Sabtu 23 May 2020 07:59 WIB

Sekolah Ditutup, Pakar Harvard Ungkap Risiko Homeschooling

Banyak orang tua di AS yang mulai mempertimbangkan homeschooling.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda
Ilustrasi homeschooling. Sekolah di rumah berpotensi membuat anak tertinggal secara akademis dan memicu kekerasan pada anak di rumah.
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Ilustrasi homeschooling. Sekolah di rumah berpotensi membuat anak tertinggal secara akademis dan memicu kekerasan pada anak di rumah.

REPUBLIKA.CO.ID, CAMBRIDGE -- Pakar homeschooling dari Harvard Law School, James Dwyer, tidak yakin penutupan sekolah sementara merupakan pilihan tepat. Sejak Maret 2020, sebagian besar sekolah di Amerika Serikat tutup dan pindah ke pembelajaran jarak jauh.

Menurut Dwyer, homeschooling berpotensi membuat anak tertinggal secara akademis. Profesor yang menulis buku Homeschooling: The History and Philosophy of a Controversial Practice itu juga menyebutkan homeschooling memicu kekerasan pada anak di rumah.

Baca Juga

"Mengingat apa yang kita ketahui tentang kerentanan relatif terhadap virus corona, keputusan penghentian kegiatan belajar di sekolah lebih megutamakan kesejahteraan orang dewasa daripada kesejahteraan anak-anak," ungkapnya.

Dwyer merujuk pada kondisi umum di mana anak-anak memiliki kans lebih rendah tertular Covid-19 dibandingkan orang dewasa dan lansia. Dia berpendapat, akan jauh lebih baik jika sekolah dibuka kembali sesegera mungkin.

Pendapat Dwyer mungkin terkesan ekstrem, tapi dia punya dasar untuk argumennya. Studi pada 2014 menemukan bahwa 47 persen anak korban kekerasan adalah yang bersekolah di rumah serta 29 persen lain tidak pernah terdaftar di sekolah.

Sebelum pandemi corona merebak, tiga persen anak-anak di Amerika Serikat yang mengikuti homeschooling. Dwyer menyerukan kepada orang tua dan siapapun yang kini mendampingi anak belajar di rumah memiliki pendidikan dasar demi kemajuan akademik siswa.

Profesor lain di Sekolah Hukum Harvard, Elizabeth Bartholet, sepakat bahwa anak-anak lebih rentan dengan kekerasan dan pelecehan setelah penutupan sekolah. Terlebih, pandemi memberikan lebih banyak pemicu bagi orang tua dan pengasuh untuk bersikap kasar.

"Ketegangan di rumah yang mengarah pada penganiayaan sangat mungkin melonjak karena meningkatnya pengangguran, ketakutan terhadap Covid-19, isolasi, dan kemungkinan meningkatnya penggunaan alkohol dan obat-obatan," ujarnya, dikutip dari laman Insider.

Hal yang bisa semakin memperparah masalah adalah keputusan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS bahwa pekerja sosial tidak perlu memantau anak asuh secara langsung. Komunikasi dilakukan melalui konferensi video.

Bartholet mengatakan, pekerja sosial seharusnya tetap melakukan kunjungan langsung ke rumah untuk mengetahui lebih akurat apakah anak-anak dalam kondisi aman. Dia tidak mau kegiatan belajar dari rumah justru berujung pada penganiayaan.

Pada April 2020, Bartholet menerbitkan makalah di Arizona Law Review mengenai risiko terkait homeschooling. Kelemahan utama dalam sistem, menurut Bartholet, adalah masih sedikitnya peraturan soal homeschooling.

Dia sebenarnya setuju bahwa menutup sekolah untuk sementara waktu sangat penting untuk mencegah penyebaran corona. Di sisi lain, Bartholet khawatir banyak keluarga nantinya lebih memilih homeschooling setelah sekolah kembali buka.

Data menunjukkan, dugaan Bartholet benar. Survei oleh RealClear Opinion Research yang melibatkan 2.122 responden mengungkap, 40 persen keluarga mempertimbangkan menyekolahkan anak di rumah atau sekolah virtual setelah pandemi berlalu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement