Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Saturday, 14 Syawwal 1441 / 06 June 2020

Rasulullah SAW Berdialog dengan Anak Yatim di Hari Raya  

Sabtu 23 May 2020 04:20 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Ratusan anak yatim mengikuti buka puasa bersama. (ilustrasi)

Ratusan anak yatim mengikuti buka puasa bersama. (ilustrasi)

Foto: Republika/Yasin Habibi
Rasulullah SAW memberikan kebahagian kepada anak yatim.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Prof Dr Syihabuddin Qalyubi, Lc, M Ag, Wakor Kopertais wil III  DIY, Guru Besar Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Baca Juga

(حكي   عن أنس بن مالك رضي الله عنه عن النبي عليه الصلاة والسلام : أنه) خرج النبي صلى الله عليه وسلم يوم العيد لأجل صلاة العيد، فرأى الصبيان يلعبون ووجد صبيا واقفا يبكي، فقال له النبي صلى الله عليه وسلم وقال له; ما يبكيك أيها الصبي؟ وهو لم يعرف أنه النبي صلى الله عليه وسلم، دعاني أيها الرجل فإن أبي مات في إحدى الغزوات مع رسول الله وأمي تزوجت بغير أبي فأخذ داري وأكل مالي فصرت كما تراني عاريا جائعا حزينا ذليلا، فلما أتى يوم العيد رأيت الصبيان يلعبون فتشدد حزني فبكيت، فقال له النبي صلى الله عليه وسلم أما ترضى أن أكون لك أبا وعائشة أما وفاطمة أختا وعلي عما والحسن والحسين إخوة؟ فقال له الصبي أكيف لا أرضى يا رسول الله ... فأخذه النبي صلى الله عليه وسلم وتوصل به إلى داره فأقامه وألبسه لباس العيد، فخرج الصبي يلعب مع الصبيان، فقال له الصبيان: كنت واقفا بيننا الآن تبكي وما يضحكك الآن؟ فقال لهم: كنت جائعا فشابعا وكنت عاريا فكسيت وكنت بغير أب فأصبح رسول الله أبي وعائشة أمي وفاطمة أختي وعلي عمي والحسن والحسين إخوتي، فقال له الصبيان: يا ليت آبائنا ماتوا في إحدى الغزوات مع رسول الله

 

Terjemahan:

(Dihikayatkan dari Anas bin Malik RA dari Nabi SAW, bahwasanya) Nabi SAW keluar untuk menjalankan shalat Id. Beliau melihat anak-anak sedang bermain, beliau menemukan seorang anak yang berdiri menangis. Lalu beliau bertanya: "Apa yang membuatmu menangis wahai anak?"Anak itu menjawab, dia tidak tahu yang bertanya itu Nabi SAW, "Doakanlah aku wahai seseorang! Bapakku wafat dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah SAW, lalu ibuku menikah dengan orang lain, mereka mengambil rumahku dan memakan hartaku, jadilah aku seperti yang engkau lihat, telanjang, kelaparan, sedih, dan hina. Ketika tiba Hari Id, aku melihat teman sebayaku bermain, aku jadi bertambah sedih, lalu aku menangis."

Nabi SAW menawarkan, "Apakah kau mau saya jadi bapakmu, ‘Aisyah jadi Ibumu, Fatimah jadi saudara perempuanmu, Ali jadi pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudara lelakimu?"Anak itu lalu menimpali, "Bagaimana aku tidak mau wahai Rasulullah?!"Segera Rasul SAW mengambil anak itu dan membawa ke rumahnya, anak itu disuruh berdiri tegak dan diberi pakaian Id. 

Lalu Anak itu keluar bermain bersama teman sebayanya. Anak-anak yang lain bertanya, "Kamu berdiri di antara kami, (sebelumnya) kamu menangis, sekarang apa yang membuatmu dapat tersenyum?" Anak itu menjawab, "Semula aku lapar sekarang jadi kenyang, semula aku telanjang lalu aku diberi pakaian, semula aku tidak punya bapak, sekarang Rasulullah SAW jadi bapakku, ‘Aisyah jadi ibuku, Fatimah jadi saudara perempuanku, Ali jadi pamanku, Hasan dan Husain jadi saudara laki-lakiku."Anak-anak yang lain lalu berkata, "Oh seandainya bapak-bapak kami wafat dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah SAW”.

 

Kosa kata:

Keluar                 :  خرج

Anak-anak           : صبي  صبيان  

Menangis             :  يبكي

Peperangan          : الغزوات

Sedih                   : حزن

Pakaian lebaran    : لباس العيد

 

Penjelasan:

Kisah ini dikutip dari Durratun Nāsihīn karya Syekh Uśmān bin Hasan bin Ahmad Syākir Al-Khubawi, tanpa tahun, Surabaya, Syirkah Ahmad bin Sa'ad bin Nabhan wa Aulāduh, halaman 264-265.   

Sebetulnya ada beberapa hadits lain yang inti redaksinya mirip, antara lain: Dari Basyīr bn Aqraba al-Juhāni, ia berkata: “Ayahku mati syahid bersama Nabi SAW dalam beberapa peperangannya, maka (pada suatu waktu) Nabi SAW melewatiku ketika aku sedang menangis, dan dia berkata kepadaku: "Diam, apakah kamu mau jika saya jadi ayahmu dan ‘Aisyah jadi ibumu?" Akumenjawab: Tentu Ya Rasullah, engkau ayahku, dan ‘Aisyah ibuku, wahai Rasulallah. (HR al-Bukhari) dalam al-Tarikh al-Kabir (I/395).   

Dari Basyīr bin Aqraba al-Juhāni, dia berkata: Aku bertemu Rasulullah waktu perang Uhud aku berkata kepadanya: “Apa yang terjadi pada ayahku? Rasulullah bersabda: Dia mati syahid, semoga Allah merahmatinya, aku pun menangis, lalu beliau mendekapku, mengusap kepalaku dan membawaku besertanya lalu berkata: ‘Apakah engkau mau saya menjadi bapakmu dan Aisyah menjadi ibumu’.“ (HR Al Bazzar). 

photo
Sejumlah anak yatim piatu yang mendapatkan bantuan di bulan Ramadhan (ilustrasi). - (Dok Republika)

Menurut Imam Al Haśami dalam kitabnya Majma al-Zawaid wa Manba al-Fawaid: Hadits itu diriwayatkan Al Bazzar dan seseorang yang tidak dikenal.  Ini adalah asal mula hadits yang dhaif (lemah), tetapi para pengisah dan pengkhutbah, sepanjang sejarah, telah menghiasinya dengan fiksi fiksi seperti yang kita dengar dari para penyanyi.

Kisah ini mendapat sorotan Syekh Masyhur Hasan Al Salman dalam bukunya (Kutub Hażara minha al-Ulamā) 2/212, dan Al Sugairi dalam kitab Al-Sunan wa Al-Mubtadiāt, dan yang dihubungkan dengan kitab Al-Tuhfah Al-Mardliyah.

Sekalipun demikian, banyak sekali hadits yang menjelaskan keutamaan orang yang mengasuh atau memelihara anak yatim, sehingga  imam Bukhari mencantumkan hadits-hadits itu dalam bab: keutamaan orang yang mengasuh anak yatim. Hadits ini antara lain:

عن سهل بن سعد قال رسول الله صلى الله عليه و سلم:"  أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَا »  وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما شيئاً

“ Dari Sahal bin Sa’ad Rasulullah SAW bersabda: Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini”, kemudian beliau SAW mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya, serta agak merenggangkan keduanya (HR Bukhari).

Hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan dan pahala orang yang meyantuni anak yatim,  sehingga kelak di Surga berdekatan dengan Rasulullah SAW.

Jika diperhatikan dengan seksama, hadits di atas berasal dari hadits yang diriwayatkan Bukhari dan al-Bazzar lalu mendapatkan banyak improvisasi. Jadi sumber asal itu hadits sahih, lalu guna menambah efek sedih dan haru di sana sini ada pengembangan gaya bahasa. 

Namun demikian, hadits di atas jika dinyanyikan penyanyi berkelas (seperti Dorsaf Hamdani) dengan suara lembut dan aransemen yang mendayu-dayu menambah suasana kekhidmatan untuk memaknai misi yang diembannya yaitu agar umat Islam lebih menyayangi anak yatim, terutama pada hari-hari raya. Semoga .  

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA