Ini yang Dipakai Rasulullah SAW Saat Hari Raya

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil

 Sabtu 23 May 2020 12:56 WIB

Ini yang Dipakai Rasulullah SAW Saat Hari Raya. Foto: Rasulullah SAW (ilustrasi) Foto: Republika/Kurnia Fakhrini Ini yang Dipakai Rasulullah SAW Saat Hari Raya. Foto: Rasulullah SAW (ilustrasi)

Rasulullah kerap mengenakan surban di kepala.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ketika hari raya, terdapat sunnah Rasulullah tentang bagaimana berhias atau berpakaian. Menurut Imam Syafi’i dalam kitabnya berjudul Al-Umm, di hari raya Rasulullah kerap menggunakan burd habarah (mantel buatan Yaman).

Baca Juga

Sebelum membahas lebih jauh mengenai apa itu yang dikenakan Rasulullah SAW. Ada baiknya perlu dipahami bahwa dalam memahami sunah Rasulullah SAW, umat Muslim tidak bisa memukul rata bahwa seluruhnya wajib atau dijadikan hujah dalil syariat.

Dalam kitab Ushul Fiqh karya Abu Zahrah dijelaskan, para ulama ahli fikih membagi ketentuan sunah dalam beberapa kriteria. Yakni perbuatan Rasulullah SAW yang berkaitan dengan syariat (sholat, puasa, haji, utang-piutang, dan sebagainya), perbuatan Rasulullah yang berlaku khusus pada diri beliau (menikahi lebih dari empat orang istri), dan perbuatan beliau tentang kebiasaan, tradisi, atau tentang tata cara keseharian dalam berpakaian, makan, dan kesukaan yang berkaitan dengan keseharian.

Sebagai bangsa Arab, tentu saja Nabi sangat mencintai produk-produk lokal bangsanya. Dalam hari raya Idul Fitri pun, Rasulullah mengenakan pakaian asli bangsa Arab. Beliau juga menyukai kurma Ajwa sebagai salah satu komoditi sehat yang sangat asli Madinah.

Untuk itu, di hari raya Idul Fitri sebagaimana yang dijabarkan oleh Imam Syafi’i, selain mengenakan burd habrah, Rasulullah juga kerap mengenakan surban di kepala. Mengenakan kedua jenis pakaian itu merupakan cara bagaimana Rasulullah menghias diri di hari raya, sebab apa yang dikenakan beliau dianggap sebagai pakaian terbaik yang dimiliki Rasulullah yang kerap juga dipakai pada sholat Jumat.

Untuk itu Imam Syafi’i berpendapat bahwa mustahab (sesuatu yang dikerjakan oleh Rasulullah satu dua kali. Dikerjakan mendapat pahala, ditinggalkan tidak mendapat dosa) hukumnya. Beliau menyatakan, mustahab bagi orang yang mengenakan pakaian terbaik di sholat Jumat, sholat hari raya, dan tempat berkumpulnya orang banyak.

Imam Syafi’i juga menambahkan, hendaklah di waktu-waktu sholat tersebut umat Muslim membersihkan diri dan memakai wangi-wangian. Namun, jangan sampai berhiasnya orang Muslim di sholat hari raya keluar dari ketentuan syariat.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X