Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Thursday, 12 Rabiul Awwal 1442 / 29 October 2020

Kabar dari Laos: Minoritas Muslim di Negeri Seribu Gajah

Jumat 22 May 2020 15:28 WIB

Red: Ani Nursalikah

Kabar dari Laos: Minoritas Muslim di Negeri Seribu Gajah. Masjid Al-Azhar di Vientiane, Laos.

Kabar dari Laos: Minoritas Muslim di Negeri Seribu Gajah. Masjid Al-Azhar di Vientiane, Laos.

Foto: Blogspot.com
Diperkirakan Islam dibawa masuk ke Laos dari Tiongkok oleh saudagar asal Yunnan.

REPUBLIKA.CO.ID, VIENTIANE -- Dengan hanya 0,01 persen dari total penduduknya yang sebagian besar beragama Buddha, Laos dikategorikan sebagai salah satu negara kecil di daratan Asia Tenggara dengan jumlah Muslim terkecil di kawasan tersebut. Laos dengan ibu kotanya Vientiane atau terkadang ditulis dengan Viang Chan terletak di pinggir Sungai Mekong.

Sungai ini menjadi perbatasan antara Laos dengan Thailand, tepatnya provinsi Udhon Tani. Sungai ini juga membentang sampai ke utara menjadi perbatasan Laos dengan Myanmar dan China, ke selatan dengan Kamboja, sementara ke timur Laos berbatasan dengan Vietnam. Jadilah negara ini tak mempunyai akses langsung dengan Laut.

Diperkirakan, Islam dibawa masuk ke Laos dari Tiongkok oleh saudagar asal Yunnan. Komunitas pedagang Muslim asal Tiongkok yang dikenal sebagai Chin Haw ini kemudian berkembang ke dalam kelompok-kelompok kecil Muslim di Laos.

Baca Juga

Di Vientiane, terdapat dua buah masjid. Satu bernama Masjid Jami’ atau sering juga disebut masjid Pakistan yang merupakan masjid tertua di Laos. Masjid ini terletak hanya beberapa puluh meter dari pusat kota dan dirikan oleh Komunitas Muslim Tamil yang berasal dari India.

Masjid Al Azhar atau yang banyak disebut orang sebagai Masjid Kamboja terletak sekitar 4 kilometer dari pusat kota. Masjid itu memang didirikan oleh komunitas pendatang Muslim Kamboja yang berhijrah ke Laos. Didirikan tahun 1968 oleh Haji Yahya dan kawan-kawan nya. Ia pun menjadi Imam pertama di masjid itu.

Masjid yang kurang lebih berukuran 300 meter persegi tersebut diperkirakan menjadi tempat bagi kurang dari 300 Muslim dari puluhan keluarga untuk melaksanakan kegiatan serta aktivitas keagamaan. Dilengkapi beberapa ruangan, masjid ini memiliki ruang serbaguna, ruang kelas, dapur dan kantor. Ruang kelas yang mampu menampung setidaknya 50 anak tersebut digunakan oleh mereka untuk mempelajari Islam juga Alquran. 

Tidak terbayang, tiga tahun sebelum kunjungan kami di tahun 2010, Masjid Kamboja ini hanya berupa bangunan kecil yang tak terurus, halamannya tergenang air, karena tapak bangunan masjid itu dulunya berupa sawah. Di kala kunjungan kami, Masjid Kamboja telah menjadi tumpuan Shalat Jum’at bagi warga Muslim yang berada di Kedutaan Besar Indonesia maupun Malaysia. Meskipun, belum sebesar Masjid Internasional di Phnom Phen Kamboja sana.

Saat ini Laos kurang lebih terdiri dari 18 provinsi. Sebagian besar dari Muslim Laos tinggal di Vientiane, sisanya tersebar di 3 daerah lainnya seperti Luang Prabang salah satu kota terbesar setelah Viang Chan yang berjarak sekitar 500 kilometer arah ke utara. Selain itu ada Pakse dan Savannakhet.

Berjalan ke arah Selatan sekitar 600 kilometer dari Vientiane, terdapat sebuah provinsi bernama Savannakhet. Tak tahu apa sebab kota ini dinamakan Savannakhet. Dialek setempat menyebutnya dengan ‘Sabana Kit’. Dan memang hutan perdu di sana terlihat seperti padang Sabana.

 

 

sumber : Suara Muhammadiyah
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA