Rabu 20 May 2020 16:43 WIB

CAD Kuartal I 2020 di Bawah 1,5 Persen PDB

CAD Kuartal I 2020 menurun dibandingkan kuartal sebelumnya.

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Ahmad Fikri Noor
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan perkembangan ekonomi terbaru dalam konferensi virtual, beberapa waktu lalu. BI mencatat CAD pada kuartal I 2020 mencapai 1,42 persen terhadap PDB.
Foto: Dok. Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan perkembangan ekonomi terbaru dalam konferensi virtual, beberapa waktu lalu. BI mencatat CAD pada kuartal I 2020 mencapai 1,42 persen terhadap PDB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD) kuartal I 2020 menurun menjadi  1,42 persen PDB dari 2,8 persen PDB pada kuartal IV 2019. CAD awal 2020 juga menurun dibandingkan posisi CAD pada kuartal I 2019 yang mencapai 2,5 persen PDB. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan, hal ini dipengaruhi oleh penurunan impor sejalan dengan perlambatan ekonomi domestik.

Defisit transaksi berjalan sebesar 3,9 miliar dolar AS atau 1,5 persen dari PDB, jauh lebih rendah dari defisit pada kuartal sebelumnya yang mencapai 8,1 miliar dolar AS atau 2,8 persen dari PDB. Penurunan defisit transaksi berjalan tersebut dipengaruhi oleh peningkatan surplus neraca perdagangan barang, disertai dengan penurunan defisit neraca jasa dan neraca pendapatan primer.

"Perbaikan surplus neraca perdagangan barang disebabkan oleh penurunan impor seiring dengan permintaan domestik yang melambat, sehingga mengurangi dampak penurunan ekspor akibat kontraksi pertumbuhan ekonomi dunia," katanya dalam konferensi pers virtual, Rabu (19/5). 

Defisit neraca jasa juga membaik dipengaruhi oleh penurunan defisit jasa transportasi sejalan dengan penurunan impor barang. Di tengah penurunan surplus jasa perjalanan wisata akibat berkurangnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia.

Di samping itu, perbaikan defisit neraca pendapatan primer sejalan dengan aktivitas ekonomi domestik, turut mendorong penurunan defisit transaksi berjalan. Transaksi modal dan finansial kuartal I 2020 menurun signifikan, di tengah tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Transaksi modal dan finansial defisit sebesar 2,9 miliar dolar AS, terutama dipengaruhi oleh defisit investasi portofolio, setelah pada kuartal sebelumnya surplus sebesar 12,6 miliar dolar AS. Defisit investasi portofolio ini dipicu besarnya aliran modal keluar akibat kepanikan pasar keuangan global terhadap pandemi COVID-19.

Dengan perkembangan tersebut, NPI (Neraca Pembayaran Indonesia) kuartal I 2020 defisit sebesar 8,5 miliar dolar AS, dan posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2020 sebesar 121,0 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,0 bulan impor dan utang luar negeri pemerintah serta berada di atas standar kecukupan internasional.

Investasi portofolio sejak April 2020 hingga 14 Mei 2020 mencatat net inflow 4,1 miliar dolar AS, setelah pada triwulan I 2020 mencatat net outflow 5,7 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa akhir April 2020 meningkat menjadi 127,9 miliar dolar AS, setara pembiayaan 7,8 bulan impor atau 7,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Bank Indonesia memperkirakan defisit transaksi berjalan 2020 menurun menjadi di bawah 2,0 persen PDB, dari prakiraan sebelumnya 2,5-3,0 persen PDB," katanya.

Dengan langkah stabilisasi dan penguatan bauran kebijakan, Bank Indonesia akan berkoordinasi erat dengan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik diharapkan kembali membaik. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement