Thursday, 5 Syawwal 1441 / 28 May 2020

Thursday, 5 Syawwal 1441 / 28 May 2020

Aktivitas Masyarakat Meningkat, Kasus Covid-19 Melonjak

Jumat 22 May 2020 18:58 WIB

Red: Andri Saubani

Warga berbelanja di Pasar Jatinegara di tengah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta, Jumat (22/5/2020). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk melanjutkan PSBB tahap ketiga di DKI Jakarta yang dimulai 22 Mei hingga 4 Juni 2020 atau selama 14 hari ke depan untuk menekan tingkat penularan COVID-19

Warga berbelanja di Pasar Jatinegara di tengah penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta, Jumat (22/5/2020). Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk melanjutkan PSBB tahap ketiga di DKI Jakarta yang dimulai 22 Mei hingga 4 Juni 2020 atau selama 14 hari ke depan untuk menekan tingkat penularan COVID-19

Foto: ANTARA/Indrianto Eko Suwarso
Laju penularan Covid-19 masih tinggi menyusul peningkatan aktivitas masyarakat.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Sapto Andika Candra, Dessy Suciati Saputri, Antara

Baca Juga

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto pada Jumat (22/5) mengumumkan penambahan kasus konfirmasi positif Covid-19 sebanyak 634 orang dalam 24 jam terakhir. Angka ini menurun dibandingkan penambahan pada Kamis (21/5) kemarin, sebanyak 973 orang dalam satu hari.

Penambahan di atas 600 per hari menunjukkan laju penularan Covid-19 masih cukup tinggi. Total sampai Jumat (22/5), kasus positif Covid-19 sudah mencapai 20.796 orang.

Menurut Yurianto, penularan Covid-19 di Tanah Air terjadi bersamaan dengan pergerakan manusia dan aktivitas sosialnya. Sehingga, sebaiknya hindari bepergian jika tidak diperlukan sama sekali.

"Ini mendominasi evaluasi kita beberapa minggu terakhir, baik pergerakan sosial, aktivitas sosial, keluar rumah, berada di lingkungan, berada di pasar dan tempat-tempat pertumbuhan ekonomi," kata Yurianto dalam jumpa pers di Graha BNPB yang dipantau di Jakarta, Jumat.

Termasuk pula pergerakan melintas batas antarpemerintahan yang pada hakikatnya tidak mungkin dapat dicegah sepenuhnya. Ia mengatakan, konsep pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ialah dalam rangka mengatur mobilitas sosial dimana pergerakan manusia merupakan faktor utama dalam membawa Covid-19.

Sehingga, inilah yang perlu menjadi perhatian bersama sebab penularan penyakit akan bergerak bersamaan dengan pergerakan manusia itu sendiri. Di satu sisi, pemerintah memaklumi adanya tradisi yang sudah dilakukan bertahun-tahun menjelang Idulfitri, termasuk tradisi untuk dapat bersilaturahim dengan saudara, kerabat dan warga sekitar.

Begitu pula tradisi untuk menyiapkan perayaan kemenangan di Idul Fitri, misalnya dengan membeli baju baru dan menyajikan makanan terbaik yang bisa diberikan.

"Hal itu merupakan sesuatu yang positif, namun dalam situasi sekarang semestinya dapat dilakukan dengan menyiasati untuk tetap aman dari kemungkinan tertular Covid-19," kata dia.

Ia menegaskan tidak ada larangan membeli baju baru ataupun larangan pergi ke pasar. Tetapi, tetap dengan etika menggunakan dan menaati segala protokol kesehatan mulai dari menjaga jarak, menggunakan masker serta mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Sebab, itulah cara paling bijak dalam menyikapi hal tersebut.

"Mari kita lindungi keluarga kita dengan membiasakan diri untuk menerapkan protokol kesehatan dalam semua aspek kehidupan," ujarnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan Yurianto, penambahan kasus terbanyak masih disumbang oleh Provinsi Jawa Timur (Jatim), dengan 131 orang dalam satu hari terakhir. Kemudian diikuti DKI Jakarta dengan penambahan 99 kasus, Sulawesi Selatan dengan penambahan 71 kasus, dan Jawa Barat dengan 40 kasus tambahan dalam satu hari.

Pada Kamis (21/5), Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Jatim mencatat tambahan pasien positif di wilayah sebanyak 451 orang. Angka positif Covid-19 tersebut merupakan yang terbesar sejak diumumkan pemerintah.

"Selama ini memang tambahan pasien positif Covid-19 yang diumumkan hari ini paling banyak," ujar Ketua Rumpun Kuratif Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Jatim dr Joni Wahyuhadi di Gedung Negara Grahadi di Kota Surabaya, Kamis (22/5) malam.

Berdasarkan data, paling banyak tambahannya adalah dari pasien dalam pengawasan (PDP), serta klaster-klaster yang sudah ada sebelumnya, seperti pabrik rokok, pasar dan lainnya. Tak itu saja, beberapa faktor adanya kasus baru juga mempengaruhi, salah satunya mobilitas penumpang udara yang tinggi setiap harinya.

Kekhawatiran meningkatnya aktivitas pergerakan masyarakat beberapa pekan terkahir juga dirasakan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Ketua IDI Bandarlampung Aditiya M Biomed menyatakan, rumah sakit di Lampung belum tentu bisa menampung jika ada lonjakan pasien positif Covid-19.

"Yang kami takutkan ke depan akan banyak masyarakat yang tertular tapi kapasitas rumah sakit kita tidak memadai," kata Aditiya, Jumat (22/5).

Maka, lanjut dia, untuk meminimalkan hal tersebut pemerintah harus tegas dalam mengambil kebijakan. Di dalamnya tidak ada aturan yang memancing orang untuk ke luar, dengan begitu masyarakat sudah pasti mengikutinya.

Ia pun mengatakan, jangan semata karena alasan ekonomi pemerintah tidak memikirkan dampak ke depannya. Sebab, tidak menutup kemungkinan keramaian ini malah berpotensi memicu cepatnya penyebaran virus Covid-19.

"Jadi apakah ini tidak menambah berbahaya ekonomi kita bila sudah banyak yang terjangkit. Kami juga paling takut ada sinyalemen herd imunity, kita diadu mana yang kuat bertahan dan lemah tersingkir, tapi semoga ini tidak terjadi, karena tidak manusiawi," kata dia.

photo
Relaksasi PSBB - (mgrol100)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA