Thursday, 15 Jumadil Akhir 1442 / 28 January 2021

Thursday, 15 Jumadil Akhir 1442 / 28 January 2021

Unicef: Risiko Ganda Ancam Anak yang Dideportasi

Jumat 22 May 2020 14:35 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Yeyen Rostiyani

UNICEF (ilustrasi)

UNICEF (ilustrasi)

Foto: unicef.bg
Pandemi virus corona memperburuk risiko yang dihadapi migran anak.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Amerika Serikat (AS) telah memulangkan sedikitnya 1.000 anak-anak migran tanpa pendamping ke negara asal mereka seperti Meksiko, El Salvador, Guatemala, dan Honduras sejak awal Maret. Sementara Unicef mengkhawatirkan adanya risiko kekerasan dan diskriminasi yang memburuk karena pandemi virus corona.

"Covid-19 membuat situasi yang buruk menjadi lebih buruk. Diskriminasi dan serangan sekarang ditambahkan ke ancaman yang ada seperti kekerasan geng yang mendorong anak-anak ini untuk pergi," kata Direktur Eksekutif Unicef, Henrietta Fore.

Meksiko juga telah memulangkan setidaknya 447 anak-anak migran ke Guatemala dan Honduras selama periode yang sama. Unicef memperingatkan bahwa anak-anak yang kembali dari AS dan Meksiko menghadapi risiko tambahan karena persepsi mereka terinfeksi virus corona.

"Ini berarti banyak anak yang kembali sekarang berisiko dua kali lipat dan dalam bahaya yang lebih besar daripada ketika mereka meninggalkan komunitas mereka," ujar Fore.

Unicef sedang melakukan upaya regional untuk menopang sistem perlindungan nasional yang terlalu ketat untuk anak-anak. Lembaga PBB ini memiliki laporan tentang komunitas di Guatemala dan Honduras yang melarang masuknya migran yang kembali, termasuk anak-anak dan telah timbulnya ancaman kekerasan.

Laporan Reuters menunjukkan, kota-kota warga asli Guatemala, Maya, mengancam akan membakar rumah-rumah dari beberapa migran yang kembali. Mereka juga akan menghukum setelah lebih dari 100 orang yang dideportasi dari AS dinyatakan positif terkena virus corona.

AS meluncurkan aturan terkait virus pada bulan Maret yang memungkinkan pihak berwenang dengan cepat mendeportasi migran yang ditemui di perbatasan. Data menunjukkan, sekitar 900 anak yang tidak didampingi dideportasi pada Maret dan April berdasarkan aturan tersebut. 

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA