Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Lebaran

Lebaran Kolonial: Tahun Baru Pribumi Hingga Shalat Seikerei

Sabtu 23 May 2020 12:15 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Suasana shalat Ied di kala zaman kolonaial Belanda.

Suasana shalat Ied di kala zaman kolonaial Belanda.

Foto: pmterest
ahun Baru Pribumi Hingga Shalat Idul Fitri ala Seikerei

REPUBLIKA.CO.ID, -- Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran bagi masyarakat Muslim Indonesia memang sangat berarti. Dan hal yang sama juga berlaku di wilayah lain, misalnya di Arab Saudi. Meski di sana tak terlalu akrab dengan perayaan Idul Fitri karena bagi mereka perayaan hari raya lebih terasa di hari raya Idul Qurban, suasana idul fitri dengan mudiknya juga terasa. Berbondong-bondong Saudi orang pulang seperti para pekerja asing dari India, Pakistan, Indonesia yang juga ada di sana.

Lalu bagaimana di perayaan lebaran di zaman kolonial? Pada zaman penjajahan Belanda lalu tak ada hambatan apa-apa. Lebaran di rayakan dengan khidmat. di Batavia kawasan Lapangan Banteng atau Lapangan Waterloo dijadikan tempat digelarnya shalat Idul Fitri atau Ied.

Pelaksanaan ibadah salat Idul Fitri  di zaman penjajahan Belanda tidak dilarang dan bahkan diizinkan di tempat terbuka. Salah satunya yang diliput oleh media adalah di Waterlooplein (Lapangan Waterloo), kini Lapangan Banteng.

Bahkan oleh sebuah koran yang terbit di Batavia tahun 1939, Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie, shalat Ied digelar di sana sudah untuk yang kedua belas kalinya. Berati diperkiraan mulai pertengahan 1927 kawasan Lapangan Banteng sudah dipakai untuk shalat Ied. Bahkan, koranl-koran yang terbit kala itu beberapa hari sebelumnya sudah memuat berita mengenai akan dgelarnya shalat Ied di tempat itu.

Selama perayaan lebaran, Batavia pun hiruk pikuk. Orang-orang pergi silaturahmia dan pesiar. Trem-trem penuh angkutan. Orang Betawi sangat merayakannya. Meski hidup sederhana di kampung-kampung mereka sangat bergembira menyambutnya. Semenjak malam lebaran mereka takbiran dan sudah berbagai makanan ditempat saudara yang diistilahkan dengan 'Ngejot'. Aneka hidangan ada di sana, dari kue tradisional seperti Dodol hingga masakan ikan bandeng.''Di malam lebaran kami bahagia sekali. Semua pakaiannya baru,'' kata budayawan Betawi Ridwan Saidi dalam sebuah percakapan di media sosial.

Pernyataan ini bersesuain dengan suasana lagu jenaka dibawah ini 'Selamat Hari Raya Lebaran' karya Ismail Marzuki. Lagu ini menceritakan suana lebaran di Ibu kota. Di lirik lagu ini ada kata 'milir' dan 'mudik', trem kota yang digratiskan, dan rencana mengkawinkan anak. Juga ada kritik soal soal kebiasaan berjudi di malam lebaran oleh sebagian orang dan himbauan agar pejabat jangan lakukan korupsi.

                                       ******
Pemerintah kolonial pun tak mengganggu perayaan lebaran. Mereka malah menjaga dengan ketat shalat ied dan perayaan lebaran. Mereka sangat paham perasaan bahagia yang tengah ada di dalam masyarakat. Bahkan pejabat Belanda pun ikut-ikut merayakannya. Mereka membuka diri untuk menerima kunungan tamu selama lebaran di rumahnya.

Uniknya, hiruk-pikuk perayaan lebaran ini juga tak lepas dari pengamatan penasihan pemerintah olonial, Snouck Hurgronje. Dalam sebuah suratnya kepada Direktur Pemerintahan Dalam Negeri HPemerintah Hindia belanda tanggal 20 April 1904 dia memberikan pandangan mengenai soal lebaran. Dia mengakui, di mana-mana di seluruh Hindia Belanda perayaan lebaran laksana pestau khusus yang meriah bagi kaum pribumi. Bahkan sempat disebut sebagai ' Tahun barunya' orang-orang pribumi.

"Di mana-mana perayaan pesta ini disertai hidangan makan khusus, saling bertandang yang dilakukan oleh kaum kerabat dan kenalan, pembelian pakaian baru, serta berbagai bentuk hiburan yang menggembirakan,” tulis Snouck Hurgronje dalam “Surat Kepada Direktur Pemerintahan Dalam Negeri”, 20 April 1904, termuat di Nasihat-Nasihat Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1939 Jilid IV.