Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

Saturday, 7 Syawwal 1441 / 30 May 2020

UMM: Orang Tua Jadi Pengganti Guru Saat Anak Belajar Daring

Ahad 17 May 2020 06:22 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Nur Aini

Orang tua diminta meluangkan waktu untuk menemani anak belajar (Foto: ilustrasi anak belajar di rumah)

Orang tua diminta meluangkan waktu untuk menemani anak belajar (Foto: ilustrasi anak belajar di rumah)

Foto: ANTARA /M Agung Rajasa
Guru diminta tidak kaku dalam memberikan pelajaran secara daring.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Orang tua dinilai memiliki peran strategis dalam pembelajaran daring anak selama pandemi Covid-19. Mereka menjadi salah satu penjamin kesuksesan belajar anak selama di rumah.

Baca Juga

Kepala Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Profesi Guru (PPG), Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Trisakti Handayani menyatakan, peran penting dalam pembelajaran anak membuat orang tua harus tanggap. Mereka harus peka dan selalu aktif melakukan komunikasi dengan guru. "Tidak hanya menjadi penyedia teknologi pendukung pembelajaran, mereka akan menjadi pengganti guru di rumah," kata Trisakti, belum lama ini.

Orang tua dinilai harus benar-benar menjalankan peran edukator anak di rumah. Orang tua di sini berarti ibu dan ayah memiliki peranan serupa. Kekompakan keduanya penting dilakukan agar beban dan stres anak dapat terhindarkan selama belajar daring.

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMM menyelenggarakan Webinar Nasional yang dikemas Ngobrol Bergizi Bareng Srikandi bertema "Asesmen ramah saat belajar di/dari rumah", beberapa waktu lalu. Acara yang diikuti kurang lebih 550 peserta dari seluruh Indonesia ini menghadirkan empat pembicara. Selain Trisakti Handayani, adapula Endang Poerwanti, Ribut Wahyu Erliyanti dan Fardini Sabilah.

Dekan FKIP UMM, Poncojari Wahyono mengungkapkan, pemilihan tema berdasarkan permintaan khalayak mengenai pentingnya asesmen atau penilaian yang ideal dalam pembelajaran daring. Sebab, guru dan sekolah acap tidak memiliki pilihan yang tepat bagaimana menilai peserta didik karena mereka tidak siap dan kurang memiliki pengalaman. 

Pandemi Covid-19 menuntut guru melakukan penilaian yang benar, otentik, dan valid. Di sisi lain, mereka harus tetap menghargai usaha peseta didik dan berbagai kendala yang dihadapi para orang tua dan siswa. Oleh sebab itu, FKIP UMM menyajikan diskusi bersama para pakar asesmen otentik untuk memecahkan hal tersebut.

Pembicara Endang Poerwanti dalam paparannya menegaskan, guru seharusnya tidak lupa kondisi darurat pandemi yang tengah terjadi. Hal itu berarti guru tidak boleh terlalu kaku dalam memberikan penilaian. Banyak teknik, pilihan cara, dan pendekatan penilaian yang dapat dilakukan guru. 

Endang tak menampik, teknologi sudah sangat membantu para guru dalam melaksanakan pembelajaran dan penilaian. Namun, guru diharapkan tidak menyusahkan peserta didik dan orang tuanya. "Atau malah karena terlalu susah, atau melenceng dari kaidah, maka melenceng. Misalnya, malah orang tuanya yang mengerjakan tugas," ujarnya.

Pada kenyataannya, kata Endang, saat ini banyak orang tua mengeluh dan protes atas metode pengajaran guru. Tagihan tugas dari guru tidak logis karena diberikan tiap hari. Padahal waktu mengerjakannya sangat singkat dan tidak sesuai level umur peserta didik.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA