Sunday, 21 Zulqaidah 1441 / 12 July 2020

Sunday, 21 Zulqaidah 1441 / 12 July 2020

Makanan yang Bisa Kurangi Risiko Alzheimer

Ahad 24 May 2020 10:05 WIB

Rep: Rizkyan Adiyudha/ Red: Nora Azizah

Apel dan buah beri disebut bisa kurangi risiko alzheimer (Foto: ilustrasi apel)

Apel dan buah beri disebut bisa kurangi risiko alzheimer (Foto: ilustrasi apel)

Foto: Pxhere
Apel dan buah beri disebut bisa kurangi risiko alzheimer.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi menemukan bahwa menyesap teh secara teratur, menggigit apel atau mengudap buah beri dapat melindungi orang dewasa dari penurunan kognitif dan masalah memori. Mengonsumsi makanan tersebut dapat mengurangi resiko terserang Alzheimer dan demensia

Penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Clinical Nutriotion itu mneyebutkan bahwa asupan makanan itu dapat mencegah Alzheimer dan demensia selama 20 tahun. Asupan jangka panjang makanan tersebut menyiutkan risiko gangguan otak.

"Tidak ada pengobatan untuk penyakit Alzheimer sehingga pencegahan sangat penting," kata ahli epidemiologi gizi di Pusat Penelitian Nutrisi Manusia Jean Mayer tentang Penuaan di Universitas Tufts di Massachusetts, Paul Jacques, kepada Today, Ahad (24/5).

Dia mengatakan, ada banyak bukti tentang betapa pentingnya pola makan bagi kesehatan otak. Penulis senior makalah nutrisi itu melanjutkan, Mengonsumsi makanan tersebut akan sangat dianjurkan kepada seseorang yang telah berusia sekitar 50 tahun.

Kendati, para peneliti masih berusaha mencari tahu alasan kandungan kimia alami dalam makanan tersebut memiliki efek perlindungan pada otak. Jacques mengungkapkan, peneliti menduga bahwa makanan itu memiliki sifat anti-inflamasi guna mencegah peradangan pada otak.

"Tiga kelas bahan kimia alami (flavonoid) ditemukan dalam buah beri, teh (terutama teh hijau), apel, pir, bawang merah dan anggur merah tampaknya sangat bermanfaat," katanya.

Riset dilakukan terhadap 2.801 peserta dalam Framingham Offspring Study jangka panjang. Riset mengeksplorasi kesehatan ribuan penduduk di Framingham, Massachusetts.

Para peserta yang berusia di atas 50 tahun mendata semua makanan yang mereka konsumsi agar dapat dianalisis kandungan flavonoidnya. Para peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang mengindikasikan asupan flavonoid tinggi atau rendah.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA