Selasa 19 May 2020 16:30 WIB

Soal Indonesia Terserah, Waketum MUI: Karena Kecewa

Waketum MUI menanggapi soal viralnya Indonesia Terserah.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil
Soal Indonesia Terserah, Waketum MUI: Karena Kecewa. Foto: Wakil Ketua Umum MUI KH Muhyiddin Junaidi (kiri) didampingi pimpinan MUI saat memimpin pertemuan dengan pimpinan ormas Islam tingkat pusat di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Kamis (12/3).
Foto: Republika/Prayogi
Soal Indonesia Terserah, Waketum MUI: Karena Kecewa. Foto: Wakil Ketua Umum MUI KH Muhyiddin Junaidi (kiri) didampingi pimpinan MUI saat memimpin pertemuan dengan pimpinan ormas Islam tingkat pusat di Gedung MUI Pusat, Jakarta, Kamis (12/3).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhyiddin Junaidi menilai viralnya tagar 'Indonesia Terserah' di jagat maya lantaran banyak elemen masyarakat yang kecewa terhadap kebijakan yang diambil pemerintah. Dia mengingatkan, akan fatal bila kebijakan yang plin-plan terus berlanjut.

"Semua elemen masyarakat kecewa dengan kebijakan ambigu pemerintah dan kelambanan bertindak dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Adalah kesalahan fatal jika kebijakan plin-plan dan kontradiktif terus dipertahankan," kata dia kepada Republika.co.id, Selasa (19/5).

Baca Juga

Karena itu, Muhyiddin mengatakan MUI mendesak agar pemerintah serius dan fokus di mana semua daya upaya dikerahkan untuk penyelesaian wabah Covid-19. Apalagi menurut dia, narasi berdamai dengan Covid-19 dan narasi lain yang pro pada herd immunity justru akan memperparah situasi nasional.

"Kesabaran rakyat pasti punya batasan tertentu. Pemerintah dan DPR serta semua perangkat pemerintahan jangan memainkan emosi masyarakat. Pemerintah seharusnya mengambil sikap tegas, terukur dan terencana dalam menangani pandemi Covid-19," kata dia.

Muhyiddin juga berpendapat, pemerintah seharusnya mengajak para ilmuwan dan ahli virologi untuk bicara secara serius tentang langkah-langkah yang tepat menghadapi pandemi Covid-19. "Kebijakan amburadul pemerintah sangat melukai perasaan mereka bahkan menimbulkan putus asa," tutur dia.

Hal itu, kata Muhyiddin, dapat dipahami mengingat ada kesan pemerintah lebih mengutamakan penyelamatan ekonomi daripada penyelamatan jiwa manusia. MUI tetap pada prinsip dasarnya yaitu penyelamatan nyawa lebih diutamakan dan diprioritaskan daripada penyelamatan ekonomi.

"Apalagi yang menikmati pertumbuhan ekonomi hanya segelintir orang saja. Jika penanganan masalah kesehatan berlanjut tanpa ada kepastian, maka pasti akan memengaruhi ekonomi rakyat strata bawah. "Merekalah yang sangat terpukul dan terpuruk. Orang lapar cenderung pemarah dan emosional serta tak berpikir rasional," ujarnya.

Kondisi itu, lanjut Muhyiddin, akan menimbulkan kerawanan sosial dengan banyaknya kasus kriminal dari skala kecil hingga menengah. "Hilangnya rasa aman dalam masyarakat memicu ketidakamanan, instabilitas, bahkan akan berdampak pada perubahan politik nasional," imbuhnya.

(umar mukhtar)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement