena mereka melihat ini berbahaya bagi komunitas secara umum. Entah itu eksekutif, atau siapapun yang bergerombol ini dihajar semua sama netizen," kata dia. 

Di luar itu, Fahmi menilai, ada hal isu-isu terkait covid-19 yang membuat perbedaan pandangan netizen di media sosial hingga berujung saling menghujat bahkan saling menyebarkan berita hoax. Misalnya saja dengan adanya isu konspirasi dibalik pandemi covid-19 hingga membawa ras dan suku bangsa tertentu sebagai penyebab pandemi covid-19. 

"Masing-masing ada pendukungnya mereka saling hujat. Misal soal covid-19 itu bikinan Cina, ada sentimen Cina. Dari sisi lain ada buatan Yahudi, akibatnya mereka saling serang," katanya. 

Terkait kebijakan yang diambil pemerintah terhadap penanganan covid-19, menurut Ismail, banyak netizen yang juga mengungkapkan  kebingungannya terlebih bila terjadi ketidak sesuaian pengambilan kebijakan antara pusat dan daerah. Namun pada akhirnya, menurut Ismail, netizen terbagi pada polarisasi politik yang dilahirkan saat pilpres tahun lalu. 

"Secara umum netizen itu bingung dengan kebijakan, gimana menghadapi itu, bingung karena berubah-ubah. Bahkan terkadang bertolak-belakang pusat dan daerah dengan menteri sehingga tidak sinkron membuat bingung netizen. Ujungnya saling serang lagi, polarisasi politik lagi seperti pilpres," tuturnya.

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X