Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Mengapa Allah Tetap Beri Ujian-Cobaan Meski Rajin Ibadah?

Ahad 17 May 2020 07:40 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Allah SWT tetap memberikan ujian pada hamba meski rajin beribadah. Berdoa/Ilustrasi

Allah SWT tetap memberikan ujian pada hamba meski rajin beribadah. Berdoa/Ilustrasi

Allah SWT tetap memberikan ujian pada hamba meski rajin beribadah.

REPUBLIKA.CO.ID, Mengapa orang yang sudah merasa dekat dengan Allah SWT dan melakukan ibadah sholat, puasa, dan amalan-amalan sunnah namun masih mendapat ujian, baik ringan hingga berat?

Baca Juga

Direktur Aswaja Center Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Ma'ruf Khozin, menjelaskan di pesantren dahulu kita sudah diingatkan oleh para kyai dan guru dengan sebuah ayat:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ 

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?"  (QS Al- 'Ankabut: 2) 

Mengapa kita yang sudah beribadah masih diuji? Kiai Ma’ruf Khozin menukilkan pendapat Imam Al Qurthubi, yaitu alasannya sebagai berikut: 

ليتبين الصادق منهم والكاذب

Agar menjadi jelas siapa yang benar-benar beribadah dan yang berpura-pura.

Sehingga dijelaskan dalam beberapa hadits bahwa Rasulullah SAW bersabda:

ﺃﺷﺪ اﻟﻨﺎﺱ ﺑﻼء اﻷﻧﺒﻴﺎء ﺛﻢ اﻷﻣﺜﻞ ﻓﺎﻷﻣﺜﻞ ﻳُﺒْﺘَﻠﻰ اﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻋﻠﻰ ﺣَﺴَﺐِ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﻓﺈِﻥْ ﻛﺎﻥَ ﻓِﻲ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﺻُﻠْﺒﺎً اﺷْﺘَﺪَّ ﺑَﻼﺅُﻩُ ﻭﺇﻥْ ﻛﺎﻥَ ﻓِﻲ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﺭِﻗَّﺔٌ اﺑْﺘُﻠِﻲَ ﻋﻠﻰ ﻗَﺪْﺭِ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﻓَﻤﺎ ﻳَﺒْﺮَﺡُ البلاء ﺑﺎﻟﻌَﺒْﺪِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳَﺘْﺮُﻛَﻪُ ﻳَﻤْﺸِﻲ ﻋﻠﻰ اﻷَﺭْﺽِ ﻭَﻣَﺎ ﻋﻠﻴﻪِ ﺧَﻄِﻴﺌَﺔٌ (ﺣﻢ ﺧَ ﻧ ﻫـ) ﻋﻦ ﺳﻌﺪ.

"Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang di bawahnya, kemudian di bawahnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai tingkat agamanya. Jika keyakinan agamanya kuat maka berat pula ujiannya. Jika keyakinannya lemah maka sesuai dengan keyakinan agamanya. Ia akan terus diberi ujian hingga ujian sudah meninggalkan dia berjalan di atas bumi dalam keadaan tidak memiliki kesalahan" (HR Ahmad, Bukhari, Nasa'i, dan Ibnu Majah dari Sa'ad)

Ibaratnya, menurut Kiai Ma’ruf,  tingkat kesulitan ujian hidup yang dialami kyai tidak sama dengan santri. Beban masalah yang dipikul konglomerat jauh lebih berat dari pada pekerja biasa. Dan seterusnya. 

“Saat kita beribadah dan menemukan ujian hidup, musibah, problematika apapun jangan menghalangi kita untuk beribadah kepada Allah,” ujar dia. 

 

 

 

sumber :
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA