Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Thursday, 12 Syawwal 1441 / 04 June 2020

Apa setelah Ramadhan?

Rabu 20 May 2020 12:37 WIB

Red: Irwan Kelana

Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) membaca Al Quran di Masjid Raya Bandung yang ditutup di Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Kamis (30/4). Pada bulan Ramadan, selain berpuasa umat islam juga memperbanyak kegiatan ibadah seperti tadarus atau membaca Al quran guna menambah amalan dam memohon ampunan dari Allah SWT

Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) membaca Al Quran di Masjid Raya Bandung yang ditutup di Jalan Dalem Kaum, Kota Bandung, Kamis (30/4). Pada bulan Ramadan, selain berpuasa umat islam juga memperbanyak kegiatan ibadah seperti tadarus atau membaca Al quran guna menambah amalan dam memohon ampunan dari Allah SWT

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Ibadah individual dan ibadah sosial selayaknya meningkat setelah Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Hasan Yazid Al-Palimbangy

 

Faktanya, kondisi ibadah umat Islam pasca Ramadhan tidak berbanding lurus dengan meriahnya ibadah di bulan Ramadhan. Semarak ibadah di bulan Ramdhan tidak berlanjut di luar Ramadhan.

Pertanyaannya adalah apakah kewajiban beribadah hanya di bulan Ramadhan? Mengapa kondisi ini terjadi?Jawabannya karena mayoritas ummat Islam keliru dalam memahami tujuan disyariatkannya ibadah puasa seperti yang sampaikan dalam surat al-baqarah ayat 183, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Dalam ayat di atas Allah SWT mempergunakan kata  “taqwa” (orang-orang  yang bertakwa) dalam bentuk fi'il mudhori' (kata kerja yang menunjukkan perbuatan yang dikerjakan sekarang dan akan datang). Ini artinya disyariatkannya puasa Ramadhan dengan tujuan agar umat Islam meningkatkan ketakwaannya baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

Dengan demikian Ramadhan berfungsi sebagai syahruttarbiyyah (bulan pelatihan). Selama sebulan penuh kita dikarantina, dilatih dengan berbagai bentuk ibadah individual seperti shalat, puasa, tadarrus  Quran, zikir dan ibadah sosial seperti zakat, infak, dan  sedeqkah. Semua itu hendaknya kita lanjutkan di luar Ramadhan.

Puasa itu melatih diri untuk merasakan betapa perihnya lapar seperti apa yang dirasakan saudara kita fakir miskin yang setiap hari menahan lapar dan belum pasti akan mendapatkan apa yang akan dimakan.Sehingga tumbuh rasa peduli pada sesama khususnya fakir miskin.

Ramadhan sebentar lagi  akan berlalu. Artinya kita bersiap-siap merealisasikan hasil pelatihan selama sebulan itu di sebelas bulan yang akan datang.

Selayaknya orang yang ikut pelatihan, maka semua ibadah baik ibadah individual maupun ibadah sosial yang dilakukan setelah Ramadhan harus meningkat bahkan lebih meningkat dibanding saat Ramadhan.

Inilah yang Allah SWT  inginkan dengan disyariatkannya puasa di bulan Ramadhan agar menjadi hamba yang bertakwa baik di bulan Ramadhan apalagi setelah Ramadhan.

Ulama mengatakan, “Jadilah engkau hamba Allah Ta’ala (yang istiqamah beribadah setiap saat), dan janganlah engkau menjadi hamba Ramadhan yang semangat beribadahnya hanya di bulan Ramadhan.”

 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA