Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Wednesday, 4 Syawwal 1441 / 27 May 2020

Aktivis Hong Kong Ajak Flash Mob untuk Protes China

Jumat 22 May 2020 13:55 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Yeyen Rostiyani

Aktivis Joshua Wong

Aktivis Joshua Wong

Foto: SCMP.com
Ajakan aksi demo di Hong Kong pada siang hari gagal.

REPUBLIKA.CO.ID, HONG KONG -- Aktivis-aktivis Hong Kong menyerukan unjuk rasa menentang rencana Beijing menerapkan undang-undang (UU) keamanan nasional ke kota otonomi itu. UU baru itu dikhawatirkan dapat mengikis kebebasan di Hong Kong melalui "paksaan dan ketakutan".

"Kami sudah mengira China melakukan sesuatu untuk menekan kami, namun langkah ini keterlaluan," kata Leung mahasiswa kriminologi di Hong Kong, Jumat (22/5).  

Namun, aksi yang direncanakan digelar Jumat siang tidak terlaksana setelah seruan itu hanya diikuti sejumlah kecil orang. Sementara polisi antihuru-hara terlihat berjaga di jalanan. 

Seruan baru kemudian muncul yaitu untuk flash mobs pada Jumat malam di seantero Hong Kong. Aktivis, Joshua Wong, menyatakan akan melakukan jumpa pers untuk mengumumkan rencana aksinya. 

BBC menyebutkan, UU keamanan ini memungkinkan pencekalan dengan alasan mencegah "pengkhianatan, pemisahan diri, dan penghasutan." Jika lolos, maka UU ini akan memaksaka Hong Kong berubah sekaligus melangkahi anggota parlemen Hong Kong yang dipilih rakyat. 

Rencana Cina tersebut juga memukul pusat keuangan Asia tersebut. Sebab banyak pihak yang khawatir status Hong Kong yang semi-otonom berubah. Aksi jual saham pun terjadi saat parlemen China membahas undang-undang baru itu di Beijing.

Undang-undang keamanan tersebut dapat menjadi titik balik bagi Hong Kong dan meningkatkan ketegangan politik antara Beijing dan Washington. Hubungan kedua negara sudah melemah sejak perang dagang dan aksi saling tuduh pandemi virus korona.

"Tampaknya keregangan musim panas antara China-AS mulai terjadi," kata kepala strategi pasar global AxiCorp, Stephen Innes.

Innes mengatakan, undang-undang baru ini berpotensi membangkitkan unjuk rasa pro-demokrasi tahun 2019. Ketika bekas koloni Inggris menghadapi krisis politik dan sosial paling besar sejak dikembalikan ke China pada 1997.

Saham-saham di Hong Kong terjun 3,2 persen, menjadi penurunan saham paling tajam di Asia. Nilai dolar Hong Kong juga sedikit menurun terhadap dolar AS.  

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA