Khutbah Idul Fitri 1441 H: Menggali Hikmah Dibalik Musibah

Red: Ani Nursalikah

 Selasa 19 May 2020 07:42 WIB

Khutbah Idul Fitri 1441 H: Menggali Hikmah Dibalik Musibah. Ketua PP Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad. Foto: Republika/Yogi Ardhi Khutbah Idul Fitri 1441 H: Menggali Hikmah Dibalik Musibah. Ketua PP Muhammadiyah Prof Dadang Kahmad.

Ketua PP Muhammadiyah menyampaikan khutbah Idul Fitri.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Prof Dr H Dadang Kahmad, Ketua PP Muhammadiyah

Baca Juga

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَلْـحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لاَنَبِيَّ بَعْدَهُ . وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ  نَبِيِّنَا مُحَمَّد وَعَلَى اَلِهَ وَ اَصْحَبِهَ وَمَنْ وَّالَاهُ اَمَّا بّعْدُ فَيَاعِبَدَاللهِ أُوْصِيْكُمْ وَأِيَّايَ بِتَقْوَى االلهِ حَقَّ تُقَاتِهِ فَقَدْ فَازَالْمُتَّقُوْنَ   قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ : يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ  

اللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ لآأِلهَ اِلَّااللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ.اللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ .اللهُ اَكْبَرُكَبِيْرًا وَالْحَمْدُاِللهِ كَثِيْرًا وَ سُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةَوَّاَصِيْلًا

Hadirin kaum Muslimin yang berbahagia, marilah kita panjatkan puji syukur ke Hadhirot Allah SWT, atas limpahan karunia-Nya yang tiada terhingga kita bisa berkumpul bersama, bersimpuh dihadapan Nya merayakan  iedul fitri, 1 Syawal 1441 H. Kita merayakan Iedul Fithri dalam suasana keprihatinan karena masih merebaknya wabah covid-19 di tengah tengah kita semua. Tapi walaupun demikian kita hendaknya tetap bersyukur atas segala karunia Allah SWT,   Kita bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup sampai detik ini, masih sehat wal afiat., masih bisa beraktifitas melaksanakan ibadah dan bersilaturahmi bersama keluarga dan handai tolan.

Sudah lebih  dari dua bulan sejak ditetapkanya negara kita dalam keadaan darurat corona dan kita  merasakan suasana keprihatinan yang luar biasa atas apa yang kita lihat maupun apa yang kita dengar serta kita rasakan. Sesuai dengan protocol kesehatan yang dikeluarkan oleh pemerintah di awal bulan maret, kita berusaha  menjaga diri dan orang lain dari ketularan virus yang berbahaya itu,  yaitu dengan mengadakan jarak social dan tinggal di rumah masing masing sampai masa darurat  selesai. Kita merasakan segala  kegiatan kita  terbatas,  sehingga ekonomi, pergaulan maupun melaksanakan peribadahan juga tidak bisa leluasa sebagaimana biasa.

Walaupun dalam keadaan terbatas, kita tetap melaksanakan ibadah dengan mengikuti tatacara yang ada dalam surat edaran PP Muhammadiyah yaitu kita  beribadah shalat di rumah saja. Karena selama darurat pandemic copid-19  dilarang untuk mengikuti peribadahan yang melibatkan banyak orang, makanya  dianjurkan untuk beribadah di rumah dengan tetap berjamaah bersama anggota keluarga yang terbatas. Termasuk pelaksanaan shalat iedul fitri seperti  yang kita lakukan sekarang ini. 

Hadirin yang berbahagia,

Dalam agama Islam diajarkan bahwa di setiap musibah  yang menimpa manusia ada hikmah kebaikan yang tersimpan di dalamnya. Sesuatu yang menimpa manusia baik suka  maupun duka tentu mempunyai  hikmah yang dapat diambil pelajaran bagi orang orang sabar dan beriman kepada Allah SWT. Sebagaimana maksud yang tercantum dalam   Firman Allah  dalam Surat Al Baqarah 216,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ – ٢١٦

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah: 216).

Oleh karena itu dalam menghadapi  musibah  wabah yang sedang melanda dunia sekarang walaupun  dirasakan  tidak menyenangkan, atau sesuatu yang dianggap buruk dan kebanyakan orang membencinya bahkan banyak yang stress karenanya dan  semua  berharap wabah ini cepat berlalu  dan bisa hidup normal kembali tentu ada hikmah yang besar jika bagi orang orang yang pandai mengambilnya. Berdasarkan kepada makna firman Allah dalam surat al Baqoroh 216 di atas, maka optimisme akan muncul dan  harapan baik akan kita dapatkan. Kita yakin  di balik musibah yang sangat memilukan ini ada beberapa pelajaran positif yang dapat kita gali sebagai ibrah bagi kita semua.

Pelajaran pertama, adalah kita merasakan makin dekat  dengan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang selama ini mungkin agak  terabaikan oleh kesibukan duniawi kita. Musibah  yang terjadi  sebagai peringatan dari Allah kepada manusia supaya mereka  kembali kepada kebenaran yang diajarkan Allah SWT. Dalam Al Quran Surat Arum 41 maupun Sajdah 21 Allah SWT menyatakan bahwa setiap musibah adalah peringatan kepada Manusia supaya mereka kembali. Kedua ayat tersebut di akhiri dengan kalimat “la’alahum yarjiun” yang artinya: supaya mereka kembali.

Saya sebut musibah pandemic Covid-19  sekarang sebagai peringatan kepada manusia. Sebab kehidupan manusia akhir akhir ini sungguh  sudah keterlaluan jika diukur dari ketentuan Allah SWT. Mereka sudah menjauhkan dirinya dari Tuhan bahkan melupakan-Nya. Dengan kemampuan manusia yang luar biasa  dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan mereka sombong dan meremehkan kekuasaan Tuhan. Karena kemampuan akal yang luarbiasa tersebut, kepercayaan kepada Tuhan semakin menipis bahkan mungkin sudah hilang sama sekali.

Jika kepercayaan kepada Tuhan sudah hilang, maka otomatis manusia tidak mengakui agama sebagai aturan Tuhan. Mereka  ciptakan sendiri aturan dan hukum menurut kebutuhan mereka sehingga timbul keadaan yang tidak singkron dengan hukum Allah.  Merebaknya kebohongan, melegalkan LGBT, kawin sesame jenis, hidup bersama di luar nikah serta menumpuk kekayaan dengan segala cara tanpa mengindahkan kemanusiaan serta berbagai penyimpangan lain dari kehidupan individu mereka.

Tetapi dengan munculnya wabah dan musibah, semua menjadi kalang kabut. Kesombongan yang mereka banggakan dalam kekuasaan politik, kekuatan ekonomi, kekuatan ilmu pengetahuan, hampir tidak berdaya. Tidak ada satu kekuasaan pun yang bisa menahan sakit dan kematian. Tidak ada satupun kekuatan ekonomi yang bisa bertahan. Bisnis yang dibanggakan menjadi lumpuh banyak saudagar bangkrut banyak pabrik yang gulung tikar, pengangguran di mana mana. Begitupun Ilmu pengetahuan tidak berdaya karena sampai hari ini belum ditemukan obat maupun vakcinnya sehingga tingkat kematian masih tetap tinggi. Dalam keadaan seperti itu seharusnya manusia  menyadari kelemahan dan kembali kepada Tuhan.

وَلَنُذِيْقَنَّهُمْ مِّنَ الْعَذَابِ الْاَدْنٰى دُوْنَ الْعَذَابِ الْاَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ – ٢١

Dan Kami bersumpah akan merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat sebelum azab yang lebih besar, mudah-mudahan mereka kembali.”(QS As Sajdah:21)

Pelajaran  yang kedua, adalah  hendaknya manusia semakin menyadari hakekat kehidupan di dunia ini,  harus meyakini bahwa hidup ini sementara, dan akan pulang ke negeri akherat. Dengan banyaknya korban meninggal hendaknya menjadi pelajaran bahwa hidup ini  Allah yang menentukan. Sebagaimana manusia hidup kedunia  atas kehendak dan ketentuan Allah begitu pula kematian atas kehendak dan ketentuan Allah. Atas kehendak Tuhan  manusia  lahir ke dunia dan dan atas kehendak Tuhan  pula kita akan kembali kepadaNya. Kapan dan dimana semua ada ada dalam taqdir Allah SWT

اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ࣖ – ٣٤

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Lukman :34)

Pelajaran ketiga adalah, hendaknya manusia  semakin punya kepedulian social yang tinggi, memperhatikan sanak saudara, handai tolan dan tetangga. Jika ada yang

kekurangan kita bantu semampu kita. Dengan banyaknya orang kehilangan mata pencaharian otomatis makin banyak orang yang kesusahan untuk makan. Dengan memberi pertolongan pada tetangga yang kesulitan maka makin sempurnalah keimanan kita kepada Allah SWT. “Tidak beriman seseorang jika dirinya kenyang tetapi tetangganya tidak bisa tidur karena kelaparan”. Murah hati adalah karakter orang orang sholeh terdahulu dan merupakan akhlak mulia yang terpuji. Dirahmati hidupnya diberkahi hartanya dan dimuliakan kedudukanya.

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (At-Taghabun:16)

 

 

Berita Lainnya

Play Podcast X