Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Bertandang ke Kota Ilmu (1)

Jumat 22 May 2020 16:04 WIB

Red: Muhammad Hafil

   Bertandang ke Kota Ilmu. Foto:  Masjid Agung Umayyah di Damaskus, Suriah, merupakan salah satu peninggalan Dinasti Umayyah terus bertahan hingga kini.

Bertandang ke Kota Ilmu. Foto: Masjid Agung Umayyah di Damaskus, Suriah, merupakan salah satu peninggalan Dinasti Umayyah terus bertahan hingga kini.

Foto: insidearab.com
Sejumlah kota dikenal dengan tradisi keilmuannya.

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS -- Ilmu pengetahuan berkembang secara pesat di dunia Islam. Tradisi keilmuan pun menyebar luas. Sejumlah ilmuwan Muslim lahir dan bermunculan dengan karya serta reputasi mereka. Dan sejumlah kota, bersinar namanya, karena dianggap sebagai pusat ilmu.

Kota-kota itu tak hanya dikenal dengan fasilitas yang mendukung perkembangan tradisi keilmuan, seperti sekolah, perpustakaan, maupun percetakan buku. Namun, kota itu juga dikenal dengan para ilmuwannya dengan ilmu yang mereka kuasai.

Sebut saja Damaskus, Suriah. Secara historis, Damaskus tak hanya sarat kekayaan. Kota ini pun dikenal sebagai kota pendidikan. Salah satu khalifah yang berjasa memajukan bidang pendidikan di kota ini adalah Khalifah Nur al-Din.

Sang Khalifah, mendirikan banyak sekolah maupun perpustaakan dengan koleksi buku yang sangat lengkap. Di kota itu, terdapat seorang dokter bernama Muhaddab Eddin Al-Dawhar, yang memiliki kontribusi pula dalam memajukan Damaskus sebagai kota ilmu.

Menjelang akhir hayatnya, dokter yang tak memiliki keturunan itu, mengubah rumahnya yang ada di sebelah selatan Masjid Ummayah, menjadi madrasah yang mengajarkan ilmu kedokteran. Ia pun mewakafkan hartanya untuk membayar gaji guru dan beasiswa murid madrasah itu.

Sebelum kematiannya, Al-Dawhar sempat mengajar ilmu kedokteran di madrasah itu. Selain itu, ada kisah yang diceritakan oleh seorang musafir bernama Ibnu Jubair. Ia merekam apa yang ia temui saat melakukan kunjungan ke Damaskus pada 1184.

Menurut Jubair, di Damaskus terdapat banyak fasilitas yang baik bagi para mahasiswa asing dan para pengunjung Masjid Ummayah. Ia pun menganjurkan para pelajar dari Spanyol untuk bertandang ke Damaskus dan menimba ilmu di kota itu.

Jubair memberikan anjuran, setiap orang Barat yang ingin menuai keberhasilan, sebaiknya menuju Damaskus. Sebab, banyak bantuan bagi para pelajar di sana dan mereka tak perlu mengkhawatirkan soal makanan dan tempat tinggal selama belajar di Damaskus.

Ada pula Merv. Kota ini berada di Khurasan, yang saat ini dikenal dengan nama Turkmenistan. Perekonomian mengalami kemajuan pesat di kota ini. Sebagian besar penghidupan masyarakat berasal dari pertanian. Dinasti Abbasiyah membawa kemajuan di wilayah ini.

Seperti halnya Damaskus, kemakmuran yang mewujud di Merv juga diiringi dengan pembangunan fasilitas pendidikan yang lengkap. Tradisi keilmuan pun berkembang pesat. Seorang ahli geografi Muslim, Yaqut al-Hamawi, yang hidup pada 1229, menghabiskan masa selama dua tahun di Merv.

Yaqut, panggilan karibnya, berkeliling dari satu perpustakaan ke perpustakaan lainnya di Merv. Berhari-hari ia menenggelamkan dirinya di tingginya tumpukan buku. Ia menyatakan, ada 10 perpustakaan lengkap dan mewah di Merv.

Ada Aziziyah, perpustakaan yang menampung sebanyak 12 ribu buku. Perpustakaan besar lainnya adalah Kamaliyah dan Sharaf al-Mulk. Banyak ilmuwan Muslim dari Merv. Di antaranya, astronom bernama Ahmad ibn 'Abdallah al-Marwazi yang dikenal dengan nama Habash al-Hasib.

Nama lainnya, Ibn Ahmad Al-Kharaqi. Ia merupakan seorang astronom, ahli matematika, dan geografi. Sejumlah karya telah ia lahirkan, yaitu Muntaha al-Idrak fi Taqsim al-Aflak dan Kitab al-Tabsira fi Ilm al-Hay'a, kedua karya ini tentang astronomi.

Namun, kejayaan Merv kemudian berakhir. Serangan pasukan Mongol telah menghancurkan kota ini dan hampir semua isinya. Perpustakaan megah dan pusat-pusat pendidikan dihancurkan. Namun paling tidak, kota ini telah bercahaya karena ilmu dan ilmuwan yang lahir di sana.

Di sebelah Merv, ada Bukhara. Kota ini berada di hilir Sungai Zarafshan dan mengalami masa keemasan pada abad ke-10. Seorang penulis bernama Ibnu Hawqal, menuliskan dalam catatannya mengenai keberadaan dan kondisi Bukhara.

Hawqal mengungkapkan, air dari Sungai Sughd, mengalir melalui kanal-kanal digunakan untuk menyirami taman-taman di sekitar kota. Kegiatan ilmiah juga mengalami perkembangan. Kota ini menjadi salah satu pusat perkembangan ilmu pengetahuan.

Bukhara melahirkan salah satu ilmuwan Muslim besar, Ibnu Sina. Ia menjadi rujukan bagi ilmuwan lainnya, terutama dalam bidang kedokteran. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan menjadi bahan ajar bagi mahasiswa kedokteran.

Ilmuwan lain yang lahir dari tradisi ilmu pengetahuan di Bukhara adalah Imam Al-Bukhari. Pada usia 10 tahun, ia telah belajar Hadis dan menguasainya. Ia kerap mendapat pujian karena mampu memperbaiki kesalahan gurunya.

Bergeser ke Eropa, ada Granada. Ini merupakan kota di masa pemerintahan Islam di Spanyol, yang banyak pula melahirkan ilmuwan besar. Granada muncul pula sebagai pusat ilmu pengetahuan dengan beragam sekolah dan perpustakaan yang berdiri di sana.

Salah seorang ilmuwan yang berasal dari Granada adalah Ibnu Tufail. Pada masa pembangunan Istana Al-Hambra oleh Muhammad ibn al-Ahmar yang berkuasa antara tahun 1232 hingga 1273, kota tersebut mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Para arsitek Muslim terlibat dalam pembangunan istana tersebut. Mereka adalah para arsitek yang memiliki kemampuan ilmu yang tinggi. Al-Hambra kemudian menjadi sebuah istana yang memiliki taman-taman besar dan dilengkapi oleh kolam serta air mancur.

Tradisi keilmuan di Granada, telah melahirkan banyak arsitek Muslim yang andal. Bahkan, keterampilan dalam kontruksi bangunan merupakan salah satu warisan berharga yang ditinggalkan para arsitektur Granada. Keterampilan mereka juga dikagumi oleh penguasa di luar Granada.

Arsitek-arsitek dari Granada, banyak diminta oleh pihak Kastilia, untuk membangun istana-istana mereka. Sebab, mereka sangat mengagumi hasil rancangan para arsitek Muslim. Dan Al-Hambra, sebagai peninggalan peradaban Islam, hingga kini masih bertahan. 

sumber : Pusat Data Republika
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA