Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Spesies Tokek Baru Ditemukan di TN Bali Barat

Sabtu 23 May 2020 13:52 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Dwi Murdaningsih

Tokek

Tokek

Spesies endemik baru ini oleh peneliti, diberi nama Cyrtodactylus jatnai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Spesies endemik baru satwa reptil dari jenis Gecko Cyrtodactylus atau dalam bahasa lokal dikenal dengan nama tokek ditemukan di Taman Nasional Bali Barat. Para peneliti telah memuat  penemuan spesies baru ini dalam jurnal TAPROBANICA Vol 09 No 1, Mei 2020.

Baca Juga

Publikasi ini ditulis bersama oleh para peneliti yang terdiri dari  A.A. Thasun Amarasinghe (Research Center for Climate Change Universitas Indonesia/RCCC UI), Awal Riyanto (Museum Zoologicum Bogoriense/MZB), Mumpuni (Museum Zoologicum Bogoriense/MZB), dan Lee L Grismer (La Sierra University, California, AS).

Spesies endemik baru ini oleh peneliti, diberi nama Cyrtodactylus jatnai. Penamaannya diberikan sebagai penghargaan kepada ahli konservasi, ekologi dan primatologi Prof. Jatna Supriatna (Universitas Indonesia) yang lahir di Bali, atas kontribusinya bagi konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia dan juga atas kebaikan serta dukungan yang diberikan selama kegiatan penelitian.

Menurut Amarasinghe dkk. (2020), sejak seratus tahun yang lalu, spesies tersebut dikenal sebagai Cyrtodactylus fumosus.  Namun, berdasarkan pemeriksaan mendetail, ditemukan bahwa Cyrtodactylus dari Bali, setidaknya adalah satu spesies yang berbeda.

Secara morfologi dan contoh dari beberapa daerah biogeografi lainnya menunjukkan kemiripan dengan Cyrtodactylus seribuatensis dari Pulau Seribuat di Malaysia bagian barat. Tetapi ada ciri morfologi yang membedakan, yaitu pada bagian sisiknya.

Kepala Balai TNBB Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Agus Ngurah Krisna, menyampaikan penemuan ini merupakan hasil penelitian dalam rangka kerjasama antara Balai TNBB dengan Pusat Riset Perubahan Iklim Universitas Indonesia tentang Pelaksanaan Demonstrasi Proyek The Rainsforest Standard Protected Area Credit di Kawasan TNBB pada tahun 2015 sampai dengan tahun 2016.

"Masih terdapat kemungkinan bertambahnya spesies baru dari hasil kegiatan penelitian ini. Beberapa jenis herpetofauna masih unidentified dan sedang dalam penelitian mendetail oleh Tim Peneliti RCCC UI dan MZB," ujarnya dalam keterangan resmi KLHK, Sabtu (23/5).

Temuan spesies baru menambah keanekaragaman hayati Kawasan TNBB dimana sebelumnya tercatat terdapat 18 jenis mamalia, 205 jenis burung, 13 jenis reptil, 10 jenis amfibi, 67 jenis kupu-kupu dan lebih dari 120 jenis ikan.

Hal ini juga didukung oleh keberadaan ekosistem yang cukup lengkap mulai dari ekosistem hutan hujan dataran rendah dengan 72 jenis pohon, ekosistem hutan musim dengan 66 jenis pohon, ekosistem savana dengan 55 jenis pohon, ekosistem mangrove dengan 18 jenis pohon, ekosistem hutan pantai dan ekosistem terumbu karang.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA