Mudik Saat Pandemi Tambah Beban Moral di Rumah

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Indira Rezkisari

 Sabtu 23 May 2020 12:06 WIB

Pemudik melintasi Jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, Sabtu (23/5). Pada H-1 Lebaran Idul Fitri 1441 H, kawasan Nagreg yang biasanya ramai pemudik kini terpantau lancar dan sepi menyusul larangan mudik oleh pemerintah guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA Pemudik melintasi Jalur Nagreg, Kabupaten Bandung, Sabtu (23/5). Pada H-1 Lebaran Idul Fitri 1441 H, kawasan Nagreg yang biasanya ramai pemudik kini terpantau lancar dan sepi menyusul larangan mudik oleh pemerintah guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19

Warga di rumah justru bisa mengucilkan karena ketakutan pemudik bawa virus Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar mengatakan aktivitas mudik pada saat pandemi virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) justru dapat menambah beban moral baru bagi orang tua (ortu) di kampung halaman. Mereka akan dikucilkan karena tetangga orang tua yang merasa takut kedatangan tamu dari wilayah zona merah.

Menurut Nasaruddin, hal itu dapat terjadi karena pemudik pada masa pandemi Covid-19 seperti sekarang ini juga berpotensi mengundang kekhawatiran bagi tetangga orang tua di rumah.

"Kalau kita mudik sekarang, kasihan (orang tua), memberikan beban moral terhadap orang tua kita. Banyak pengalaman yang kita terima dari kampung. Akhirnya orang tuanya dikucilkan gara-gara (menerima) tamunya, misalnya anaknya dari Jakarta," kata Nasaruddin saat video conference akun Youtube saluran Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (23/5).

Kehadiran pemudik dari kota besar seperti Jakarta akan membuat tetangga orang tua di kampung menjadi takut tertular virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Sebab, aktivitas mudik juga sangat berpotensi membuat seseorang menjadi pembawa virus, meski tanpa gejala atau tidak menunjukkan sakit, kepada orang tua dan lingkungan sekitarnya. Ini gara-gara tetangga membawa tamu dari kota.

"Jadi kita mungkin pulang kembali kota, tetangga masih was-was dan orang tua kita masih dikucilkan tetangga. Jadi kalau kita mudik sekarang, itu sangat membebani orang tua kita di sana (di kampung)," imbuhnya.

Oleh karena itu, Nasaruddin mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mudik dan tetap di rumah saja. Sehingga tidak membebani orang tua di kampung halaman. Sudah mereka hidup rukun, tapi kehadiran anaknya dari zona merah malah justru membuat orang tua kita itu nanti dikucilkan.

"Kita sudah kembali ke Jakarta, orang tua kita dikucilkan. Apalagi kalau misalnya ada yang sakit di tempat itu, jangan-jangan dikutuk, dilaknat orang tua kita. Naudzubillah mindzalik," katanya.

Jadi, ia menegaskan ini bukan membawa kebahagiaan tapi seperti membawa malapetaka. Nasaruddin juga berharap agar masyarakat tetap sabar menunggu hingga keadaan menjadi lebih baik.

Baca Juga

Kemudian silaturahmi bisa dilakukan secara dalam jaringan (daring) dan aplikasinya banyak tersedia. Di satu sisi, dia juga meminta masyarakat agar berdoa dan bersama-sama melakukan upaya pencegahan, sehingga berakhirnya Bulan Suci Ramadan juga memberi keberkahan bagi umat Muslim.

"Semoga kepergian bulan Ramadhan juga membawa virus corona ini. Siapa tahu ada keajaiban atas doa yang kita panjatkan," ujarnya.




BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X