Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Dakwah Ustadz Populer di Medsos: Komodifikasi Agama?

Sabtu 23 May 2020 05:23 WIB

Red: Elba Damhuri

Muhammad E Fuady, dosen Fikom Unisba

Muhammad E Fuady, dosen Fikom Unisba

Foto: dokumen pribadi
Kini bermunculan istilah ustadz medsos, kiai dumay, dan ajengan digital

REPUBLIKA.CO.ID --- Oleh Muhammad E Fuady, Akademisi di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unisba

“Bul ‘alaa zamzam fatu’raf”, sebuah pepatah Arab mengatakan “kencingilah sumur zamzam maka engkau akan terkenal”. 

Pepatah itu ditujukan pada siapapun yang mencari ketenaran dengan cara instan, nyleneh, menyalahi kebiasaan, bertindak aneh atau tidak biasa dengan perumpamaan mengencingi sumur zamzam di Arab Saudi. 

Sumur yang airnya dipandang “suci” oleh umat Islam di seluruh dunia. Jika seseorang berani mengencingi sumur zamzam, ia pasti mencari perkara, namun ia akan menjadi trending topik dunia karena aksi gilanya.

Di era informasi ini, aksi kontroversial kerapkali dipertontonkan ke tengah publik di berbagai media. Orang yang mencari popularitas adakalanya mengambil tindakan yang cenderung melawan logika dan kebiasaan  umum masyarakat. 

Sesuatu yang tidak biasa, tidak wajar, dan tidak pantas diucapkan, digunakan untuk memancing perhatian publik. Membangun kontroversi adalah cara instan yang dapat dipilih seseorang untuk menjadi popular.

Seseorang yang awalnya bukan siapa-siapa, tanpa menyebut nama, dengan berbagi kehidupan pribadi, mewah, romansa, dan asmara di media sosial, mendadak menjadi bintang. Detail kehidupan pribadi mereka ditonton jutaan follower-nya. 

Keluarga Kardashian yang bukan siapa-siapa, setelah menyiarkan kehidupan pribadi yang penuh kontroversi, kemudian menjadi pesohor di Amerika. Vicky Prasetyo yang tak dikenal publik, gegara setting drama percintaan dengan berbagai artis dan gaya bahasa yang unik, dikenalah ia sebagai selebritis di tanah air.

Kini siapa pula yang tak mengenal Barbie Permatasari dan berbagai kontroversinya. Popularitas mereka melesat bak meteor. Media sosial memberi ruang dan kesempatan kepada siapa saja untuk menjadi pesohor, seleb, tokoh, from nobody become somebody.

Untunglah tak semua konten media sosial berisikan drama, kekonyolan, dan kontroversi. Di era keterpurukan media massa ini terdapat banyak pilihan konten keagamaan di media sosial, terutama Instagram dan Youtube. Semenjak teknologi internet hadir secara personal, kehidupan beragama pun bertransformasi. 

Bila dahulu Gebner menyatakan televisi adalah ruang peribadatan masyarakat industri, kini kita dapat sebut internet adalah ruang ritus yang penuh kekhidmatan bagi jamaah di seluruh pelosok bumi. Khutbah para pedakwah dan pesohor di sana boleh jadi lebih menggetarkan hati dan kesadaran manusia.

Tak heran kini bermunculan istilah ustadz “medsos”, kiai “dumay”, dan ajengan “digital”. Hari ini kita familiar dengan kehadiran para pedakwah di Instagram dan Youtube.

Dulu kita mengenal sosok KH Zainuddin MZ (alm), sang kyai sejuta umat. Kini kita mengenal Ustadz Abdul Somad yang dikenal dengan UAS, sang ustadz dengan jutaan follower. 

Jumlah subscriber dan followernya memang fantastis. Di kalangan nahdliyin, kyai yang popular di Youtube adalah KH Anwar Zahid, jauh sebelum public mengenal UAS. Kini kyai muda dari Nahdhatul Ulama yang digandrungi di media sosial adalah KH Ahmad Bahauddin Nursalim yang sohor dengan panggilan Gus Baha.

Ustadz Abdul Somad memiliki 2m4 juta follower, Ustadz Adi Hidayat (UAH) mencapai 2,6 juta, sementara KH Abdullah Gymnastiar (AA Gym) mencapai angka 5,2 juta. 

Di Youtube, pengikut UAS mencapai 458 ribu selisih seribu di atas UAH, sementara Aa Gym mencapai 250 ribu pengikut. Ustadz muda yang digandrungi anak muda dengan Gerakan Pemuda Hijrah, Hanan Attaki memiliki 7,9 juta follower dan 936 ribu subscriber.

Penghasilan keempat pedakwah dari Youtube memiliki kisaran belasan hingga ratusan juta rupiah.  Dengan aplikasi Noxinfluencer, pendapatan para ustadz dapat dihitung dan hasilnya sangat fantastis, mencapai angka milyaran rupiah.

Dengan monetizing, UAS mendapat penghasilan dari YouTube. Penghasilan dari platform video ini diperoleh bila dalam setahun channel tersebut ditonton dengan durasi setara 4.000 jam. 

Video UAS di saluran Tafaqquh Video telah ditonton hingga 14,8 juta viewers. Saluran tersebut juga dimonetisasi sehingga video-videonya mendapat iklan dari YouTube. 

Dari akun socialblade.com, dapat ditaksir pendapatan UAS terendah sekitar 3.700 dolar AS per bulan, dan tertinggi mencapai 711.400 dolar AS per tahun, setara Rp 51.800.000 per bulan, dan sekitar Rp 9.959.600.000 pertahun.

YouTube memang memberikan bayaran pada pembuat konten kisaran satu sampai lima dollar AS (Rp 13.500 – Rp 67.500) setiap video ditonton 1.000 kali.  Kreator konten dulunya juga menikmati 70 persen dari revenue iklan. 

Namun kini YouTube juga mengambil bagian 50 persen dari total revenue iklan yang tayang di video. Jadi kreator konten akan mendapatkan sekitar 1.000 hingga 5.000 dollar AS (Rp 13,5 juta – Rp 67,5 juta) setiap videonya ditonton satu juta kali.

Sebagai sebuah platform berbagi video, YouTube memang digdaya. Pada 2019, jumlah penonton bulanan mencapai 2 miliar. Jumlah penonton itu belum termasuk para pengguna internet lain yang menonton video YouTube tanpa memiliki akun.

Bila dihitung dari durasi streaming, pengguna YouTube menghabiskan sekitar 250 juta jam setiap harinya untuk mengakses dan menyaksikan video.

Isu yang muncul seiring maraknya aktivitas dakwah di media sosial adalah komodifikasi agama. Komodifikasi ini digambarkan Karl Marx sebagai kuasa para pemilik modal atas apapun dengan mengubah nilai-nilai personal menjadi nilai tukar, mengubah hubungan sentimental keluarga menjadi hubungan yang memanfaatkan uang.

Segala sesuatu tidak bernilai jika tidak mempunyai nilai tukar. Dalam analisis mengenai hubungannya dengan kapitalisme, agama hanya dilihat sebagai sebuah komoditas. Komodifikasi agama dalam konteks ceramah Islam dan dakwah dapat menjadi komoditas yang berpotensi untuk dieksploitasi.

Selain pertumbuhan ekonomi, adanya pemilik modal, Kehadiran media sosial menjadi salah satu faktor pendorong komodifikasi. Ia mempengaruhi cara individu mengekspresikan keimanannya.

Seorang muslim mengekspresikan keimanannya melalui berbagai komoditas berlabel agama yang ditampilkan dalam berbagai platform media.  

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Retizen bermakna Republika Netizen. Retizen adalah wadah bagi pembaca Republika.co.id untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal. Republika melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda baik dalam dalam bentuk video, tulisan, maupun foto. Video, tulisan, dan foto yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim. Silakan kirimkan video, tulisan dan foto ke retizen@rol.republika.co.id.
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA