Thursday, 5 Syawwal 1441 / 28 May 2020

Thursday, 5 Syawwal 1441 / 28 May 2020

Protes Kondisi Kerja, 50 Tenaga Medis di Prancis Ditangkap

Jumat 22 May 2020 18:17 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Nur Aini

Perawat memeriksa seorang pasien Covid-19 di ruang ICU di Klinik Ambroise Pare di Neuilly-sur-Seine, dekat Paris, Perancis, Jumat (10/4).

Perawat memeriksa seorang pasien Covid-19 di ruang ICU di Klinik Ambroise Pare di Neuilly-sur-Seine, dekat Paris, Perancis, Jumat (10/4).

Foto: AP Photo/Christophe Ena
Rumah sakit di Prancis mengalami masalah pendanaan dan kondisi kerja buruk.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Sebanyak 50 petugas kesehatan didenda dan tiga orang ditangkap karena protes di luar rumah sakit di Paris, Prancis. Lebih dari 400 dokter, perawat dan staf mengenakan masker dan menggedor nampan serta wajan untuk menuntut pendanaan yang lebih baik untuk rumah sakit.

Baca Juga

Para petugas kepolisian pun meminta petugas medis yang melakukan aksi demonstrasi untuk membubarkan diri. Mereka yang terlibat pun mendapatkan denda di tempat sebesar 134 euro, tetapi petugas medis menolaknya. Mereka pun akhirnya ditangkap oleh Polisi karena dituntut dengan pelanggaran aturan jarak sosial.

Dikutip dari BBC, pengunjuk rasa yang turun ke jalanan Paris menyerukan kenaikan gaji. Mereka menuntut reformasi untuk kondisi kerja yang lebih baik bagi petugas kesehatan, terlebih lagi selama pandemi virus corona berlangsung.

Rekaman yang diunggah di media sosial menunjukkan kerumunan besar menggedor pintu rumah sakit, sambil melambaikan spanduk dukungan. Rumah Sakit Robert Debre, di utara kota Paris, sudah mengalami masalah keuangan sebelum wabah virus corona. Namun, epidemi telah semakin membebani masalah pendanaan rumah sakit.

Dalam pidato yang disampaikan pada protes tersebut, petugas kesehatan menggambarkan bahwa mereka telah dibebani dengan jam kerja yang berlebihan. Sementara, mereka harus berhadapan dengan kemungkinan besar tertular virus corona.

Prancis mulai mengurangi aturan karantina wilayahnya awal bulan ini, dengan toko-toko dan sekolah dasar dibuka kembali. Namun, Paris tetap di bawah kendali ketat karena jumlah kasus masih cukup tinggi.

Dikutip dari worldometers, Prancis melaporkan penambahan 251 kasus pada 21 Mei sehingga jumlah kasus yang terkonfirmasi 181,826. Sedangkan, korban meninggal bertambah 83 orang dengan total kematian sebanyak 28.215 jiwa. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA