Thursday, 11 Zulqaidah 1441 / 02 July 2020

Thursday, 11 Zulqaidah 1441 / 02 July 2020

28 Juta Jadwal Operasi Elektif Buyar Sejak Pandemi Covid-19

Senin 25 May 2020 17:10 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda

Ruang operasi/ilustrasi. Selama pandemi, operasi elektif telah dibatalkan untuk mengurangi risiko pasien terpapar Covid-19 di rumah sakit

Ruang operasi/ilustrasi. Selama pandemi, operasi elektif telah dibatalkan untuk mengurangi risiko pasien terpapar Covid-19 di rumah sakit

Foto: pixabay
Pembatalan jadwal operasi menjadi beban berat bagi pasien.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sebuah studi mengungkap bahwa pandemi Covid-19 berpotensi menunda atau membatalkan lebih dari 28 juta operasi elektif di seluruh dunia. Jumlah itu berdasar pada terganggunya layanan rumah sakit selama 12 pekan karena Covid-19 di tahun 2020.

Studi pemodelan menunjukkan bahwa setiap satu pekan gangguan tambahan akan dikaitkan dengan 2,4 juta pembatalan lebih lanjut. Hasil studi itu diterbitkan dalam British Journal of Surgery.

"Selama pandemi Covid-19, operasi elektif telah dibatalkan untuk mengurangi risiko pasien terpapar Covid-19 di rumah sakit dan untuk mendukung respons rumah sakit yang lebih luas, misalnya dengan mengubah ruang operasi menjadi unit perawatan intensif," kata peneliti sekaligus Profesor Senior di University of Birmingham di Inggris, Aneel Bhangu.

Operasi elektif adalah suatu tindakan bedah yang dilakukan secara terjadwal dengan persiapan dan dilakukan pada pasien dengan kondisi baik, bukan kondisi gawat darurat. Menurut Bhangu, meski pembatalan operasi adalah opsi terbaik, namun pembatalan akan menjadi beban berat bagi pasien karena kondisi pasien dapat memburuk.

“Kalau kondisinya memburuk berarti kualitas hidup pasien juga bisa semakin buruk. Dalam beberapa kasus, misalnya, operasi kanker yang tertunda dapat menyebabkan sejumlah kematian," jelas Bhangu.

Untuk temuan ini, tim peneliti mengumpulkan informasi terperinci tentang rencana pembatalan operasi elektif dari ahli bedah di 359 rumah sakit di 71 negara. Data ini kemudian dimodelkan secara statistik untuk memperkirakan total operasi yang dibatalkan di 190 negara.

Para peneliti memproyeksikan bahwa di seluruh dunia 72,3 persen dari operasi yang direncanakan akan dibatalkan melalui periode puncak gangguan terkait Covid-19. Kebanyakan operasi yang dibatalkan adalah untuk kondisi non-kanker.

Di Inggris, National Health Service (NHS) juga telah menyarankan rumah sakit untuk membatalkan sebagian besar operasi elektif selama 12 pekan. Keputusan itu diprediksi berdampak pada 516 ribu pembatalan operasi, termasuk 36 ribu prosedur kanker.

Prosedur ortopedi termasuk operasi yang paling sering dibatalkan dengan 6,3 juta pembatalan operasi ortopedi di seluruh dunia selama periode 12 pekan.

"Setiap pekan tambahan gangguan terhadap layanan rumah sakit menghasilkan 43.300 operasi tambahan dibatalkan, sehingga penting bagi rumah sakit secara teratur mengecek situasi sehingga operasi elektif dapat dilanjutkan dan menjadi prioritas," kata salah satu peneliti Dr Dmitri Nepogodiev, dilansir Times Now News, Senin (18/5).

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA