Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Proyek Cryptocurrency Facebook Kini Didukung BUMN Singapura

Sabtu 16 May 2020 05:36 WIB

Rep: wartaekonomi.co.id/ Red: wartaekonomi.co.id

Meski Ditinggal Banyak Partner, Proyek Cryptocurrency Facebook Kini Didukung BUMN Singapura. (FOTO: REUTERS/Dado Ruvic)

Meski Ditinggal Banyak Partner, Proyek Cryptocurrency Facebook Kini Didukung BUMN Singapura. (FOTO: REUTERS/Dado Ruvic)

Meski Ditinggal Banyak Partner, Proyek Cryptocurrency Facebook Kini Didukung BUMN Singapura

Warta Ekonomi.co.id, Bogor

Organisasi pendukung mata uang digital Facebook, Asosiasi Libra, baru saja mencatatkan tiga anggota baru. Temasek Holdings milik Pemerintah Singapura jadi salah satu member terbaru itu.

Sementara itu, dua anggota baru lainnya ialah firma investasi mata uang kripto Paradigm dan grup ekuitas swasta Slow Ventures asal Amerika Serikat (AS).

"Penambahan tiga anggota baru ini menunjukkan komitmen kami untuk membangun beragam kelompok organisasi yang akan berkontribusi dalam tata kelola, roadmap teknologi, dan kesiapan peluncuran sistem pembayaran Libra," ujar Wakil Ketua Asosiasi Libra, Dante Disparte, dikutip dari KrAsia, Jumat (15/5/2020).

Baca Juga: Pesan WhatsApp Bisa Di-Schedule Loh, Begini Triknya! Catat Ya!

Baca Juga: China Tengah Uji Coba Yuan Digital, Mengapa dan untuk Apa? Begini Kata Peneliti

Tahun lalu, Facebook memperkenalkan Libra sebagai sistem pembayaran digital alternatif, yang awalnya direncanakan sebagai token tunggal seperti Bitcoin.

Namun, berbagai regulator global khawatir, Libra akan memanfaatkan basis pengguna Facebook yang sangat besar sehingga akan mengurangi otonomi moneter bank-bank sentral dunia.

Bahkan, sejumlah perusahaan besar yang awalnya tergabung dalam asosiasi memutuskan menarik diri; seperti Visa, Mastercard, eBay, Stripe, dan PayPal.

Pada akhirnya, Facebook mempersempit inovasinya itu. Perusahaan merencanakan pendekatan yang lebih tradisional, menggunakan sejumlah koin digital yang berkaitan dengan mata uang yang telah ada, seperti dolar AS.

Para ahli mengklaim, skema baru itu akan lebih mudah disesuaikan dengan kerangka moneter, keuangan, peraturan domestik, dan tak mengancam otonomi moneter yang telah berlaku.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA