Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Sunday, 8 Syawwal 1441 / 31 May 2020

Apa Orang Berhutang Berhak Mendapat Zakat?

Sabtu 16 May 2020 04:20 WIB

Red: Gita Amanda

Apa Orang Berhutang Berhak Mendapat Zakat?
Konsultasi Oleh:
Tidak semua orang yang punya utang dapat dikategorikan ke dalam deretan al-gharimin

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Salam pembaca, mulai pekan ini dan selama bulan Ramadhan, redaksi akan menayangkan tanya jawab seputar zakat bersama Bapak Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM, selaku Ketua Dewan Penasehat Syariah Dompet Dhuafa.

Pertanyaan:

Assalamualaikum wr wb

Ustaz, saya ingin bertanya mengenai mustahik zakat, yaitu ‘al-gharimin’ atau orang yang berhutang. Apakan benar semua orang yang berhutang termasuk mereka yang berhak mendapatkan harta zakat? Jika benar, betapa banyak orang yang berhutang. Bukankah rumah, kendaraan bahkan banyak benda-benda kecil seperti handphone saat ini dapat kita beli dengan sistem mencicil alias kredit? Golongan mustahik zakat seperti apakah yang berhak menerima zakat?

Lukman Hakim, Lamongan

Jawab:

Alaikumussalam wr wb

Tidak semua orang yang punya utang dapat dikategorikan ke dalam deretan al-gharimin yang karenanya maka automatically menjadi mustahik dan karenanya lalu boleh dibayar/dilunasi utangnya dengan dana zakat Sebagaimana termaktub dalam Alquran (surat al-Taubah (9): 60).

Ada beberapa kriteria yang menyebabkan seseorang boleh dikategorikan ke dalam al-gharimin, yang Anda bisa membacanya dalam ruang konsultasi ini ketika menjawab pertannyaan lain yang serupa atau bahkan sama dengan yang Anda tanyakan.

Untuk orang-orang yang memiliki utang semata-mata karena kredit untuk kepentingan harta yang kelak akan dia miliki seperti kredit rumah, kendaraan, dan lain-lain sebagaimana banyak terjadi di masyarakat kita dewasa ini, maka itu tidak serta merta menjadi al-gharimin yang berhak menerima dana zakat untuk membayar/melunasi utangnya. Sebab, selain yang bersangkutan masih tetap tergolong ke dalam deretan oang-orang yang mampu  dalam pengertian masih memiliki harta, juga mengingat semua yang dia kredit itu pada akhirnya akan menjadi hak milik pribadinya begitu kredit dinyatakan lunas. Malahan, dia dikenai wajib bayar zakat atas harta kekayaan yang dimilikinya itui, terutama kalau harta yang dia kredit itu bersifat produktif.

Demikian jawabannya Lukman, semoga mudah dipahami dan diindahkan. Terima kasih.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA