Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Gerakan Percepatan Tanam Digenjot Antisipasi Krisis

Jumat 22 May 2020 13:49 WIB

Red: Friska Yolandha

Sejumlah buruh tani mempersiapkan bibit padi untuk ditanam pada lahan pertanian di Desa Oloboju, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (14/5). Kementerian Pertanian menggencarkan Gerakan Percepatan Tanam Padi di sejumlah daerah agar jadwal tanam tidak mundur.

Sejumlah buruh tani mempersiapkan bibit padi untuk ditanam pada lahan pertanian di Desa Oloboju, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Kamis (14/5). Kementerian Pertanian menggencarkan Gerakan Percepatan Tanam Padi di sejumlah daerah agar jadwal tanam tidak mundur.

Foto: ANTARA/Mohamad Hamzah
Penyuluh pertanian diharapkan mendampingi petani agar proses tanam tetap berjalan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Pertanian menggencarkan Gerakan Percepatan Tanam Padi di sejumlah daerah agar jadwal tanam tidak mundur. Percepatan tanam itu juga termasuk untuk mengantisipasi terjadinya krisis pangan saat pandemi Covid-19.

Baca Juga

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (22/5), mengatakan pihaknya meminta kepada seluruh penyuluh pertanian dan petani di Indonesia agar segera melakukan Gerakan Percepatan Tanam Padi serentak. 

“Merespons arahan Presiden Jokowi untuk antisipasi krisis pangan maka harus dilakukan Gerakan Percepatan Tanam Padi, meskipun di beberapa daerah surplus beras,” katanya.

Untuk menghindari adanya krisis pangan, semua harus bekerja lebih keras, lebih terpadu, dan lebih gotong royong agar pangan rakyat bisa terjamin. Krisis pangan tidak boleh terjadi di Indonesia, karenanya perlu disiapkan strategi untuk menghindarinya.

"Kita harus siapkan strategi untuk menghadapi tantangan tersebut yaitu dengan dua langkah konkret, penanaman yang lebih cepat dan momentum penyaluran sarana dan prasarana yang tepat,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDM), Dedi Nursyamsi menambahkan pangan adalah masalah yang sangat utama dan menentukan hidup matinya suatu bangsa, dimana petani tetap semangat tanam, olah, dan panen.

“Hal ini membuktikan pertanian tidak pernah berhenti di tengah wabah Covid-19, kepada para penyuluh pertanian maupun swadaya diharapkan untuk tetap bekerja mendampingi para petani,” kata Dedi.

Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Lampung Selatan merespons arahan tersebut dengan turut mendorong petani di wilayah kecamatan yang telah menyelesaikan masa panen agar bisa segera melakukan percepatan tanam. Apalagi hingga memasuki awal Mei 2020, curah hujan di sejumlah wilayah kecamatan masih cukup tinggi.

Kabid Tanaman Pangan Dinas TPHP Lampung Selatan, Mugiono mengatakan ada beberapa daerah yang telah menyelesaikan panen untuk musim tanam akhir 2019. Pada awal 2020, daerah seperti Natar, Jatiagung, Tanjung Bintang, Tanjungsari, Way Panji, dan Sidomulyo sudah selesai panen.

“Petani bisa melakukan percepatan tanam dengan didampingi penyuluh pertanian. Kami juga berharap pada tahun ini kondisi iklim akan lebih bersahabat, dimana untuk musim kemarau merupakan kemarau basah atau masih akan ada hujan turun sehingga petani tidak mengalami kesulitan air,” ujar Mugiono.

Mugiono menambahkan untuk sektor pertanian, terutama tanaman padi tidak terlalu terdampak dari pandemi virus corona. Harga gabah di tingkat petani pun relatif masih cukup baik pada kisaran Rp 420 ribu hingga Rp 450 ribu per kuintal.

“Di Kabupaten Lampung Selatan hingga akhir April, luasan panen telah mencapai 40 ribu hektare lebih dengan rata-rata produksi mencapai 7 ton per hektare. Kalau untuk kebutuhan pangan di Kabupaten, produksi kita mengalami surplus. Kita termasuk salah satu daerah lumbung pangan di provinsi,” kata Mugiono.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA